bapak ini cerita istrinya kepala sekolah, berani menghentikan mbg di sekolahnya:
- setelah kumpulkan semua wali murid
- mayoritas wali murid setuju mbg dihentikan
- alasannya mubazir karena tidak dimakan anak dan mengganggu waktu belajar
- pas lapor ke dinas pendidikan, dinas malah balik tanya "apakah di sekolah ibu sudah punya program pemenuhan gizi?"
- istrinya jawab "memang kewajiban pemenuhan gizi jadi tanggung jawab sekolah pak?", dinas cuma diam
- pesannya: "menerima mbg adalah hak, bukan kewajiban", jadi kalau mau berhenti tidak usah tuntut pemerintah, hentikan dari sekolah masing-masing
order makanan online, COD 22.200. sebelumnya gue udah minta maaf karena gak punya uang pas, uang gue 50 ribuan, jadi gue minta disiapin kembalian.
pas nyampe...
driver: “gak ada kembalian, Kak. buletin aja.”
gue: “oke, 25k ya?”
driver: “gak ada, Kak. buletin aja.”
gue: “30k?” (nanya sambil ragu)
driver: “gak ada juga, Kak. uangnya 50 ribuan semua, buletin aja.”
gue: “...” (gak bilang iya/gak)
“tunggu ya.”
driver: “oke, Kak.”
gue masuk rumah, ngorek-ngorek nyari uang, terus kasih drivernya Rp22.200.
driver: “loh, kok segini?”
gue: “emang mau berapa? kan nominalnya emang segitu.”
driver: “ya gak bisa dong, tadi kan bilangnya 25 ribu.”
gue: “itu tadi karena gue gak punya uang pas dan masnya juga gak ada kembalian. sekarang kan udah gue kasih pas.”
driver: “gak bisa, kurang ini.”
gue: “mau ya terima, gak mau ya buang aja.”
“pantes gak kaya, mentalnya diajarin miskin sih.” (masuk rumah)