Hamilton soal manuver Verstappen yang gagal dari sisi luar:
🗣️ "Saya juga tidak berharap bisa menyalipnya dari sisi luar dan pertahankan jalur di sana. Dia ada di belakang saat di apex, dan karena itulah seharusnya dia mengalah (beri ruang)."
Manuver sisi luar memang jadi favorit Hamilton untuk lancarkan overtake di Austria kemarin, terutama ke rekan setimnya sendiri, Charles Leclerc, yang dua kali kena manuver sisi luar: di T4 selepas start & T6 pada lap 37.
Tahu cara overtake, tentu Lewis juga tahu cara bertahan dari sisi luar seperti apa dan inilah yang ia tampilkan saat melawan Max Verstappen pada stint pertama.
Verstappen coba salip dari sisi luar, tapi gagal karena Hamilton bisa pertahankan racing line untuk posisikan mobilnya tetap di depan Max. Itu memaksa pembalap Belanda itu untuk mengalah & sempat melebar tipis ke luar trek.
Taktik semacam ini tentu ia pelajari dari Verstappen itu sendiri: paksa pembalap ambil sisi luar, lalu tahan posisi mobil di sisi dalam supaya tetap di depan, & buat pembalap lawan mengalah dengan dipepet ke pinggir trek.
Perlu duel-duel semacam ini lagi di balapan selanjutnya wkwkwk 🔥🔥
@txtharihariWNI Ini persis banget staff gw yg pacaran ama halodek pangkat cecunguk yg redflag beud. Mau gw tegur, takut gw dikatain ikut campur, tapi didiamkan ya besar kemungkinan kasus2 kek Mbak S itu terulang.
Jawaban buat pertanyaan zee sebenernya udah jelas, namanya Telkomsel. Operator paling gede, paling kaya, paling banyak pelanggan di negeri ini, yang paling pertama maju dan paling lantang soal masa aktif 28 hari, lalu dengan entengnya bilang ini semua demi kebiasaan pelanggan. Seakan-akan jutaan orang Indonesia ngantri minta jatah internetnya dipotong dua hari tiap bulan.
Indosat ikut nimbrung, XL katanya ikut di sebagian paket walau katanya mayoritas paketnya masih 30 hari. Tapi yang ngebuka pintunya Telkomsel, dan mereka ngebungkusnya pakai kata manis soal customer behaviour. Padahal lo ga butuh gelar ekonomi buat ngerti, ga ada satu pun pelanggan yang behaviour-nya pengen bayar lebih sering buat barang yang sama.
Mainnya halus, makanya jarang ada yang ngeh. Setahun ada 365 hari. Masa aktif 30 hari berarti lo beli 12 kali. Begitu jadi 28 hari, lo dipaksa beli 13 kali buat nutup tahun yang sama. Satu belanja ekstra, tiap tahun, dikali puluhan juta pelanggan. Simulasi IDN Times nyebut selisihnya bisa sekitar Rp100 ribu per orang per tahun, walau angkanya tergantung ke paket dan pola pakai, jadi cek lagi sesuai kasus lo. Kecil di kantong lo, tapi jadi gunung everest di laporan keuangan mereka.
Belum kelar di situ. Sisa kuota yang udah lo bayar bakal hangus begitu masa aktif lewat. Operator ngotot istilah hangus itu ga tepat, katanya yang lo beli cuma hak akses jaringan buat periode tertentu, dianalogiin kayak obat yang ada tanggal kadaluarsa. Tapi pas PLN diseret ke sidang, mereka jelasin token listrik ga pernah hangus, karena yang ngurangin saldo itu pemakaian, bukan jam dinding. Pertanyaannya, kenapa listrik bisa, internet enggak?
Soal hukum gw ga mau lebay, sampe detik ini belum ada putusan yang nyatain operator bersalah, karena perkaranya emang masih jalan. Yang nggugat bukan orang gede, cuman pengemudi ojol Didi Supandi dan kawan-kawan, plus sekelompok mahasiswa hukum, yang nilai kuota dihapus sepihak tanpa kompensasi adil itu nabrak hak atas harta benda di UUD 1945. Dan lo tau siapa yang pasang badan belain operator? Pemerintah sendiri, lewat Komdigi, yang bilang rollover atau refund bakal nambah beban biaya.
Jalannya berdarah-darah. Satu gugatan emang udah dipentalin MK pertengahan Mei 2026, tapi gugurnya gara-gara berkasnya dianggap kabur, bukan karena isunya kalah. Ibarat lamaran ditolak gara-gara formulirnya nggak lengkap, bukan gara-gara orangnya nggak layak, hakim bahkan belum sempet nimbang inti perkaranya. Tiga gugatan lain masih bertahan dan lagi diperiksa isinya. Di sidang, ada hakim yang nanya tajem ke operator, "kok kuota belum habis tapi udah hilang". Dari luar, YLKI ikut ndorong. Jadi tekanannya datang dari dua arah sekaligus.
