Jadi inget ustadz saya waktu sekolah madrasah dulu dia bilang kurang lebih gini:
"Tugas saya bukan bikin kalian bersih dari dosa, tapi supaya kalian nggak mewajarkan atau malah berbangga atas dosa yang dilakukan."
Saya pas usia SD saat itu mikirnya "emang ada orang bangga sama dosanya? Aneh banget."
Pas udah dewasa baru ngeh kalau itu tuh bisa dan sudah terjadi. 🥲
Gue nemu harga bensin di Amerika langsung dari foto pompa bensin beneran.
Terus gue bandingin sama Pertamax Indonesia yang baru naik.
Hasilnya agak mencengangkan:
Pertamax RON 92 Indonesia sekarang: Rp16.250/L
Bensin setara di Amerika?
Louisiana: Rp17.862/L
Texas: Rp17.391/L
California: Rp28.158/L
New York: Rp21.299/L
Tapi tunggu dulu.
Kalau masukin faktor gaji minimum, ceritanya jadi makin brutal.
SUMPAAAAH LO SEMUA PENGGEMAR BOLAAA COBA MAIN INI. DIJAMIN KETAGIHANNN WKWKW
INTINYA LU BIKIN SQUAD DRAFT GITU DAN KALO MAU MENANG LO HARUS 38 KALI WIN TANPA KALAH
LANGSUNG AJA BROO
Jujur The Guardian keren banget sih.
Mereka nyediain panduan Piala Dunia 2026 secara lengkap dan gratis cooy.
Gokil sih setiap 48 negara dan total 1.248 yang ikut World Cup dibahas satu-satu secara mendetail. Kita bisa lihat setiap pemain kunci sampai kelebihan + kekurangan tim
Sebelum berangkat sekolah, Lensa Olahraga sama Sport7.
Malemnya Metrosport yg dibawakan oleh Boy Noya.
Sabtu pulang sekolah, Galeri sepakbola Indonesia, One stop football, terus Kampiun di Antv lanjut nonton ISL bersama bung Hardimen Koto 😎
Bagi para pendukungnya, pelatih sepak bola yg dahsyat adalah pemimpin spiritual yg bisa sangat dicintai dari lubuk hati terdalam.
Sebab ia memberikan kebahagiaan kolektif yg murni, memberikan kekuatan pd identitas, memberikan kenangan2 emosional yg luar biasa..
@PaundraJuve Curiga juve nih jd tempat cuci duit. mulai fishy dari jaman arthur-vidal & danilo-cancelo transfer. Koop dan openda ini gong nya. Juve oh Juve
Ada hot takes menarik dari pidato Pak Anies dan menjawab pertanyaan saya tentang “gimana cara survive di sistem yang jelek?”
PNS dan CPNS, apa kabar kalian? Masih kuat ga di rezim yg awikwok ini 👀
Jadi kata Pak Anies, bikin lah 3 jangkar supaya kita gak larut dalam sistem yg jelek
1. Jaga lingkar sahabat terdekat sebagai cermin. Kalo cermin ga ada kita kehilangan pengetauan tentang rupa kita sendiri.
2. Jaga waktu untuk membaca supaya tau dunia yg ada di luar kantor kita. Baca itu cara paling gampang dan murah buat “jalan-jalan”
3. Ingat alasan dulu masuk ke sistem itu karena apa. Tulis di kertas. Posisi bisa berubah tp prinsip hrs dipegang terus lintas waktu.
Semua solusinya emang personal. Tapi ya that’s the best we can do sambil berdoa semoga suatu saat semua sistem berjalan sesuai idealnya.
It’s like giving Koopmeiners another chance after two poor seasons. Sometimes it simply doesn’t work out for a player regardless of his quality. I still believe both Koop & Douglas Luiz are very good players who can succeed elsewhere, but at Juventus it just hasn’t worked.
Setiap ada yg bilang fiksi ga nambah pinter, biasanya yg dimaksud pinter cuma 'mendapat wawasan baru'. Padahal,
- dapat banyak kosakata baru
- kemampuan imajinasi berkembang
- mempertajam emotional quotient (EQ)
- nemu ide utk menyikapi masalah
ya masuknya nambah pinter juga.
Juve Saatnya Menoleh ke Samurai Biru
Sejak Juventus kalah di Final Cardiff melawan Real Madrid pada 2017, ada sesuatu yang patah di dada saya. Mental nobar pelan-pelan hilang, jantung saya melemah, dan setelah saat itu saya putuskan untuk jadi fans lemah berbasis highlight livescorer saja.
Dan kekalahan 0-2 dari Fiorentina semalam, jelas bukan hidup yang sederhana menurut definisi Juventini. Apalagi 2026 ini, tahun yang saya curigai dirancang khusus untuk menguji kesabaran pendukung sepak bola Italia. Pertama, Italia gagal Piala Dunia untuk ketiga kalinya berturut-turut, kalah adu penalti 1-4 dari Bosnia-Herzegovina di Zenica. Kedua, Juventus terlempar dari empat besar Serie A. Tidak ada Liga Champions musim depan, tidak ada pemasukan UCL untuk menambal FFP 70% SCR, tidak ada panggung Eropa buat menjual gengsi.
Salihamidzic mengingatkan bahwa Juventus selalu menjadi semacam termometer sepak bola Italia. Kalau Juve demam, timnas masuk UGD. Sekarang termometernya bukan sekadar demam, tapi sudah menyentuh 40 derajat. Tapi sebelum kita berlarut-larut menyalahkan keadaan, izinkan saya mengingatkan satu hal yang sering kita lupa. Juventus ini punya DNA bangkit. Mereka pernah lebih hancur dari ini, dan mereka selalu kembali sempurna.
Tengok 8 November 1998 di Stadio Friuli, Udine. Del Piero, di puncak emas karirnya pada usia 23 tahun, jatuh dengan kaki terlipat di menit ke-92. Diagnosa: robekan ligamen dan posterior sekaligus, sembilan bulan absen. Tanpa kaptennya, Juve langsung terjerembab ke peringkat tujuh. Tim yang baru saja tiga kali beruntun ke final Liga Champions mendadak harus bermain di Intertoto.
Lalu datang bencana yang lebih besar: Calciopoli 2006. Juventus dijatuhkan ke Serie B, dua scudetto dicabut. Para bintang angkat koper. Yang tinggal segelintir nama, Del Piero, Buffon, Nedved, Trezeguet, yang memilih turun ke divisi dua dengan kepala tegak. Del Piero menjadi top scorer Serie B, mengangkut Juve langsung promosi, dan menjadikan dirinya bukan sekadar bintang, melainkan jiwa klub. Hasilnya kita semua tahu: Juventus kembali ke Serie A dalam semusim, menjelma raksasa, dan memenangi sembilan scudetto beruntun. Sembilan.
Maka, bencana 2026 ini sebenarnya bukan rekor baru bagi Juve. Ini hanya episode pengulangan dari bank serial yang sudah dipunyai. Yang dibutuhkan sekarang sama persis dengan dulu: cara berpikir Del Piero.
"Tetap di kapal saat banyak yang loncat. Sabar saat hasil belum kelihatan. Percaya bahwa kerja sunyi suatu hari akan berbunyi."
Saatnya Juventus meniru Jepang, negara yang sudah tiga tahun tak terkalahkan oleh siapa pun. Jepang dulu juga remuk. Tahun 1998 debut Piala Dunia, kalah tiga kali tanpa mencetak gol. 2018 unggul 2-0 atas Belgia di babak 16 besar, lalu dibalik 2-3 di sisa menit. Tapi mereka tidak gonta-ganti pelatih asing setiap kalah, tidak menaturalisasi pemain setengah hati. Mereka pulang ke J-Village dan percaya pada anak-anak akademinya.
Hasilnya hari ini cukup menakutkan. Jepang sudah tidak terkalahkan sejak 8 Oktober 2021. Yang paling dahsyat adalah melumat Brasil dan Inggris pada ajang laga persahabatan, dan sudah lebih dulu lolos Piala Dunia 2026 dibanding hampir semua peserta Asia.
Jepang sebenarnya adalah versi modern dari resep Del Piero. Sabar, setia, dan percaya pada anak-anak sendiri.
Maka dengan tidak mendapatkan tempat di UCL, ini adalah jeda paksa, kesempatan langka buat bersih-bersih dapur. Sudah saatnya mengeluarkan penumpang yang membuat kapal ini karam. Juve harus berhenti belanja makhluk seperti Vlahovic yang gajinya selangit tapi keran golnya kering, atau Koopmeiners yang harganya mahal tapi performa mesinnya rusak. Sudah saatnya mengorbitkan Yildiz muda berikutnya, membangun ulang dari Next Gen, dan menerima dengan ikhlas bahwa tidak lolos UCL bukan akhir dunia.
Biarin seluruh klub Italia mengutuk Juve mandul & tak berprestasi dan memamerkan trofi. Kadang, untuk benar benar pulih, kita memang harus dihancurkan dulu oleh keadaan. Fino alla fine.
Guys, Ahok baru ngomong sesuatu soal Chromebook dan MBG yang menurut gue paling jujur dan paling berani dari siapapun yang gue dengar dalam beberapa bulan terakhir.
Dan dia ngomongnya
bukan sebagai pembela Nadiem.
Dia ngomong sebagai orang yang paham betul bagaimana sistem pendidikan dan teknologi seharusnya bekerja.
Soal Chromebook dan kenapa Ahok marah:
Ahok bilang dengan sangat tegas:
pengadaan Chromebook itu sebenarnya adalah kebijakan yang sangat masuk akal secara logika.
Chromebook itu bukan laptop biasa.
Operating system-nya berbasis cloud sekali beli langsung include semuanya, tidak perlu diperbarui terus-menerus.
Harganya jauh lebih terjangkau
dari laptop konvensional.
