Saya pernah baca Nasihat Bapak Jendral Soedirman kepada prajuritnya, ketika beliau berjuang dalam kondisi sakit-sakitan, kata bijak Pak Dirman dengan indah yaitu
“Jika Dalam Perjuanganmu Penderitaan yang Dihadapi Semakin Berat, itu Artinya Keberhasilan Semakin Dekat”.
Wallahu’alam bissawab.
Semoga dokter Tifa tetap semangat dan sehat selalu, pasti Allah tetap melindungi dokter dan kita semuanya.
Aamiiin YRA
-----
Ini adalah salah satu chat dari seorang pendukung kepada saya.
Saya jadikan sebagai pegangan.
Terimakasih orang baik.
Beginilah salah satu cara BGN merampok Negara lewat program MBG :
1) desain awal : MBG diperuntukkan utk yang membutuhkan, yaitu orang miskin dan Ibu hamil, menyusui, dan balita, terutama di daerah 3 T (terpencil, tertinggal, dan termiskin). DIUBAH oleh BGN menjadi semua anak-anak dan Ibu2 agar penerima manfaat (PM) naik menjadi lebih 2 kali lipat (82 juta).
2) Dapur : awalnya satu dapur dirancang melayani 3.000 porsi (PM) per hari dg standar dapur yg ketat DIUBAH oleh BGN menjadi tdk ada batasan bawah dan tdk ada standar dapur. Ini karena BGN jualan dapur. Jumlah dapur (SPPG) membengkak dari kebutuhan ril sktr 15.000 dapur melonjak mendekati 30.000. Saat ini dapur yg sudah dibagi-bagi (diperjual-belikan oleh BGN) mendekati 27.000 dapur. Info yang ada bahwa dari jumlah dapur yang sudah “dibangun” sudah kelebihan mendekati 7.000 dapur. Artinya sdh terjadi pemborosan atau perampokan uang rakyat dari kelebihan dapur saja sktr Rp 300 milyar per hari !!!
Bahkan selain itu juga ditemukan adanya ratusan dapur fiktif. Uang yang dirampok dari SATU dapur fiktif sktr Rp 45 juta per hari !!!
3) pelaksana : awalnya dirancang dapur dimiliki oleh yayasan pendidikan, kesehatan, dan agama DIUBAH menjadi bebas. Maka pemilik dapur adalah yayasan yg dibentuk oleh mereka yg dekat dg pejabat BGN.
4) anggaran : awalnya dirancang dg pola Rp 15.000 per porsi dg rincian Rp 10.000 utk makanan, Rp 2.000 utk sewa sarana prasarana, Rp 3.000 utk overhead dan keuntungan DIUBAH menjadi insentif Rp 6.000.000 perhari per dapur ditambah dg biaya makan dan overhead Rp 13.000 per porsi. Kalau dapur hanya melayani 300 porsi, artinya dapur menerima Rp. 23.000 per porsi sementara utk makanan hanya Rp 10.000.
5) pembayaran. Kontrak antara pemilik dapur dengan BGN dilakukan untuk 2 tahun, artinya tiap dapur langsung menerima jaminan penerimaan sktr Rp 4,4 milyar (insentif Rp 6.000.000 per hari (diluar keuntungan dan overhead Rp 3.000 per porsi). Sementara dg standar dapur yg awalnya ketat menjadi “bebas” maka investasi hanya sktr Rp 750 juta - artinya balik modal tdk sampai setahun (hanya dari insentif sdh menerima skt Rp. 2,2 milyar per tahun)
Dengan gambaran tersebut maka disimpulkan :
1) segera moratorium progam MBG dan tata ulang seluruh pelaksanaannya serta prioritasnya.
2) tangkap semua perampok uang negara lewat MBG - termasuk pemilik dapur yg lewat kongkalikong.
3) abaikan protes pemilik dapur yg jelas sudah merugikan negara lewat program MBG.
Jika ini dilakukan, perkiraan saya APBN bisa dihemat sktr Rp 150 trilyun atau bahkan lebih !!!!
Manusia yg satu ini namanya selalu ada di setiap kasus besar, namun tak lama kemudian selalu lenyap menguap seperti asap.
Apakah MBG akan menjadi hari apesnya ?!
Just wait and see..
Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Qalibaf mengatakan negaranya siap memberikan pelajaran yang tak terlupakan kepada setiap agresi, setelah Donald Trump menolak proposal terbaru Teheran untuk mengakhiri perang.
>> https://t.co/CFJlXLPfho
Iran menolak hadir dalam pembicaraan dengan AS, menyusul blokade yang berlanjut dan insiden kapal. Negosiasi dianggap tidak mungkin tanpa pencabutan blokade.
>> https://t.co/mhnX4ejyCz
Ancaman blokade Selat Hormuz oleh Amerika Serikat dinilai hanya sekadar gertakan politik.
Nonton #MetroTVKontroversi episode PERANG AMBISIUS REBUT SELAT HORMUZ selengkapnya di Youtube Metro TV https://t.co/TSmYbrnpQH
Kalau berita ini benar dan Presiden Prabowo mau didek-te oleh AS unt serahkan wila-yah udara kita, maka siap-siap lah segenap warga Indonesia akan protes keras
https://t.co/jOIX3BLyPR
Permintaan AS unt bebas gunakan ruang udara Indonesia harus ditolak, tidak perlu dibahas, jangan pakai dalih apapun unt ijinkan ruang udara RI digunakan pesawat militer As
https://t.co/BuCnVcp3oP
TERBONGKAR!
Kami sudah mengetahui siapa pemilik nomor HP +6281246030140 dimana Andi Azwan mengaku pemilik nomor ini adalah dr Tifa yang meminta RJ, padahal saya TIDAK PERNAH memiliki maupun menggunakan nomor tersebut, apalagi menghubungi Andi Azwan untuk minta RJ dan sebagainya.
Ternyata setelah kami cek nomor register, CDRI (Call Data Record Information), NIK, dan KK pemilik nomor ini ,adalah salah seorang Termul Senior!
Inilah kebodohan Gerombolan Termul, yang dengan ceroboh menggunakan nomor salah seorang dari mereka untuk membuat WA Palsu seakan-akan dari dr Tifa.
Nomor ini sudah kami laporkan, nama pemiliknya sudah tercatat, dan jika Termul-Termul macam-macam lagi kepada saya
Saya tidak akan segan melaporkan sebagai Tindak Kejahatan ITE yang sangat serius!
2 termul terlucu sedunia.
Razman dan Silfester mengancam penjarakan dokter Tifa dkk. Tahunya justru status mereka sendiri Terpidana 1,5 tahun dan 1,5 tahun
#RakyatButuhPresidenBaru#RakyatButuhPresidenBaru
@DokterTifa : "Biarlah mereka berbicara dengan narasi yang dibangun dari prasangka.
Saya akan terus melangkah dengan narasi yang dibangun dari ilmu, data, dan tanggung jawab.
Jalan ini bukan jalan nyaman,
tetapi jalan yang harus ditempuh oleh mereka yang memilih untuk tidak diam.
Dan saya memilih untuk terus berjalan."
https://t.co/dIcRWLCilt
*INDONESIA MEMANGGIL PRESIDEN JENDERAL PRABOWO*
Masihkah Ada Harapan Penuntasan Kasus Andrie Yunus?
*DENNY INDRAYANA*
Ketika saya bertanya respon Presiden Prabowo atas serangan air keras dan upaya pembunuhan Andrie Yunus, seorang sahabat, berkirim pesan suara, “Presiden marah, _pakai banget_. BAIS. Itu pasti dipenjara, diadili”.
