Tiga tahun ini, saya mengikuti perkembangan dunia. Terlebih dinamika global bulan-bulan terakhir ini.
Sebagai seseorang yang puluhan tahun memperhatikan dan mendalami geopolitik, perdamaian dan keamanan internasional, serta sejarah peperangan dari abad ke abad, terus terang saya khawatir. Cemas dan khawatir kalau sesuatu yang buruk akan terjadi. Cemas kalau dunia mengalami prahara besar. Apalagi kalau prahara besar itu adalah Perang Dunia Ketiga.
Sangat mungkin Perang Dunia Ketiga terjadi. Meskipun, saya tetap percaya hal yang sangat mengerikan ini bisa dicegah. Tapi, day by day, ruang dan waktu untuk mencegahnya menjadi semakin sempit. Situasi dunia menjelang terjadinya Perang Dunia Pertama (1914-1918) dan Perang Dunia Kedua (1939-1945) memiliki banyak kesamaan dengan situasi saat ini. Misalnya, munculnya pemimpin-pemimpin kuat yang haus perang, terbentuknya persekutuan negara yang saling berhadapan, pembangunan kekuatan militer besar-besaran termasuk penyiapan ekonomi dan mesin perangnya, serta geopolitik yang benar-benar panas. Sejarah juga mencatat, bahwa meskipun sudah ada tanda-tanda nyata bakal terjadinya perang besar, tetapi sepertinya kesadaran, kepedulian, dan langkah nyata untuk mencegah peperangan itu tidak terjadi. Mengapa?
Mungkin bangsa-bangsa sedunia tidak peduli, atau tidak berdaya, atau mungkin tidak mampu untuk mencegahnya. Secara pribadi saya berdoa kepada Tuhan, semoga mimpi buruk terjadinya perang dunia disertai penggunaan senjata nuklir itu tidak terjadi. Banyak studi yang mengatakan bahwa jika terjadi perang dunia, perang total dan perang nuklir, maka kehancuran dunia tak bisa dihindari. Korban jiwa bisa mencapai lebih dari 5 milyar manusia. Tidak ada peradaban yang tersisa dan musnahnya harapan manusia.
Tapi tidak cukup dengan doa satu, dua orang. Andaikata 8,3 milyar manusia penghuni bumi juga berdoa secara khusyuk, Tuhan tak begitu saja mengabulkan kalau manusia dan bangsa-bangsa sedunia tidak bekerja dan berupaya untuk menyelamatkan dunianya.
Sesempit apa pun, masih ada waktu dan cara untuk menyelamatkan bumi dan dunia kita. Mari kita berbicara dan berupaya. Ingat kata-kata Edmund Burke dan Albert Einstein yang intinya mengatakan bahwa kehancuran dunia bukan disebabkan oleh orang-orang jahat, tetapi karena orang-orang baik membiarkan orang-orang jahat menghancurkan dunia. Atau juga, kalau yang baik-baik diam, yang jahat akan menang.
Saran dan usulan saya, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengambil inisiatif mengundang para pemimpin dunia untuk berembuk di Persidangan Umum PBB yang sifatnya darurat (Emergency UN General Assembly). Agendanya adalah langkah-langkah nyata untuk mencegah terjadinya krisis dunia dalam skala yang besar, termasuk kemungkinan terjadinya perang dunia yang baru.
Saya tahu, boleh dikata saat ini PBB tidak berdaya dan tidak berkuasa. Tetapi, janganlah sejarah mencatat PBB melakukan pembiaran dan juga doing nothing.
Mungkin saja, seruan para pemimpin sedunia itu “bagai berseru di padang pasir”. Artinya, tak akan diindahkan. Tetapi, mungkin juga itu awal dari kesadaran, kehendak, dan langkah-langkah nyata dari bangsa-bangsa sedunia untuk menyelamatkan dunia yang kita cintai ini. Ingat, if there is a will, there is a way. *SBY*
Sdh 3 hari air PAM di rmh kami mati. Lokasi Villa Taman Bandara, Dadap. Apa penyebabny @perumdamtkr tolong atasi hal ini segera. krn sumber air kami hanya ini, dan ini merugikan krn setiap hari selalu ada biaya ekstra utk beli air. cc @RadioElshinta
Kedaulatan rakyat sesuai dengan Sila Ke4 Pancasila, "Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan". Kedaulatan tertinggi ada pada rakyat, di mana pemerintah Indonesia harus mengutamakan kepentingan rakyat. #kedaulatanrakyat
Valid ini permainan provokasi. Terlalu kebaca.
1. KPI rilis surat larangan aksi demo disiarkan di TV.
2. Tiba-tiba TV nyiarin cuma soal halte dibakar.
3. Pendemo asli ngga punya urgensi ngebakar halte. Buat apa?
4. Api sebesar & semerata itu arson. Butuh alat dan akselerator.
🚨Protests Erupt in Indonesia.
In Jakarta thousands have been protesting against corruption and exploitation:
🚔 At least one civilian was killed after being run over by a Brimob vehicle
📢 Students are demanding an end to lawmakers’ obscene privileges — housing allowances worth 50M rupiah a month while ordinary people struggle to survive.
✊ Workers are on the streets, calling for an end to outsourcing and fighting for dignity, fairness, and protection on the job.
🚔 The government responds with tear gas, water cannons, and repression, but the people refuse to be silenced.
📱 Authorities are even pressuring social media platforms to censor voices of dissent.
The protests aren’t just about allowances or outsourcing. It’s about justice. It’s about ordinary Indonesians saying enough is enough.
Turut berduka atas kejadian menyedihkan yang barusan terjadi
Videonya tersebar luas di mana2.
Sangat menyedihkan.
Semoga hal ini segera diinvestigasi.
Karena kejadian pelindasan itu sangat2 kejam.
Turut berduka sekali lagi untuk keluarga korban.
Buat apa jumlah anggota DPR banyak sampai ratusan,toh rakyat tdk makmur aspirasi rakyat juga tdk sampai. Seharusny cukup beberapa puluh orang sj mewakili tiap propinsi utk beberapa komisi, agar anggaran tidak habis hanya untuk wacana & rapat2 yang tdk terasa hasilnya utk rakyat.