Secinta apa pun dengan pekerjaan, selalu ingat bahwa pekerjaan hanyalah pekerjaan. Berusaha sebisanya, tapi tidak perlu berlebihan. Karena pada akhirnya, kita bisa digantikan ketika atasan tidak lagi membutuhkan
Ingin menghidupkan kembali jiwa lama yang hobi olahraga, membaca, menulis dan berseni. Belakangan hanya sibuk hobi baru dengan sosial media dan kopi. Membosankan
Satu hal yang aku gamau hilang dari diriku sewaktu jadi mahasiswa ini adalah pikiran kritis dan rasa empati untuk orang lain. Kita gatau tuhan akan mengarahkan kita kearah yang mana, tapi kemanapun itu, Semoga bukan diri sendiri saja yang dipikirkan tapi juga orang banyak
Aku ga seopen minded itu gaes, aku masih ga setuju beberapa hal tentang kesetaraan gender,ga setuju sama cowo feminis, ga setuju beberapa kebebasan pers dan banyak hal lain yang belum bisa aku toleransi. Mungkin kita semua gitu ya, suka dengan hal yang terasa mengunutungkan kita
“Cerita aja gapapa kok” gabisa anjeng, walaupun gue anak psikologi tetep aja gamudah buat bilang semua yang gue rasain, maksud gue lo mending diem deh, gue cuma butuh waktu buat mikir
Untuk diri yang selalu angkuh dengan dirinya sendiri ini, mulai menerima fakta bahwa ga semua kejadian harus aku pemenangnya dan disetiap cerita tidak harus selalu ada aku didalamnya.
Kata salah satu temen, mungkin orang2 kayak kami ga terbiasa cerita tentang diri mereka sendiri ke orang lain. Jadi membahas banyak hal random kadang terasa lebih menarik
Cerita dikantor tadi, ternyata banyak juga orang yang males ketika ditanya “Gimana harinya”. I think life is always like that right? Standar tiktok membuatnya seolah olah luar biasa untuk semua orang.
Boleh tolong jangan tanya “kapan” untuk sesuatu yang hanya dalam kendali Allah?
“Kapan nikah?”
“Kapan punya anaknya?”
“Kapan kerja?”
Kalau memang sudah waktunya, pasti si “kapan” itu akan terwujud🙂