@kegblgnunfaedh Pentingnya seorang laki-laki untuk bikin akun steam dan main GTA V, RDR 2, Elden Ring, Skyrim, Ghost of Tsushima sembari menjadi suami siaga. Game tersebut menghilangkan hasrat selingkuh, apalagi Elden Ring. Mikir ngalahin boss nya aja susah, udah males mikir selingkuh, ribet.
Aditya Hasibuan anak Kompol Abdul Rahman melakukan penganiayaan terhadap Ken Admiral seorang mahasiswa. Sudah mengalami kerugian saat korban menagih ganti rugi ke rumahnya, Kompol Abdul Rahman malah menyuruh seseorang untuk mengambil senjata laras panjang.
Kamu tahu? Dulu ada orang2 yg diasingkan & dibungkam gara2 mengkritik. Mereka dikirim ke pulau, ke daerah2 terpencil. Orang2 itu bernama Bung Karno, Bung Hatta, Tan Malaka, Cut Nyak Dien, dll. Buanyaakkk sekali.
Apa hadiah dr kritik mereka? KEMERDEKAAN!
Bima & Lampung. Itu baru 1 orang di era modern ini. Sy yakin ada banyak Bima Bima lainnya. Mustahil pak, menyuruh Gen Z dan millenial diam2 saja. Wong kami dari kecil, sudah pegang mouse dan ponsel pintar.
Alat yg bagi sebagian generasi kami, mungkin jd mesin pencetak drama2 unfaedah, namun bagi sebagian lainnya, justru alat utk memperlihatkan betapa kami sayang dan peduli pd negeri ini.
Tangis Bima, marah & ketakutannya, adlh tangis, marah & rasa takut kami juga! Ada kepal tinju kami, ada suara kami yg tertahan di isaknya sore ini!
Kalau yg dia sampaikan adlh bohong, bgmn bisa orang2 Lampung berbondong2 melakukan hal serupa?
Jika bbrp waktu lalu spall spill ramai oleh pejabat2 di Kemenkeu, maka boleh jd skrg gelombang baru muncul: pada pemda, pemkab, dan pemkot. Ditunggu Bima Bima dari provinsi lainnya! Dituntut utk transparent goverment.
Skrg paham kan, kenapa sy menerbitkan novel judulnya BUNGKAM SUARA? Kalian yg sudah baca, kalau kelak novel ini rupanya ada yg tak suka, ada yg ngadu dan mengada2, ada pengacara yg melaporkan dgn alasan antah barantah, setidaknya kalian sudah baca.
Ini adlh novel terpenting yg pernah sy tulis selain novel ‘Kami (Bukan) Sarjana Kertas’ dan ‘Melangkah.’ Kalau novel ini nanti kenapa2, sy bisa bangga bahwa penerbit yg meminta naskah ini utk mereka terbitkan adalah:Grup Gramedia. Penerbit terbesar di Indonesia.
Bapak2, ibu2, berbenahlah. Kami lihat2, di tubuh Polri yg sering kena ‘kritik’ saja, skrg mulai tampak kok sedikit2 mereka berbenah. Byk petinggi2nya yg lgsg respons jg di sosial media.
Ngomong2 soal anak muda Lampung. Di UI dulu, teman2 kami ada byk anak2 Lampung. Mereka berprestasi. Begitu lulus, byk yg tak mau kembali. Contoh lain: editor sy, salah 1 editor terbaik di Indonesia skrg, juga berasal dr Lampung. Kamu pikir, sebuah novel bisa bestseller, bisa difilmkan, itu murni karena si penulisnya saja? Ada kejeniusan editor di sana!
Lalu saat SMA, kami ikut sebuah kompetisi nasional. Diikuti oleh pemenang dr tiap provinsi, sy dkk mewakili Sumatera Barat. Tahu siapa yg juara? Para pemuda Lampung! Bahkan jarak nilai ke juara 2-nya saja, jauh sekali.
Jika SDM anak2 muda provinsi ini hebat2, kenapa mereka banyak tak mau pulang? Dari sini saja dulu pertanyaannya pak, bu. Kenapa mereka getol sekali mengkritik? Ini mereka orang2 pintar loh, bukan sembarangan kritik. Mereka sesayang itu pd provinsi ini.
