Apa yang terjadi pada Pee Wee Gaskins (PWG) adalah fenomena besar yang belum terulang dalam dua dekade terakhir di peta musik Indonesia. Bayangkan saja, ada band yang di-gatekeep secara ekstrem oleh penggemarnya sendiri, sampai-sampai melahirkan cultural elitism.
Di awal 2000-an, fans PWG yang dikenal dengan sebutan Dorks, tidak rela apabila musik PWG mulai dinikmati banyak orang (mainstream), terutama oleh orang-orang dari kalangan biasa atau bahkan jamet kabupaten. Menurut mereka, selera musik adalah simbol perbedaan "kelas sosial", jadi mereka memutuskan untuk banting setir menjadi haters. Selain itu, banyak juga haters yang latar belakangnya ialah mantan fans Killing Me Inside, yang kecewa karena Sansan memutuskan keluar dari KMI dan lebih memilih PWG.
Di situlah akhirnya muncul apa yang dulu kita kenal dengan Anti Pee Wee Gaskins (APWG). Anggota komunitasnya di fanpage Facebook dulu sampai ribuan dan tiap harinya tak pernah kehabisan bahan untuk menggunjing PWG. Setiap PWG merilis lagu, mereka jadi pendengar nomor satu. Setiap ada konser PWG, mereka rela datang dengan kaos sablon khusus bertuliskan “APWG Dogs” sambil membawa alat tempur berupa sandal, ember, sampai es cekek untuk dilemparkan ke arah panggung. Sangat brutal.
Kapan lagi coba kita bisa melihat fenomena aneh di mana ada paguyuban haters yang jauh lebih effort daripada fans-nya sendiri?
من أجمل الأخبار اللي شفتها
نجم مسلسل Breaking Bad و Better Call Saul ومؤدي شخصية (غاس فرينغ) الممثل جيانكارلو اسبوزيتو نطق الشهادتين وصلى بمقطع ظهر له أمس !
ماشاء الله تبارك الله، الله يثبته ❤️
“Saya antar dia ke stasiun setiap pagi. Saya rawat dan sayangi dia sepenuh hati. Saya selalu bangga memiliki anak seperti dia. Tapi ternyata jalan yang dia pilih justru membuat saya kecewa.”
Kalimat itu keluar sambil diiringi tangis seorang ayah di hadapan mahasiswa PNJ dan banyak kamera yang menyorot ke arahnya
Dengan kepala tertunduk, ia bersujud dan meminta maaf atas perbuatan anaknya. Pada saat itu, harga diri yang selama ini ia jaga seakan runtuh di depan banyak orang.
Menjadi orang tua di era sekarang memang bukan perkara mudah. Tantangan datang dari berbagai arah, sementara pengaruh lingkungan dan perkembangan zaman bergerak begitu cepat.
Orang tua sering kali berusaha memberikan yang terbaik, tetapi tetap tidak bisa sepenuhnya mengendalikan pilihan hidup anak-anak mereka.
We will conclude our 2026-27 pre-season programme with two fixtures at Anfield, hosting AS Monaco on Sunday August 9 and Como 1907 on Sunday August 16 ⤵️
Indonesia punya ideologi fasis.
Ideologi itu adalah Fuhrerprinzip dengan Ciri Khas Jawa.
Bentuknya adalah totaliterisme militeristik. Tidak ada diskusi. Asal Bapak Senang.
"Izin."
"Siap laksanakan."
Abaikan segala teori fasisme luar negeri. Ideologi fasis *kita* adalah ini.
Kalau disuruh lompat ke jurang, lompat. Kalau disuruh gila mmbuang uang ratusan triliun buat MBG, buang. Perintah atasan adalah perintah Allah.
Budaya ini berasal dari militer. Budaya ini cocok jika diterapkan di operasi tempur militer. Ketika militer malah memerintah, budaya ini malah diterapkan di seluruh masyarakat. Padahal, itu sangat tidak cocok dan buruk, sebagaimana budaya debat demokratis sangat tidak cocok diterapkan untuk operasi tempur militer.
Keduanya harusnya dipisah.
Ospek adalah cargo cult yang secara primitif dan liar mencoba meniru-niru kebudayaan fasis totaliter ini.
Ada partai politik yang menganut ideologi fasis ini. Mereka sangat marah ketika UUD 1945 diamendemen untuk menyetop ideologi militeristik itu dan menggantinya dengan Negara Hukum yang pasti, rasional, dan ilmiah.
Kalo saya harus balik ke nol hari ini sebagai trader saham, saya nggak akan langsung buka chart.
Inilah kurikulum step-by-step yang harus dilewati…
(lanjut di bawah)
Plantain vs Banana 🍌
Di luar negeri, mereka membedakan jenis pisang, menjadi dua:
1. Banana: Pisang yg manis & dimakan langsung.
2. Plantain: Pisang yg tinggi pati & harus dimasak.
Di Indonesia, kita menyebut semuanya PISANG. Kita cuma membedakan varietasnya.
Ini bedanya: