"Difitnah-fitnah saya diam, dijelek-jelekin saya diam, direndah-rendahkan saya diam. tetapi hari ini saya sampaikan, saya akan lawan," mungkin begini suara hari Cristiano 😁
2 gol ke gawang Uzbekistan, Cristiano jadi pemain yang selalu cetak gol di 6 Piala Dunia berturut 😎
Meme baru nih 😁
Bakal kepake nih dalam beberapa bulan kedepan, atau at least sampai Arsenal juara UCL(?)
Kameramen selalu pinter yaa dapet aja emosi-emosi yang pas saat pemain dari tim yang didukungnya gagal.
Kalian pernah denger istilah "negeri seremoni"?
Jembatan beton pendek, gak sampe 5 meter, cuma nyebrangin selokan kecil di Dusun Claket, Desa Tohkuning, Karangpandan, Karanganyar.
Hasil gotong royong TNI-Polri plus warga.
Tujuannya mulia — biar anak sekolah sama warga gak lagi nyebrang pake bambu darurat pas banjir, akses ekonomi lancar, hidup lebih gampang.
Tapi peresmiannya kayak lagi resmikan jembatan Suramadu versi mini.
Pejabat pake batik kece, ada panggung tenda, backdrop, layar TV, pasukan pengibar bendera, konsumsi, Dandim, Kapolres, camat, semuanya berbaris rapi.
Gunting pita seremonial, umbul-umbul, protokoler, dokumentasi kinclong.
Ini bukan cuma soal satu jembatan kecil di Karanganyar.
Ini cerminan dari budaya "negeri seremoni" yang lagi rame dibahas orang-orang.
Jembatan dibikin gotong royong (artinya biaya material murah, tenaga warga + aparat), tapi biaya seremoni — panggung, konsumsi pejabat, transportasi rombongan, pengamanan, plakat, umbul-umbul, bahkan Zoom sambutan —
orang langsung bertanya-tanya: “Ini pasti lebih mahal daripada bikin jembatannya sendiri, kan?”
Dan yang bikin miris: jalan sebelum dan setelah jembatan, jalannya masih berbatu, berkerikil, dan rusak.
Jadi seremoninya wah, tapi substansinya? Setengah-setengah.
Ini bukan pertama kalinya. Dulu era Jokowi juga sering ada peresmian posyandu kecil atau jalan desa yang dihadiri rombongan besar.
Sekarang di era Prabowo, pola yang sama muncul lagi. Pejabat daerah suka banget ritual potong pita, sambutan panjang, foto-foto bareng aparat.
Katanya buat “legitimasi proyek”, “sinergi TNI-Polri”, “bukti kepedulian”.
Padahal rakyat kecil cuma butuh jembatan yang kuat dan jalan yang mulus, bukan panggung megah.
Apa dampaknya?
---Pertama, kepercayaan publik langsung goyah.
Orang mulai mikir: “Pembangunan beneran atau cuma buat pencitraan?” Satu video viral ini bikin ribuan komentar sarkastik soal anggaran yang “diseremoni-in” terus.
---Kedua, efek domino ke daerah lain. Besok-besok pejabat kecil di pelosok bakal mikir dua kali sebelum ngadain acara besar buat proyek kecil. Atau malah sebaliknya: mereka makin hati-hati, proyek gotong royong malah takut diviralkan, akhirnya pembangunan mandek.
---Ketiga, kalau dibiarkan terus, “negeri seremoni” ini bisa jadi label permanen. Mirip dulu orang bilang “negara wayang” atau “pemerintahan seremonial”.
Rakyat makin sinis, dukungan ke program pemerintah turun, padahal niat awalnya baik.
Tentu, ada sisi positifnya juga:
Kritik medsos kayak gini kadang jadi wake-up call.
Bisa aja besok Pemkab Karanganyar atau Kemendagri kasih arahan: “Peresmian proyek kecil cukup sederhana aja, video dokumentasi + serah terima simbolis, gak usah panggung berlapis.”
Kalau diambil pelajaran, ini justru momentum bagus buat reformasi birokrasi — lebih fokus ke hasil nyata, bukan kesan wah.
Intinya, tweet ini lagi ngingetin kita semua: pembangunan yang bermanfaat buat rakyat itu penting.
Tapi cara merayakannya jangan sampai lebih mahal dan lebih ribet daripada manfaatnya sendiri.
Kalian setuju gak?
Siapa yang akan menemani Garudayaksa FC promosi ke Super League? Salah satunya akan diketahui sore ini.
PSS Sleman atau Persipura Jayapura? 👀
#SuperLeague#PSS#Persipura
@iIhamzada Kalau menurutku, 'bayar untuk kalah' juga bisa terjadi loh mas. Karena kemenangan sesungguhnya di luar lapangan 🤭
Tapi ini bukan lagi bahas kasus Inter ya mas wkwk
Super League = Arena Bermain Moussa Sidibe
👕 12 pertandingan
⚽️ 10 Gol
🅰️ 7 Assist
Dengan segala hormat kepada pemain dari Persib, Borneo dan Persija, Sidibe layak jadi kandidat terkuat pemain terbaik musim ini.
@strootsys@Kurusetra Kalau di sepak bola lokal, kisah Nico O'Reilly mirip dengan apa yang dialami Rendy Sanjaya (Persik Kediri).
Jarang mendapatkan kesempatan main sebagai gelandang, ia melejit di posisi bek sayap. Eksperimen Marcos Reina yang kebetulan juga asal Spanyol, cukup berhasil sejauh ini.
Innalillahiwainnailaihirojiun
Kuncoro, asisten pelatih Arema FC tutup usia. Kuncoro kolaps di pinggir lapangan. Sempat dilarikan ke rumah sakit, namun tidak tertolong 🥲
Kuncoro ini salah satu legenda Arema FC, dan beberapa kali menjadi karteker Singo Edan.
#AremaFC
Mungkin karena liburannya sudah selesai, jadi waktunya turun dari puncak 😁
Imbang dari Persik, Persib turun ke posisi 3 klasemen sementara 🙂
#PERSIB#PersibDay#PersikDay
🚨Giveaway🚨
Tebak total shot on target dan pencetak gol pertama Indonesia vs Arab Saudi
Ex: Indonesia 7-8 Arab, Thom Haye
Wajib follow, like & repost postingan ini. Hadiah 50K untuk 2 pemenang. Ramaikan!!
#giveaway#TimnasDay
Only 2 months in the season and several coaches and players in the Indonesian Super League have spoken out about not receiving their salaries for long periods of time.
In my case with my former club PSIS, I have now gone 9 months and still no news. My case is already filed with FIFA, but I still have not received a resolution. The club still owes me around 5 months of salary.
I have also spoken with many players across the league, and several of them report that they have not been paid since last season, even though in some cases their clubs have made official announcements claiming that all salaries were settled.
The players' association (APPI) told me there isn’t much more they can do beyond filing the cases. I truly respect their efforts overall, yet in this case I don’t think they’re pushing as much as we need.
Meanwhile, coaches, staff and players continue to suffer and face financial and emotional uncertainty.
While much of the attention is currently on the national team, it is important to remember that no football system can develop or progress without a strong and sustainable domestic league. If the league suffers, the future of Indonesian football is at risk, regardless of how well the national team performs.
This is not only my fight — it affects many players, staff and coaches in Indonesia. I share this to raise awareness and in the hope that together we can push for a fairer and more professional football system.
Sampai kapan pelatih Timnas Indonesia dibandingkan dengan Shin Tae-yong?
Jawabannya ya sampai mereka bisa melampaui apa yang sudah dicatatkan STY. Selama belum bisa, ya silahkan dinikmati saat dibandingkan dengan STY 😇
#TimnasIndonesia#STY