nanti malam final ucl, fren. aku ada duaratus ribu buat empat follower (masing-masing mapuluhribu) buat yang ikut komentar sekaligus bener tebak skor akhir, pencetak goalnya, dan berpantun. ritwit dulu ya.
berlaku sampai jam 23.00 alias pas kick-off! lesgoooo~
@alfinrizalisme Jalan-jalan membeli gulai,
Pulangnya membawa buah delima.
Di Budapest Arsenal menyerang sejak laga dimulai,
PSG membalas dengan gol yang memukau semua.
🏆⚽
Prediksi skor: PSG 3 - 2 Arsenal 🔥
NA WILLA
Supaya berjalanku nyaman karena tidak ada kerikil yang masuk ke sepatuku, aku akan jujur menuliskan sedikit pengalamanku menonton film Na Willa. Sedikit saja, karena sisanya sedang mau aku nikmati sendiri. Begini…
Na Willa adalah film yang membahagiakan dan karenanya mudah sekali untuk menyayanginya. Ya sayang sama tokoh-tokohnya, alur ceritanya, dialognya, latarnya, warnanya, hingga sayang sama outfitnya. Bersama teman-temannya di Krembangan, Na Willa terasa sengaja menyuguhkan kembali dunia kecil penuh keindahan yang dulunya pernah kumiliki dan yang kini nyaris hilang dari diri ini.
Film ini berhasil menyegarkan kembali ingatan masa kecilku di sepanjang film. Seperti kenangan yang muncul ketika menatap hujan siang hari, setiap adegannya menghangatkan hati dan memenuhi dadaku dengan kerinduan untuk berada di masa-masa itu lagi. Masa yang sejujurnya tidak hanya berisi tawa bahagia semata, tapi juga air mata sedih dan kecewa.
Persis yang terjadi pada semesta Na Willa dan gengnya di Krembangan. Ada waktu-waktu rasa jengkel, sedih, dan kecewa datang. Saat berebut mainan, kalah bermain, ditinggal sekolah teman, merasa diabaikan, dilarang ini itu, dimarahi, bertemu guru galak, dan banyak lagi sumber air mata lainnya. Namun, semua jenis kesedihan itu cepat berlalu menjadi harmoni setiap hari berganti. Tahu-tahu sudah ketawa lagi. Sudah ada yang bikin berbunga-bunga lagi. Ah, seru sekali!
Rasanya dulu aku juga punya kemampuan seperti itu. Untuk pulih dengan cepat. Memaafkan secepat aku menangis. Untuk kembali percaya, meski sebelumnya sempat kecewa. Ah, Na Willa mengingatkan bahwa dulu aku pernah punya hati yang ringan seperti itu!
Sebagai pembaca bukunya, film ini juga membuatku terkesan dengan kesetiaannya pada isi buku—bahkan mampu lebih menghidupkannya. Na Willa membongkar radio, Na Willa ikut Ida salat, dan cerita Dul dengan kakinya, adalah tiga di antara adegan di buku yang paling aku tunggu-tunggu bagaimana visualisasinya. Hasilnya luar biasa. Semakin hidup, semakin lucu, dan bikin semakin sayang Na Willa.
Mak dan Pak juga luar biasa. Combo. Mereka seperti dua kutub yang tidak saling menafikan, justru saling menjaga agar dunia kecil Na Willa tetap utuh. Mak selalu ada di setiap momen Na Willa. Mak lah yang memarahi, mengajari, dan menjawab rasa penasaran anaknya. Sementara Pak, ia juga selalu punya cara untuk hadir, memberi pengertian, dan meyakinkan bahwa tidak akan pernah habis rasa sayang untuk keluarga kecilnya.
Yah. Begitulah. Film ini juga jadi terasa seperti sebuah pelukan yang hangat dan erat dari masa lalu. Yang tidak hanya mengajakku menengok ke belakang, tapi juga mengingatkan bahwa mungkin yang aku rindukan itu bukan cuma masa kecilnya. Melainkan caraku dulu menjalani hidup: yang ringan, tulus, dan tidak berlama-lama tinggal dalam luka—seperti saat dan setelah dewasa. Heuheuheu
Di dunia kerja..
Momen maaf maafan pas lebaran kadang sebatas formalitas belaka.
Setelah itu, sikap orang tetap sama seperti sebelumnya. Yang jahat akan tetap jahat, yg munafik akan tetap sama.. Mau bantah?... Tapi ini realitanya..
#CelahAwan
kalau cinta hanya sekedar perasaan, maka sebentar juga akan memudar.
namun kala cinta itu terwujud dalam bentuk rasa tanggungjawab, saling melengkapi dan kesediaan berkorban, maka nilai cinta itu akan lebih langgeng bersemi.
#celahawan
Dalam keheningannya, hujan turun sebagai rahmat dibelantara Ramadan, ketika jiwa sedang belajar menahan dan membersihkan diri, hujan menjadi simbol penyucian yang lembut. Ia tidak memaksa, hanya hadir dan kehadirannya cukup untuk menyejukkan.
#celahawan
jangan mengutuk kala anak main gawai dengan sibuk, tapi lupa mengajarkan kebebasan, mengekang anak berkembang dalam banyak ruang, dan terlalu banyak aturan yang membuat anak kedodoran.
anak butuh bermain dan mengenal dunia nyata, bukan maya.
vid.ig.kabarklaten
#CelahAwan 🕊
Laut tidak pernah sombong walau luas, ia mengajarkan tentang kerendahan hati
Ombak tinggi dan gagah, namun saat tiba di pantai, ia merendah dengan penuh santun
Demikianlah hidup, walau berjaya, biarlah hati tetap tunduk dan sederhana
Kerana kerendahan diri adalah mahkota, yang membuat seseorang dihormati tanpa perlu meminta
"Tuang dulu kopi, baru gula dan air panasnya, ucap bapak."
السكر مجرد طعم وتهجئة، ولكنه قادر على الاستمتاع بامتنان في زاوية الطبيعة في كل مرارة.
Gula hanya ejaan dan kecapan lidah, namun mampu menikmati dengan rasa syukur di sudut alam dalam setiap paitnya.
@alfinrizalisme Jalan-jalan ke pantai Bali,
Melihat sunset terasa indah.
Kami datang penuh hati,
Semangat juang takkan menyerah.
Terbang tinggi si burung Garuda,
Sayapnya kuat menembus awan.
Lawan Jepang tak jadi masalah,
Garuda juara jadi kebanggaan!