@NarasiVisual Betul, itulah yang saya bilang dengan riset lebih banyak sebelum berangkat. Sayangnya banyak yang tidak melakukan itu jadi berangkat dengan keadaan buta dan mabuk iming-iming aja tanpa tau pro-kontra nya lebih dalam. Alhasil pas sampai jepang, shock nya bukan cuma cultural doang.
@NarasiVisual Ya memang statement saya agak terdengar pukul rata sih haha. Memang ada kasus-kasus lain juga, cuma saya lumayan sering denger dari yang suka bilang "ah ternyata di jepang begini begitu" itu akar masalahnya berawal dari termakan iming-iming gaji besar. Maaf kalau gak sesuai 🙏
Orang main pokeca yang gak fun, cemberut, gak menjalin interaksi menyenangkan sama lawan main tuh ngapain sih? Gue paham kalo misalnya levelnya udah high-stakes tournament, nah ini sekelas gym battle doang...
I came here to have fun...
@kudanielbintik Jadi yang tertangkap itu pertanyaan yang cenderung teknis memang. Wajar kalau jawabannya begitu.
Kalau sedari awal pertanyaannya udah "mengapa matahari HARUS bersinar?" baru persepsinya terdengar filosofis. Mungkin jawabannya pun akan beda karena yang tertangkap juga beda.
@kudanielbintik Tapi menurut hemat saya (asik), buat spesifik contoh itu tuh gak salah gak sih?
Karena yang tertangkap dari pertanyaan tersebut cenderung "mengapa [akibat]?" maka jawabannya "karena [sebab]"
"Time... So little time... Or maybe I have unknowingly spent all of mine that I don't realize I've run out of it already..."
Ballad of Boulderjack, page 157
@bunburyoudoujp It's very common in indonesia. Even if an indonesian has a last name e.g. Budi Santoso, that "Santoso" might not be a family name, as in his father might have a totally different last name.
People like me who have a proper given name-family name pattern ARE the minority haha.