Tapi apakah bisa menang?
Di Afrika Selatan, rakyatnya ngeluh soal hal yang sama persis bertahun-tahun, kalah terus, sampe akhirnya regulatornya nyerah dan maksa operator ngerollover otomatis kuota yang belum kepake mulai 2027. Bedanya, di sana yang ngalah duluan itu lembaga pengawasnya yang bikin aturan baru, bukan hakim lewat pengadilan. Di kita malah sebaliknya, lagi diperjuangkan lewat gugatan ke MK. Beda pintu masuk, jadi belum tentu hasilnya bakal sama.
Sejarah udah berkali-kali ngebuktiin, raksasa kayak gini tunduk bukan gara-gara digoyang orang gede. Tapi karena orang-orang biasa yang capek haknya dirampok diam-diam, lalu mutusin buat ga diem. Pertanyaannya tinggal satu, dia bakal menang, atau jadi tumbal yang namanya kita lupain begitu palu diketok?
Ini presiden guys, presiden Iran. Presiden tapi sekaligus ahli bedah jantung. Ahli aseli, bukan abal-abal karena sekali-sekali beliau juga tetap praktek. Kabinet iran rata-rata berpendidikan tinggi. Syarat DPRnya saja minimal berpendidikan S2.
Sultan Brunei Hassanal Bolkiah menghadiri wisuda putri nya , Princess Ameerah . Penampilan nya sederhana , seperti bapak Bapak biasa .
Putri nya juga gak heboh wisudanya , biasa saja . Padahal mereka salah satu orang terkaya di dunia .
Sementara banyak orang yang sebenarnya kurang mampu .. tapi memaksakan diri untuk tampil mahal , sehingga hutang sana sini hanya untuk memenuhi gaya hidup . Miris 🤦
@qiiwiieee@f1speed_indo Juan Pablo Montoya vs Jos Verstapen?setau saya ga ada masalah tuh. JPM dulu penantang gelar, Jos Verstapen bergulat di tim gurem.
INDONESIA RAYA BERKUMANDANG DI JEREZ, SPANYOL BERKAT BOCAH 16 TAHUN, KIANDRA RAMADHIPA🇮🇩
SING IT LOUD AND CLEAR, ANOTHER INDONESIAN STAR IN THE MAKING🤩🥳
@rouppme bukan jijik, hanya saja merusak ekosistem, dan akhirnya menekan populasi spesies ikan akamsi, eh maksud saya ikan-ikan endemik. 😅
yang artinya, anak-cucu kita akan semakin jarang makan ikan air tawar asli Indonesia.
Namanya Gembus, dia salah satu kawan saya yang cukup sering saya ceritakan di dalam tulisan-tulisan dan buku-buku saya. Sosoknya jenaka tetapi bras-bres, santai tapi tak kenal kompromi, murah senyum tetapi tegas, sangat N'Golo Kanté.
Dulu, ia bekerja di bengkel las Laksana Teknik Terminal Lama. Setelah itu, ia diajak oleh salah satu kerabatnya untuk menggarap proyek pengerjaan jalan di Jakarta Timur. Tahun lalu, ia seharusnya geser ke IKN untuk mengerjakan beberapa proyek di sana, tapi ia menolak dan lebih memilih untuk tetap mroyek di Jakarta. IKN adoh, kata Gembus.
“Nek perkoro adoh, Jakarta yo podo-podo adoh,” timpal Paijo, kawan saya yang lain.
“Iyo, tapi adoh’e Jakarta ki isih luwih iso dibayangke mbangane adoh’e IKN,” terang Gembus, “Nek pengin bali, gari numpak Santoso. Nek IKN, pengin bali kudu nyarter mobil njuk numpak pesawat, abot duite, bingung carane.”
Gembus pulang ke Magelang setahun dua kali, ditambah saat momen-momen tertentu, misal saat libur tahun baru atau ada anggota keluarganya yang menyelenggarakan hajatan.
Gembus memang jarang pulang, tetapi saya dan kawan-kawannya yang lain rutin memantau aktivitas kehidupan Gembus di perantauan sana melalui unggahan-unggahan Whatsapp story-nya yang lumayan rutin, setidaknya untuk ukuran pekerja proyek.
“Uripmu saiki ketoke luwih penak yo, Mbus,” tanya Niko, beberapa waktu lalu saat Gembus pulang.
“Penak piye?” timpal Gembus.
“Lha yo penak, story-mu saiki wis ora tau sambat koyo biyen, saiki kerep’e malah posting video sholawatan karo lagu-lagu reggae.”
Saya yang mendengar analisis Niko tersebut seketika tersenyum, sebab ingatan saya langsung terlempar pada kebiasaan Gembus yang memang suka memposting hal-hal yang berkaitan dengan aktivitas pekerjaannya di perantauan.
Kadang ia memposting foto secangkir kopi dengan caption “Wayahe”, lengkap dengan backsound lagu dangdut koplo “Wegah Tukaran”. Lain waktu, ia mengunggah video hujan deras lengkap dengan caption “Alam’e ra iso diajak kerja sama, garapan akeh malah udan.” Kali lain, ia mengunggah foto gambar jalan raya yang masih anyar dengan caption “Hasil prakarya Bandung Bondowoso!”
Singkat kata, walau kami paham bahwa sosial media tak melulu merupakan representasi kehidupan yang sebenarnya, tapi kami bisa sedikit meraba kehidupan Gembus di perantuan melalui story-story Whatsappnya.
Mangkanya, ketika Niko menganalisis kebiasaan Gembus yang belakangan makin sering memposting video-video sholawat dan lagu-lagu reggae alih-alih foto-foto aktivitas pekerjaannya, saya agak penasaran juga, apa gerangan yang terjadi, apakah memang seperti analisis Niko yang mengatakan bahwa hidup Gembus sekarang sudah enak, atau bagaimana?
Walau tak terlalu menggebu untuk ingin tahu, tapi dalam hati, saya menunggu juga apa penjelasan Gembus di balik kebiasaan barunya belakangan ini.
“Wah, kowe ki ra ngerti ilmu nylamur og, Nik,” jawab Gembus.
Nah, ini dia, batin saya. Penjelasannya sudah mulai dijlentrehkan. Tirai penasaran saya mulai tersibak.
“Nylamur piye?” Niko penasaran.
“Nek aku posting video-video sholawat kuwi ora berarti uripku penak, justru kuwi tanda nek aku gek ora nduwe duit. Wong nek ra nduwe duit kuwi kudu disedul karo sing apik-apik ben ora gampang emosi. Ben ora gampang osa-asu. Lha yo video sholawat kuwi sing tak ngge nyedul.”
Demi mendengar penjelasan itu, saya tentu saja tertawa. Tertawa karena melihat betapa seriusnya Gembus menjelaskan, dan lebih tertawa lagi karena saya tak menyangka, betapa tak terduganya isi penjelasannya.
“Ha nek pas posting lagu Three Little Birds kuwi, berarti kowe pas seneng mergo nduwe duit?” cecar Niko
“Kuwi yo salah. Nek aku posting lagu reggae kuwi artine aku bar bayaran, tapi duite langsung entek ngge mbayar bon mandor.”
Tawa pecah makin tak terkendali.
“Bajingaaaaaan….”
Saya pikir, ini bukan kesalahan Niko yang gagal memaknai makna ekstrinsik yang terkandung di dalam video-video Whatsapp story Gembus, ini murni karena kedalaman makna postingan-postingan Whatsapp story Gembus yang memang terlalu tinggi dan subliminal, nyaris adiluhung.
Saya yakin, bahkan pakar semiotika sekelas Roland Barthes pun tidak akan bisa menebak dengan presisi apa yang ingin Gembus sampaikan melalui video-video sholawat dan lagu-lagu reggae-nya itu.
Gara-gara Gembus, sholawat kini tak lagi sama di mata kami. Gara-gara Gembus, Bob Marley kini tak lebih dari sinyal tagihan bon yang harus dibayar setelah gajian.
Dan yang paling penting, gara-gara Gembus, kami makin yakin, sosial media adalah fana, sambat abadi.
Apakah memutuskan "berbeda" itu terasa heroik hai bayi-bayi?
Ada konsekuensinya hlo
Untuk bayi-bayi yang seumur idup ikut arus, makan tuh konsekuensi!
Don't bite more than you can chew 😝
Tamparan keras hari ini,, bocil itu baru aja dinobatkan jadi pegawai teladan pagi ini. Eh, udah bikin pernyataan ngelawan atasan di siang harinya.
Hahahahahahahaha, mana makin banyak bocil² kek gini di kantor gw.
Setelah menerima ancaman pembunuhan dari Israel dan Amerika Serikat
Menteri Luar Negeri Abbas Araqchi mengatakan: "Ancaman Anda berada di bawah kaki kami. Jika kami takut mati, kami tidak akan memasuki perang ini, dan kami juga tidak akan mengorbankan orang-orang terbaik kami sebagai martir."
Kematian adalah suatu kehormatan bagi kami karena kami membela tanah air kami... lebih baik daripada mati dalam keadaan tertindas olehmu, dengan tanah air kami di bawah pengawasan dan kekuasaanmu.
Kita dilahirkan merdeka, dan kita akan mati merdeka. Kita tidak akan tunduk kepada pemerkosa anak, pedagang darah, dan penguasa yang menindas."