Guys, cerita pendek ini tapi bikin dada hangat seharian...
Warteg pinggir PGC Jakarta.
Siang hari, ramai biasa.
Masuk seorang anak muda.
Nanya nasi telur, harganya berapa.
Sepuluh ribu.
Minta kuah, harganya sama.
Ditanya minumnya apa, dia keluarin dua biji aqua gelas dari kantong plastik yang dia bawa sendiri dari rumah.
Tidak ada yang berlebihan dari pesanannya.
Semua diperhitungkan sampai minuman pun bawa sendiri supaya tidak keluar ongkos tambahan.
Bapak-bapak di sebelahnya selesai makan duluan. Berdiri, hitung-hitungan, lalu bayar pakai QRIS.
Tapi waktu bayar, dia sekalian bayarin pesanan si anak muda yang bahkan belum selesai makan.
Nepok pundaknya pelan sambil jalan keluar.
"Mas udah ya."
Anak mudanya kaget.
"Aduh, makasih Pak, makasih."
Si bapak sudah pergi.
Tidak ada ceramah.
Tidak ada foto.
Tidak ada yang tahu nama si bapak itu.
Dia cuma lihat, paham, dan bayar. Selesai.
Guys, kebaikan yang paling adem itu memang yang tidak minta tepuk tangan.
Yang tidak butuh diketahui siapa pelakunya.
Yang cukup dengan nepukan pundak dan dua kata sebelum pergi.
Semoga anak muda itu kenyang.
Dan semoga si bapak rezekinya balik berlipat.
Kalo haji plus sama Awina, tenda lempar jumrah nya dekat, hanya beberapa ratus méter. Insya Allah kami juga ikut membimbing.
FYI: lempar jumrah ini jalan kaki paling panjang dalam ibadah haji. Bisa belasan kilometer utk haji reguler.
Informasi: 089646749969
Sufyan at-Tsauri adalah orang yang sangat sering menangis dan merasa gelisah.
Lalu ada yang berkata kepadanya, “Wahai Abu Abdillah, berharaplah kepada Allah. Sesungguhnya, ampunan Allah jauh lebih besar daripada dosa-dosamu.”
Maka beliau menjawab, “Apakah kalian mengira aku menangis karena dosa-dosaku? Padahal, seandainya aku tahu bahwa kematianku membawa tauhid, meskipun kesalahanku sebesar gunung, aku tidak akan peduli.”
Supri, pemilik usaha cukur rambut, tidak pernah menaikkan tarifnya selama nyaris 30 tahun. Dia tetap mematok harga Rp5000 bagi pelanggannya sejak tahun 1999.
Menurut Supri, harga Rp5.000 itu sudah cukup untuk memenuhi kebutuhannya.
gue mau cerita sesuatu yang kejadian siang tadi.
hal kecil. tapi bikin gue nangis di dapur sendirian.
dari tadi gue laper. cemilan habis. males keluar.
terus gue denger suara dari luar. sayup-sayup. kayak orang jualan sesuatu tapi nggak jelas jualannya apa.
kepo. gue tungguin dari balik jendela.
beberapa menit kemudian lewatlah seorang kakek. kira-kira 65 tahunan. bawa dagangan roti. gue panggil.
kakeknya nyebut rasa satu-satu. gue pilih coklat keju. bayar. selesai.
gue balik masuk rumah. pintu belum sempet gue tutup.
dan tiba-tiba kakeknya bilang sesuatu yang bikin gue berbalik.
"Mbak maaf... punya nasi putih nggak? Boleh minta sedikit? Saya sakit perut dari pagi belum makan."
tangannya gemetar waktu ngomong itu.
gue berdiri sebentar. tenggorokan gue langsung berasa penuh.
tanpa banyak mikir gue langsung ke dapur. ambilin nasi. ambil lauk yang ada. sambal. beliin minum air putih.
gue taruh semuanya di depan kakeknya.
dan dia makan.
lahap banget.
gue berdiri di situ nggak bisa ngomong apa-apa.
nggak lama suami gue pulang.
dia liat ada kakek duduk di depan rumah kami.
"Itu siapa?"
gue ceritain semuanya.
suami gue diam sebentar.
matanya merah.
dia mewek.
laki-laki ini yang susah banget nangis, mewek di depan gue gara-gara cerita kakek jualan roti.
gue malah jadi ikutan nangis.
suami gue keluar. ngobrol sama kakeknya. nanya-nanya pelan.
dan ini yang bikin gue makin nggak kuat.
kakek itu baru dua minggu merantau ke sini. jauh banget dari kampung halamannya di Jawa. beliau nebeng ngekos sama temannya. nekat berangkat karena di Jawa jualannya nggak pernah laku, dan nggak ada yang mau ngurus beliau di sana.
sendirian. di kota orang. umur segitu. jualan roti keliling.
waktu kakeknya mau pamit lanjut jualan, suami gue inisiatif kasih uang pegangan.
kakeknya nolak.
"Nggak usah, nggak usah."
suami gue maksa pelan-pelan. kakeknya tetap nolak.
terus kakeknya bilang satu hal yang bikin gue langsung masuk kamar buat nahan nangis:
"Kalau mau bantu, boleh minta baju bekas aja yang sudah nggak dipakai. Baju saya cuma ini."
yang dipakainya keliatan lusuh. kusut. kayak udah lama banget nemenin beliau kemana-mana.
gue bongkar lemari suami. cariin baju yang masih layak. pilih beberapa.
dan uang yang tadi ditolak kakeknya, gue selipkan diam-diam di dalam lipatan bajunya.
biar nggak bisa dikembaliin.
kakeknya pamit.
gue berdiri di pintu nonton beliau jalan pelan-pelan sambil bawa dagangannya lagi.
dan gue mikir:
mungkin memang Allah yang bikin gue kepo sama suara jualan itu tadi. mungkin memang bukan kebetulan gue lagi di jendela pas kakeknya lewat. mungkin memang siang itu kakeknya harus makan dulu sebelum lanjut jalan.
gue nulis ini bukan buat pamer kebaikan.
gue nulis ini karena gue malu sama diri gue sendiri yang tadi lagi rebahan sambil ngeluh nggak ada cemilan.
sementara di luar, ada kakek yang jualan dari pagi dengan perut kosong dan tangan gemetar.
semoga dagangan kakek laris.
semoga beliau sehat terus.
semoga beliau nggak pernah kelaparan lagi.
aamiin. 🤲
In 458 BC, Rome was on the brink of collapse.
An invading army had trapped the Roman consul and his legion in a mountain pass. Panic spread through the city. The Senate did the only thing they could think of:
They sent messengers to find a 60-year-old farmer plowing his field.
His name was Lucius Quinctius Cincinnatus. He had once been a senator, then lost his fortune paying his son's bail. Now he worked his own four-acre plot just to feed his family.
When the Senate's envoys arrived, they found him sweating behind a plow. They asked him to put on his toga so they could deliver an official message.
The message: Rome was making him dictator. Absolute power. Total command of the army. No checks. No oversight. No term limit.
He accepted.
Within 16 days, Cincinnatus had raised an army, marched out, surrounded the enemy, and forced their surrender. The republic was saved.
He had legal authority to rule for six months. He could have stayed. He could have expanded his power. He could have done what every other ruler in human history did when handed unlimited control.
Instead, he resigned on day 16.
He took off the toga, walked back to his farm, and finished plowing the field he'd left half-done.
Twenty years later, when Rome faced another crisis, they called him back. He was 80 years old. He took command, crushed the conspiracy, and resigned again, this time after just 21 days.
He died poor. On his farm.
2,200 years later, when George Washington was offered a kingship after winning the American Revolution, he refused and went home to Mount Vernon. The reason he was hailed as "the American Cincinnatus" is because Europeans literally could not believe a man who had won would willingly give up power.
King George III, on hearing Washington would resign rather than rule, said: "If he does that, he will be the greatest man in the world."
The lesson isn't that Cincinnatus was humble.
The lesson is that for most of human history, the people most qualified to lead were the ones who didn't want to. And the moment a society starts rewarding those who chase power instead of those who flee from it is the moment the republic begins to die.
Cincinnati, Ohio is named after him.
Most people who live there have no idea why.
Di Kenya, sebuah sekolah membangun jalur pejalan kaki beratap lengkap dengan titik air minum. Tujuannya untuk melindungi anak2 yang harus berjalan kaki jauh setiap hari dari panas ekstrem. Ini bukan hanya soal fasilitas, tapi bentuk kepedulian yang manusiawi.
# Ibadah orang2 yg diberi kemampuan di hari2 ini: banyak sedekah.
# Ibadah orang2 yg diberi ujian di hari2 ini: bersabar & berdoa.
# Jika semua beribadah dgn baik pada Allah: dengan izinNya, Allah berikan jalan keluar.
Jangan jadikan hujan buat alasan telat ke kantor atau tempat kerja
Dulu ada temen pakai alesan ini langsung dpt ceramah dari bos.
logikanya bos simpel.
"kamu telat ke kantor alesannya hujan, tapi kenapa pulang kerja walaupun hujan deres kamu nggak pernah telat untuk pulang?"
Setelah kucermati bener juga logikanya.
Dan kenyataanya temenku memang kalo udah jam pulang, walaupun hujan juga tetep di gas aja gak pernah telat.
Pelajaran yang bisa diambil dari kejadian ini adalah pulanglah on time brutal apapun keadaanya. 🤣
Dengan Rp150.000, insya Allah sudah menghadirkan 10 kg beras untuk satu penerima manfaat.
• Untuk pengajar Al-Qur’an
• Untuk takmir masjid
• Untuk Muslim/muslimah yang ekonominya lemah
Tafadal yg mau ikutan sedekah beras bareng #cintasedekah
📷📸 Mungkin bagi orang lain, itu hanya kendaraan biasa. Namun baginya, sepeda itu adalah satu²nya kenangan yg tersisa dari ayahnya.
Tak ada kemewahan, tapi hanya kayuhan pelan dan perjuangan tanpa henti, berjalan sederhana penuh makna dan cinta yang tak tergantikan.
Jadi ingat wkt hajian lalu satu grup sama profesor teknik geologi ugm.. tiap lewat gunung batu makkah - madinah selalu cerita detail :
Ini batu apa
Kapan terbentuknya
Dlsb... Smg Allah menjaga pak Prof
Bahkan jika kita duduk di majlis Syaikh Sulaiman Ar Ruhayli di masjid Nabawi, tetap yang kita pinta adalah Allah azza wa jalla agar menjadikan lisan Syaikh / Ustadz sebagai wasilah kita menerima petunjukNya.