Media Inggris, BBC Sport, menyoroti standar ganda FIFA soal tuan rumah Piala Dunia.
"Indonesia, yang seharusnya menjadi tuan rumah Piala Dunia U-20 2023, dicopot hak tuan rumahnya setelah menyatakan bahwa Israel tidak akan diizinkan masuk.
Namun, ketika Amerika Serikat membuat keputusan serupa yang berdampak pada negara-negara peserta Piala Dunia, seperti Iran, FIFA menyatakan bahwa mereka tidak berdaya."
📝 @BBCSport
To Partai Golkar:
lagu MBG Bahlil ini didedikasikan untuk kinerja buruk beliau, bukan untuk memuji bahlil ganteng, apalagi memuji kinerja beliau, only hujatan, sekian dan terimakasih
🚨 NEW : Aliansi suporter Chelsea, Man United, Man City, Liverpool, serta PSG di Kenya menggelar parade bus terbuka di Nairobi untuk merayakan kekalahan Arsenal di final Liga Champions. 🫵😹
Eric Omondi (komedian Kenya yang sekaligus fans Man United) disebut yang memprakarsai acara ini.
Ia yang menyewa bus terbuka, membawa DJ, sound system, dan menghias bus bertuliskan “Champions of Europe”.
📸 via @oyimzy
Chelsea 2012 benar-benar tim anomali.
Final UCL dimainkan di kandang Bayern, tertinggal lebih dulu, ditekan sepanjang laga, adu penalti di depan lautan fans lawan, bahkan nendang penalti urutan kedua.
Tapi yang angkat trofi justru Chelsea. 🏆
Cerita Bulog di era Prabowo itu punya plot twist yang susah dikarang:
Feb 2025: Prabowo tunjuk jenderal TNI aktif , Mayjen Novi Helmy, jadi Dirut Bulog.
Langsung disorot karena melanggar UU TNI: jabatan sipil tidak boleh diisi prajurit aktif.
KSAD bilang "sudah tidak tentara lagi sejak dilantik."
Panglima TNI bilang "tunggu, nanti mundur."
Publik bingung.
Juni 2025: Panglima TNI kirim surat ke Menteri BUMN , minta Novi ditarik kembali ke TNI.
Bulan Juli, Novi dicopot dari Bulog.
Resmi kembali ke TNI.
Jadi prajurit aktif lagi.
YLBHI menyebut seluruh prosesnya "main-main dan coba-coba."
Penggantinya?
Mayjen TNI Ahmad Rizal Ramdhani. Jenderal lagi. Militer lagi.
Bulog : lembaga yang tugasnya stabilisasi pangan 280 juta orang, dalam 6 bulan punya 3 pimpinan berbeda.
Semua dari unsur militer atau penunjukan darurat.
Tidak ada seleksi terbuka, tidak ada proses merit.
Ini bukan reformasi birokrasi.
Ini percobaan.
Para jurnalis dan pengamat bola telah menyimpulkan bahwa penalty Bruno Fernandes vs Man City ini adalah penalty dengan teknik terbaik di sepak bola modern jaman sekarang 😱🤯
Come and visit London’s Home of Trophies. 🏆
Book your Stadium Tour at Stamford Bridge now. ⭐️⭐Come and visit London’s Home of Trophies. 🏆
Book your Stadium Tour at Stamford Bridge now. ⭐️⭐Come and visit London’s Home of Trophies. 🏆
Book your Stadium Tour at Stamford Bridge now. ⭐️⭐Come and visit London’s Home of Trophies. 🏆
Book your Stadium Tour at Stamford Bridge now. ⭐️⭐Come and visit London’s Home of Trophies. 🏆
Book your Stadium Tour at Stamford Bridge now. ⭐️⭐Come and visit London’s Home of Trophies. 🏆
Book your Stadium Tour at Stamford Bridge now. ⭐️⭐️
Guys, DPR baru saja mengusulkan sesuatu yang menurut gue paling sempurna menggambarkan betapa jauhnya jarak antara para wakil rakyat dengan kenyataan rakyat yang mereka wakili.
