Punya empati besar tuh ga melulu enak, cenderung disepelekan.
Sama halnya dengan kebaikan yang disalahgunakan.
Memang harus bijak-bijak kelolanya.
Orang lain bisa gampang ngomong
"Udahlah nggak usah dipikirin”
atau
“Energinya sayang banget terbuang sia-sia buat ngurusin itu"
Kita yang punya empati tinggi juga maunya begitu,
tapi tiap mau nolong, seringnya hal-hal yang di luar kuasa.
Kalo nggak ditolong, blundernya luar biasa.
Mending kalo yang rugi diri sendiri, kalo yang rugi kita-kita juga, apa ga kesel preventifnya diabaikan?
Bukan karena control freak yang pengen mengendalikan hidup orang lain, tapi paham ga sih karena terkadang satu keputusan yang lalai atau ceroboh bisa menjadi beban bagi banyak orang? Jujur, mental draining banget.
Some dramas were never mine to carry, yet somehow I end up carrying their weight and this is so unfair.
Bisnis tumbang bukan selalu karena kompetitor. Kadang, justru karena:
1. Staff yang males tapi jago acting sibuk.
2. Keuangan bocor halus, tapi rutin.
3. SOP ada, tapi cuma jadi pajangan.
4. Semua urusan masih nempel di owner, gak bisa jalan sendiri.
5. Keputusan bisnis diambil dari perasaan, bukan dari data.
Serangan dari luar? Bisa dihadapi.
Serangan dari dalam? Silent killer.
Makes sense ya.
Tidak ada rahasia besar untuk sehat mental.
Kurangi screentime. Unfollow akun-akun ngga penting. Kerjakan urusan yang tertunda. Habiskan waktu bersama orang terdekat. Putuskan hubungan yang membebani. Buka kesempatan akan hal-hal baru. Temui profesional kalau perlu.
That’s it.
Melahirkan manusia baru ke dunia tapi:
- tdk memenuhi kebutuhannya lahir batin
- tdk mendukung bakat & cita2nya
- tdk membekalinya untuk menjadi manusia yg berfungsi optimal dan bermanfaat bagi dunia