Kawan2ku, Gen Z dan Milleinal. Marahlah, marahlah. Masa depan kita, tak boleh diwariskan oleh tangan2 besi yg bahkan mendengarkan “rasa sayang” saja tak mau.
Anda2 yg mau maju 2024 nanti, entah pilpres, pilkada, ingatlah ini baik2 pak, bu. Kami ini fair. Kalau kalian berprestasi, apresiasi akan dtg dgn sendirinya. Kalau apa yg bapak ibu urus bagus, kami takkan ada yg protes saat gaji kalian kelak naik berkali2 lipat. Kami akan cepat2 mengakui, kalau perlu kami yg melindungi kalian dr kepentingan2 ular berbisa yg mengelilingi.
Buat kalian yg mungkin marah, gemetar, geleng2 lihat berita Bima ini, renungkanlah sebentar. Kita sungguh tak mau melihat ada tangis & takut seperti Bima lagi. No single tear, no single blood we want from this. Kami hanya mau didengar. BUKAN DIBUNGKAM SUARA!
Sungguh kalau pemerintah Lampung berani terbuka, berani mencontreng satu per satu kritikan Bima, berani ngebenerin keluhan warga Lampung, orang2 akan akui dgn sendirinya. Kecuali emang ternyata… ah sudahlah.
Korupsi, Radikalisme dan Separatisme, semuanya adalah penyakit kronis suatu bangsa. Terlebih lagi bagi negara besar dan majemuk seperti Indonesia. Tiga hal tersebut adalah skala prioritas untuk ditanggulangi bangsa Indonesia hari ini dan semuanya ada dalam komitmen dasar Prof. Dr. Mahfud MD.
Pak @mohmahfudmd pernah bekerja sebagai anggota legislatif, yudikatif dan hari ini sebagai eksekutif. Lengkap. Dan semua pekerjaan itu ditekuni dengan komitmen kejujuran dan keilmuan. Putra Madura ini menjalankan tugas apa adanya dan mengalir sesuai kemampuannya.
Pak Mahfud tak pernah punya keinginan utk menyerang siapapun karena dia telah memenangkan pertempuran melawan dirinya sendiri. "Probi homines praesentiam veritatis numquam timent", orang jujur tak akan pernah gentar atas hadirnya kebenaran.
Dalam banyak perkara pak Mahfud selalu membangkang dari kejahatan yg hampir disepakati. Dia muncul ketika rasionalitas berpikir suatu kejadian terasa dilanggar, dan dia akan mendobrak semua itu dengan suara lantang. Bahkan pak Mahfud tidak segan untuk berdiri sendirian di sudut sempit, melawan kebohongan yang dinyanyikan seisi ruang dengan orkestrasi memukau.
"Cogito ergo sum"; aku berfikir maka aku ada, kata Descartes. Pak Mahfud bukan penyidik perkara, atau ahli forensik yang harus datang ke TKP untuk mengukur bias pantul peluru yg telah ditembakkan. Bukan itu. Dia hanya perlu duduk untuk berfikir, dan lantas akan berdiri melawan jika ada yang mencoba-coba untuk meringkus kebenaran.
Suatu waktu saya bertemu dengan pak Mahfud di Tegalrejo, di kediaman Kyai Yusuf Chudlori. "Kebenaran itu harus jauh melebihi kepentingan politik, beyond of politics", katanya. "Makanya jangan pernah hitung-hitungan untuk menyuarakan kebenaran di tengah ruang politik, karena kesepakatan politik itu seharusnya tunduk, setunduk-tunduknya kepada kebenaran," tegasnya lagi.
20 Feb 2023 rilis Berita : SriMulyani Makin Galak kejar "Pengemplang Pajak"
Di lapangan, publik yang selama ini merasa depresi menghadapi "Galak" nya petugas/pegawai Pajak akhirnya keluar semua uneg2 mereka di medsos bu menteri.
Mari jadikan kasus ini introspeksi di kemenkeu