Dan yang paling penting sistemnya dirancang agar anak tidak bisa nonton video porno, tidak bisa judi online, dan seluruh aktivitas belajar bisa dipantau.
Ahok kasih contoh nyata.
Ada guru di Jawa Barat yang punya empat sertifikat internasional bisa mengajar di level dunia. Ujiannya hanya 10 dolar.
Bayangkan kalau semua guru Indonesia bisa akses sertifikasi seperti itu lewat Chromebook yang terhubung Starlink di daerah terpencil anak di kampung tiba-tiba bisa belajar setara dengan anak di Kanada atau Australia.
Itu bukan mimpi.
Itu sudah bisa dilakukan sekarang dengan teknologi yang ada.
"Bayangin kalau semua anak kita di kampung ada Starlink juga kan.
Anak di kampung kita tiba-tiba belajar setara dengan orang di Kanada atau di Amerika atau di Australia."
Lalu kenapa Ahok merasa ini sengaja dihambat:
Ahok bilang dengan sangat hati-hati karena takut diproses hukum lagi tapi dia tetap bilang:
"Saya pikir ini sengaja."
Logikanya sederhana dan sangat keras.
Kalau rakyat pintar, rakyat kritis, rakyat bisa akses informasi dari mana saja mereka lebih sulit dikuasai.
Lebih sulit dibohongi.
Lebih sulit dimanipulasi menjelang pemilu.
Sistem yang membiarkan rakyat bodoh dan miskin adalah sistem yang menguntungkan mereka yang berkuasa.
Karena rakyat yang bodoh dan miskin lebih mudah disuap dengan sembako, lebih mudah digiring dengan hoaks, lebih mudah dikontrol dengan ketergantungan pada program-program yang terkesan murah hati tapi tidak memberdayakan.
MBG- makan bergizi gratis menurut Ahok adalah contoh dari cara berpikir yang sama.
Daripada kasih rakyat laptop yang bisa membuka pintu dunia, lebih mudah kasih makanan yang habis dimakan dan orang tetap tergantung besok makannya dari mana.
"Kalau saya tanya mau bikin sekolah bagus,
kasih makan bergizi atau rakyat punya laptop yang bisa komunikasi ke mana-mana?"
Yang paling menohok soal survei dan legitimasi:
Ahok tidak berhenti di situ.
Dia lanjutkan dengan sesuatu yang sangat pedas.
Pemerintah melakukan survei.
Rakyat bilang mereka suka makanan gratis.
Lalu itu dijadikan legitimasi untuk program MBG.
Seolah-olah karena rakyat minta ya sudah diberikan.
Tapi Ahok membaliknya:
kalau kamu memberikan sesuatu kepada orang yang tidak pernah tahu bahwa ada pilihan yang jauh lebih baik tentu mereka akan pilih yang ada di depan mata.
Itu bukan preferensi yang genuine.
Itu keterbatasan informasi yang dimanfaatkan sebagai justifikasi.
"Mereka juga pintar.
Dia survei, Pak.
Rakyat suka makanan itu jadi legitimasi."
Dan soal Nadiem yang sekarang dituntut 27 tahun:
Ahok tidak membela Nadiem secara personal.
Tapi dia bilang satu hal yang sangat logis dan sangat sulit dibantah:
Menteri itu tidak pernah menyentuh
anggaran secara langsung.
Menteri membuat kebijakan.
Yang mengeksekusi adalah birokrasi di bawahnya.
Kalau ada yang salah dalam eksekusi pertanyaannya adalah:
apakah menteri yang memerintahkan secara eksplisit?
Apakah ada aliran dana yang bisa dibuktikan masuk ke kantong menteri?
PPATK sudah menjawab:
tidak ada.
Nol aliran dana ke Nadiem dari siapapun.
"Saya pikir ya ini soal profesionalisme.
Menteri kan enggak pernah nyentuh anggaran perantaran kan, kecuali dia nyuruh ya atau terima ya."
Ahok tidak sedang bicara soal
Chromebook sebagai produk.
Dia sedang bicara soal pilihan fundamental sebuah bangsa:
apakah kita mau membangun rakyat yang pintar dan mandiri, atau kita mau mempertahankan sistem di mana rakyat tetap bergantung pada belas kasihan penguasa?
MBG memberikan makan hari ini.
Chromebook bisa mengubah nasib seumur hidup.
Dan ketika kebijakan yang lebih transformatif justru dipersoalkan secara hukum sementara program yang lebih konsumtif dirayakan sebagai prestasi itu bukan kebetulan.
Itu adalah pilihan yang sangat disengaja oleh mereka yang paling diuntungkan dari rakyat yang tetap tidak berdaya.
Aku bukan food vlogger tapi kalo mau cerita soal makanan mungkin bisa pakai ini:
1. Sejarah — tempat, menu, bahan..
2. Rasa — asin, pedas, gurih, asam..
3. Tekstur — lembut, renyah, juicy..
4. Aroma — berempah, segar..
5. Konteks — masakan ibu, suasana hati..
Lanjutin deh...