Di antara semua yang kamu terima,
uang
kesempatan
kenyamanan
yang paling mahal justru hal yang tidak terlihat:
- cara kamu melihat manusia tanpa merendahkan
- cara kamu hidup tanpa berlebihan
- dan rasa syukur yang tidak bergantung pada jumlah
Suka banget sama kalimat ini;
Apa yang kamu anggap sebagai keterlambatan, bisa jadi cara tuhan untuk menyelamatkanmu dari sesuatu yang belum siap kamu hadapi.
Memasuki umur 25–30 itu aneh.
Nggak muda banget.
Belum juga benar-benar mapan.
Teman ada yang sudah nikah.
Ada yang kariernya naik cepat.
Ada yang keliling dunia.
Dan kamu?
Di umur ini, realita mulai nggak bisa ditunda.
Orang tua makin menua.
Teman makin sibuk.
Lingkaran makin kecil.
Kadang capeknya bukan karena kerjaan.
Tapi karena tekanan yang nggak kelihatan.
Tapi justru di 25–30, kamu mulai sadar:
hidup bukan soal kelihatan pencapaian udah punya sesuatu, tapi soal bisa hidup stabil dan juga tenang.
Nggak apa-apa kalau belum di puncak.
Yang penting kamu sudah lebih bijak dari umur 20.
Dan itu jauh lebih dewasa.
Approve sama kalimat ini :
"Hiduplah dengan baik dan tenang. Hiduplah sebahagia mungkin. Carilah apa yang membuatmu bahagia dan hargai setiap detik kebahagiaan itu.
Jadilah manusia yang memanusiakan manusia. Mulai sekarang, utamakan diri sendiri. Love yourself first, before loving someone else."
Orang-orang yang benar-benar mengerti arti berproses, akan selalu menghargai setiap hal yang berhasil mereka capai. Sebab mereka tahu, bagaimana rasanya menangis sendirian di jalan panjang yang pernah mereka lewati.
Kadang semangat tak selalu hadir di awal langkah. Tetaplah berusaha, karena semesta tahu kamu sedang berjuang.
Hari ini mungkin berat, tapi setiap tetes keringat sedang menulis cerita suksesmu. 💪✨🌻
Selamat pagi, #SahabatKAI!
#JumatBerkah#KAI121
Support photo 🙏🏼: ahmad_kosasih94_real (IG)
Menjalin hubungan yang sehat itu sama-sama sadar: Hidup ini nggak selalu tertawa gembira, adakalanya sedih menderita.
Tapi meski hidup ini menderita, saling ingin mengalaminya berdua.
Hubungan itu nggak selalu hore. Kadang ya tersusun atas momen yang biasa-biasa aja.
“Aku” terpisah dengan “kamu”.
“Kelompokku” beda dengan “kelompokmu”.
“Aku” terpisah dengan Tuhan.
Itu karena pikiran menciptakan gambaran tentang “aku”. Pikiran menciptakan jarak, keterpisahan, polarisasi, fragmentasi antara “aku”, “kamu”, dan Tuhan.
"Aduh ga ngerti politik, ga mau ikut-ikutan"
Let me tell you, bersih atau kotornya udara yang kalian hirup setiap detiknya itu tergantung politik.
Bawang, cabe, sayur ada atau engga di dapur kalian itu tergantung politik.
Kalian masih hidup atau engga itu tergantung politik.