Mitos Korban yang Sempurna - Pembacokan Mahasiswi Riau
The Perfect Victim Theory: konsep kriminologi & feminisme yang menjelaskan bagaimana masyarakat (termasuk sistem hukum, media, & opini publik) cenderung percaya atau memberikan simpati penuh kepada korban kekerasan/kriminalitas yang memenuhi kriteria sempurna atau ideal. Konsep ini diperkenalkan oleh sosiolog Norwegia, Nils Christie pada 1986 dalam esainya "The Ideal Victim".
Teori ini menjadi mitos karena konsep ini bukan aturan ilmiah mutlak, melainkan konstruksi sosial yang kaku, subjektif, & berbahaya yang sering digunakan untuk membenarkan penyalahan korban serta membatasi simpati & dukungan hanya pada korban yang ideal.
Mitos bahwa korban harus memenuhi standar ideal tertentu, seperti lemah, rentan, miskin, pakaian sopan, tidak punya relasi dengan pelaku, perempuan, melawan secara fisik, melapor segera, ingatan jelas, tidak mabuk, dll agar dianggap sah sebagai korban dan mendapat dukungan masyarakat/hukum. Jika yang terjadi sebaliknya, maka tidak dianggap sebagai korban atau ikut berkontribusi atas kekerasan yang terjadi. Ini mitos berbahaya karena kaku, subjektif, & tidak berpihak pada korban.
Kasus pembacokan mahasiswi di Riau kemarin menjadi salah satu contoh bagaimana teori/mitos ini bekerja dalam masyarakat Indonesia ketika muncul rumor/fakta tentang hubungan spesial antara pelaku & korban.
Korban sempurna harus tidak bersalah sama sekali. Rumor/fakta hubungan spesial, selingkuhan, dll langsung memicu victim blaming. Membuat korban tidak dianggap ideal sehingga simpati berkurang, cerita korban diragukan, & fokus bergeser ke kesalahan korban daripada perbuatan pelaku.
Mitos ini melanggengkan budaya patriarki, di mana korban non-ideal mengalami viktimisasi sekunder, trauma tambahan dari gosip, julid, viral medsos, atau aparat yang ragu saat proses hukum nanti. Kasus dengan narasi cinta buta atau plot twist selingkuhan bisa mengaburkan fakta kekerasan berbasis gender, bahkan percobaan femisida sadis & brutal kemarin.
Sumber @konde_co@_perEMPUan_ :
- https://t.co/nRlgiwxmY1
- https://t.co/ZY4UO1vFUO
Baca komentar ini, banyak yang berkomentar introvert tuh gini gitu, aku introvert gak gini deh, introvert ini introvert itu, padahal ya banyak orang keliru mengaitkan kasus seperti ini dengan label “introvert”, padahal secara psikologi introvert bukanlah masalah perilaku.
Konsep introvert yang diperkenalkan oleh Carl Jung menjelaskan bahwa introversi adalah tipe kepribadian yang cenderung mendapatkan energi dari waktu sendiri, lebih nyaman dalam interaksi yang mendalam, dan tidak selalu ekspresif secara sosial. Itu soal cara seseorang mengisi ulang energi bukan faktor yang membuat seseorang menjadi berbahaya.
Dari kronologi Reyhan ini, sebenernya yang terlihat bukan sekadar “pendiam”, melainkan adanya attachment issue, kurangnya rasa percaya diri, kesulitan menerima batasan, dan ketidakmampuan mengelola penolakan. Ini lebih berkaitan dengan emotional immaturity, bukan dengan introversi itu sendiri. Banyak introvert yang dewasa secara emosional mampu menerima penolakan dengan baik, sama seperti banyak ekstrovert yang juga bisa bersikap posesif jika tidak matang.
Jadi yang perlu dikritisi bukan tipe kepribadiannya, melainkan bagaimana seseorang memproses rasa ditolak dan mengendalikan emosinya. Jangan sampai kita menyederhanakan masalah serius ini dengan menggarisbawahi “introvert”.
Hidup dgn gangguan jiwa di Indonesia:
1. Ke psikiater = gila
2. Depresi = kurang iman
3. Anxiety = banyak drama
4. Ke psikolog = lemah
5. Bipolar = kepribadian ganda
6. Skizofrenia = gangguan jin
I am intrigued by everyone’s pushback against someone who is dying having agency over how they want some of their last moments shared.
This isn’t TMZ where this is being *leaked* without their or their family’s consent. These people had teams, lawyers, and again, agency. Netflix is paying them, which goes to their estate to help their family after their deaths.
Am I wrong for thinking there's nothing wrong or unethical about this? Genuine question.
@Kelly_Klarson_@pikesrina No, he was serving at platinum dragon's temple in zadash & after what nott & jester did, he was thrown by the temple & become a follower of Asmodeus