Utas sekitar data Bansos aka DTSEN
Data sakti ini memuat seluruh data kondisi sosial ekonomi masyarakat Indonesia yg di kelompokkan berdasarkan Desil/Peringkat/Rangking sosial ekonominya.
Untuk semua bansos baik bansos PKH, bansos BPJS Kesehatan, bansos Sembako, PIP, KIP kuliah
Adik gue lulus S1 tahun lalu.
IPK 3,8. Cumlaude.
Udah 11 bulan nganggur.
Yang nerima dia kerja pertama kali?
Warung kopi depan rumah.
Gajinya Rp1,2 juta.
Gue gak nulis ini buat nyalahin dirinya.
Atau nyalahin kampusnya.
Gue nulis ini karena gue tau ada jutaan "adik gue" di luar sana.
Yang dibesarkan dengan satu keyakinan:
"Kuliah yang bener, nanti hidupmu terjamin."
Dan sekarang mereka bingung janji itu ke mana?
Gue bukan anti kuliah.
Tapi gue mulai curiga.
Gelar itu dulu pintu masuk.
Sekarang?
Gelar cuma tiket antre.
Semua orang pegang tiket yang sama.
Yang beda adalah apa yang ada di balik tiket itu.
HRD temen gue cerita jujur:
"Dari 200 lamaran yang masuk, 190 punya gelar S1."
"Yang gue panggil? Yang CV-nya beda."
"Portfolio. Project. Pengalaman nyata. Bahkan konten."
"Gelar? Gue liat belakangan."
Itu bukan pengecualian.
Itu udah jadi standar baru.
Adik gue habiskan 4 tahun belajar teori.
Skripsinya 80 halaman.
Tapi pas interview pertama ditanya:
"Pernah handle project apa?"
Dia diem.
Bukan karena dia bodoh.
Tapi karena 4 tahun itu gak ada yang ngajarin dia bikin sesuatu yang nyata.
Yang perusahaan cari sekarang bukan yang paling pintar.
Tapi yang paling siap.
Siap problem solving.
Siap komunikasi.
Siap deliver hasil bukan cuma tugas.
Skill itu gak ada di mata kuliah manapun yang pernah adik gue ambil.
Gue akhirnya kasih adik gue satu hal yang gue nyesel gak tau dari dulu.
Bukan buku kampus. Bukan modul.
Tapi cara berpikir yang beneran dibutuhin dunia kerja sekarang.
Sebulan setelah itu, dia udah punya 2 project freelance.
Tapi tunggu dulu ini belum selesai.
Ada bagian yang lebih bikin gue marah.
Yang bikin gue paling geram bukan sistemnya.
Tapi narasinya.
Orang tua kita masih bilang:
"Kuliah dulu yang bener, jangan kebanyakan kegiatan."
Padahal kegiatan itulah yang dicari HRD.
Kita dilarang melakukan hal yang justru menyelamatkan kita.
Gue gak bilang kuliah itu buang waktu.
Gue bilang kuliah aja gak cukup.
Bedain dua hal itu.
Gelar itu fondasi.
Tapi rumahnya lo yang harus bangun sendiri.
Dan kampus gak pernah ngajarin cara bangun rumahnya.
Adik gue sekarang udah kerja.
Bukan karena gelarnya.
Tapi karena dia akhirnya berhenti nunggu gelar itu bekerja.
Dia mulai bikin portfolio.
Dia mulai belajar skill yang beneran dibutuhin.
Dia mulai kelihatan di tengah 190 orang yang cuma pegang tiket yang sama.
Kalau lo atau adik lo lagi di titik ini
Gelar udah di tangan tapi jalan masih buntu
Jangan tunggu sistem berubah.
Sistemnya gak akan berubah secepat yang lo butuhin.
Mulailah dari apa yang bisa lo kerjakan hari ini.
Bangun portfolio.
Cari pengalaman.
Belajar skill yang memang dibutuhkan.
Karena pada akhirnya, yang membedakan lo dari ratusan pelamar lain bukan cuma gelar yang lo punya, tapi apa yang bisa lo tunjukkan dan kerjakan.
Menurut kalian, di zaman sekarang yang lebih menentukan dapat kerja itu gelar, pengalaman, atau koneksi?
sc:threadssarikuesari
1
@txtharihariWNI Mau tanya kuliahnya jurusan apa? Pas baca bagian akhir, percuma tanya karena bukan pengalaman pribadi.
Makin banyak ya copas gini di X.
@txtharihariWNI Itu cara individu agar masyarakat yg kurang mampu bisa dapat bansos tanpa prosedur birokrasi RT RW desa/kelurahan.
Kalau ribet bantu begitu bisa hubungi petugas bansos yg di kecamatan atau dinsos setempat. Pertama-tama ya cek data dulu, desil berapa dan apakah tercover bansos.
@txtharihariWNI Jk menemukan orang atau anak dengan keadaan yg spt ini & kita ingin bantu scr berkelanjutan terutama jk anak tsb sangat semangat untuk sekolah maka:
1. Tawarkan makanan dan minuman dulu
2. Jk ada rejeki berikan sedikit bantuan
3. Ajak obrol santai terkait latar belakangnya
4.
@txtharihariWNI 4. Kalau sdh agak nyaman tanyain dapat bansos tidak. Bisa cek jg pakai NIK di web https://t.co/62aOEy2qCM masukkan NIK dan captcha nanti keluar profilnya. Jika dia desil 1-4 belum dapat bansos bisa diusulkan lewat aplikasi cek bansos untuk dapat bansos. Syarat harus punya akun.
@FansNerazzurri Duo botak emang soal nego sukanya ngulur² waktu. Minta semurah mungkin termasuk perpanjangan kontrak pemain. Yang ujungnya malah sering panic buying atau putus kontrak pemainnya. Ujungnya beli LH dan Diof mahal.
Dumfris ini loyal, tapi sering ditawarkan saat musim panas.
@Pengantarcerita@zanatul_91 Btw mas Iman belum begitu mengerti birokrasi kah? Saya memang agak awam juga urusan gini tapi jadi pengetahuan umum kalau ada pejabat sekelas kepala dinas dia pindah ke staff ahli kepala daerah ya ibarat kata kena kotak (dinon-jobkan). Dan pasti ybs nyesek bener...
@promisenewera@AgusMagelangan Saya bukan sok keminter, tapi liat standar khutbah yang kek gitu jadinya ya tiap Jum'at sering datang pas khutbah kedua.
Padahal sayang momentumnya, banyak orang berkumpul datang. Yang disampaikan duhhhh kayak ngga ada belajar²nya. Akhirnya lebih sering² ngaji online Gus Baha.
@AgusMagelangan@promisenewera Kalau yang khutbah seperti ini ya banyak perspektif baru yang didapatkan. Tapi di banyak tempat tidak begitu, bahkan ruh materi khutbah nya pun ngga terasa. Apalagi pas khutbah Jum'at.
Jadi jangan salah kalau jamaah ya hadir sekedar hadir. Padahal kesempatan besar buat 'dakwah'
@FredArizona@Info_SerieA Liga ngantuk emang rata² boomers.
- Suka jupek gara² del Piero dan tambahan CR7
- parma ya angkatan Buffon
- iler karena Ronaldo, jarang yg krn Icardi
- melon lebih 3 belanda plus masa Sheva Pirlo
Ada andil besar RCTI saat itu.
@minlive48@Asura0599@dhirajumik Jauh² lah salafi dan Wahabi dari Muhammadiyah. Jangan kasih mereka tempat kecuali niat dan paradigma berpikirnya dirubah dulu lebih inklusif dan sesuai AD ART Muhammadiyah.