Tindakan biadab penyiraman air keras kepada Andrie Yunus dapat dipastikan adalah salah satu ujian sejarah paling krusial atas kepresidenan Jenderal Prabowo Subianto.
Tentu, setiap hari adalah panggilan tugas bagi seorang presiden. Setiap detik, adalah momen pengabdian, tidak jarang pengorbanan. Yang jika digunakan dengan tepat, seringkali berujung dengan catatan keberhasilan. Dengan kewenangan terbesar dan terkuat di republik, presiden hampir bisa melakukan apa saja. Meski, bukan berarti presiden tidak pernah kalah dan salah langkah.
Yang bisa mengontrol dan mengalahkan seorang presiden adalah diri dan ketakutannya sendiri. Sejak awal abad Masehi, seorang filsuf Romawi Lucius Annaeus Seneca, penasihat Kaisar Nero, mengatakan, _“Imperare sibi maximum imperium est”_. Artinya, satu-satunya kekuatan yang bisa mengalahkan penguasa adalah dirinya sendiri.
Dalam bahasa Presiden Barack Obama, _“The biggest challenge, I think, is always keeping your moral compass.”_ Karena, hampir semua kontrol sangat mudah diabaikan, termasuk dari parlemen sekalipun. Maka, yang paling menjaga arah bijak dan bajik seorang presiden adalah kompas moralitasnya sendiri. Saking menggoda dan berbahayanya kekuasaan presiden, Richard Nixon, yang akhirnya terpaksa mengundurkan diri karena skandal Watergate, pernah mengatakan, _“When the president does it, that means that it is not illegal”_.
Ujian air keras Andrie Yunus menjadi tantangan terberat Jenderal Prabowo, karena diduga menyeret keterlibatan institusi negara kebanggaan kita yang membesarkannya: Tentara Nasional Indonesia. Instruksi Presiden Jenderal Prabowo, saat wawancara terakhir di Hambang, “Saya minta kasus ini diusut tuntas. Tidak boleh ada yang ditutup-tutupi. Hukum harus ditegakkan seadil-adilnya.”
Dengan kewenangan kepresidenannya, terlebih selaku Panglima Tertinggi seluruh angkatan bersenjata, seharusnya tidak sulit bagi Presiden Prabowo untuk menguliti dan menemukan dalang atau aktor intelektual pelaku percobaan pembunuhan Andrie Yunus.
*Persoalannya, tidak ada satupun sejarah republik yang mencatatkan keberhasilan pengungkapan tuntas kasus serangan dan pembunuhan aktivis.*
Sebutlah di era Orde Baru, ada pembunuhan wartawan Udin, buruh Marsinah, ataupun seniman Wiji Thukul, semuanya gagal mengungkap pelaku lapangan, apatah lagi pelaku utamanya. Di era Presiden SBY, dalam kasus pembunuhan arsenik kepada Munir, yang dihukum hanya aktor lapangan, Pollycarpus. Dalam kasus penyiraman air keras Novel Baswedan, tidak ada aktor intelektual yang berhasil diungkap. Dua polisi aktif pelaku lapangan pun hanya diganjar hukuman ringan penjara.
Satu-satunya catatan keberhasilan yang menjatuhkan sanksi kepada yang diduga pelaku utama adalah dalam peristiwa penculikan aktivis 1998. Saat mana selain pelaku lapangan “Tim Mawar” yang divonis penjara ringan, ada Mayjen Muchdi PR dan Letjen Prabowo Subianto, yang diberhentikan dari TNI, meski tanpa sanksi pidana. Yang menarik, Muchdi kemudian berkarir di Badan Intelijen Negara hingga menjadi Deputi, lalu disidang sebagai terdakwa dalam kasus pembunuhan Munir, dengan putusan bebas. Sedangkan Prabowo, oleh Presiden Jokowi diberi pangkat Jenderal Kehormatan, lalu dipilih menjadi Presiden Republik Indonesia.