Di tengah rupiah Rp17.700.
Di tengah badai PHK yang mengintai.
Di tengah guru honorer yang digaji Rp1,5 juta per bulan.
Di tengah anggaran pendidikan
yang dipotong 44% untuk MBG.
Anggota DPR dari Fraksi Gerindra mengusulkan:
Alokasi APBN 2027 untuk membangun 1.000 layar bioskop di desa.
Gue perlu berhenti sejenak dan baca ulang itu:
Seribu Layar Bioskop Di desa.
Dari APBN.
Dari uang pajak rakyat.
Di 2027.
Dan ini yang paling menggelikan:
Alasannya mulia.
Untuk mendukung rumah produksi kecil di daerah.
Untuk menampilkan potensi dan budaya lokal.
Untuk memberi akses sinema kepada rakyat desa.
Tapi ada satu pertanyaan yang tidak pernah dijawab dalam rapat itu:
Rakyat desa yang gajinya di bawah UMR dengan harga bahan pokok yang terus naik mau beli tiket bioskop pakai uang apa?
Dan ini datanya yang harus dihadapkan langsung:
88% kepala rumah tangga Indonesia tidak punya pendidikan S1.
IQ rata-rata Indonesia 78,9 hampir juru kunci dunia.
Skor PISA Indonesia peringkat 69 dari 81 negara.
50% pegawai Indonesia pernah mengalami stunting waktu kecil yang artinya perkembangan otak mereka terganggu sejak masa paling kritis.
Guru honorer yang seharusnya menjadi satu-satunya harapan untuk memutus rantai kebodohan struktural ini — digaji Rp1,5-2,8 juta per bulan.
Di bawah UMP. Di bawah standar hidup layak.
Dan anggaran pendidikan yang seharusnya mengurus semua ini dipotong 44% untuk program makan siang.
Tapi DPR punya solusi:
Bukan 1.000 sekolah baru di daerah terpencil yang belum punya akses pendidikan layak.
Bukan rekrut 100.000 guru berkualitas dengan gaji Rp40 juta per bulan yang total biayanya hanya Rp50 triliun atau 7% dari anggaran pendidikan yang ada.
Bukan perpustakaan desa.
Bukan laboratorium sains.
Bukan akses internet untuk sekolah-sekolah yang masih mengajar dengan papan tulis kapur.
Tapi bioskop.
Dan ini logika yang paling sederhana:
Dr. Tirta sudah bilang:
rakyat yang pintar adalah ancaman bagi penguasa yang tidak kompeten.
Karena rakyat yang pintar akan mempertanyakan kebijakan yang tidak ada gunanya.
Ahok sudah bilang:
kebodohan struktural bukan kebetulan. Ini by design. Tidak ada pemerintah otoriter yang ingin punya warga yang benar-benar cerdas.
Mahfud MD sudah bilang:
demokrasi tidak akan berhasil sebelum pendapatan per kapita mencapai 5.500 dolar.
Rakyat yang masih miskin dan tidak berpendidikan pasti menjual suaranya.
Dan sekarang alih-alih memperbaiki pendidikan yang bisa mengubah semua itu DPR mengusulkan membangun bioskop.
Rakyat yang tidak pintar tapi punya bioskop jauh lebih mudah dihibur.
Jauh lebih mudah dialihkan perhatiannya.
Jauh lebih mudah diberi sesuatu yang kelihatan seperti pemberian tanpa benar-benar mengubah kondisinya.
Dan ini yang paling menohok:
Orang desa yang gajinya Rp2-3 juta per bulan yang harga kedelai dan telurnya sudah naik karena rupiah melemah yang anaknya sekolah dengan guru yang mau resign karena gajinya tidak cukup untuk makan
Tidak butuh bioskop.
Mereka butuh guru yang digaji layak supaya anaknya tidak tumbuh dengan IQ 78.
Mereka butuh sekolah yang layak supaya anaknya bisa bersaing.
Mereka butuh sistem pendidikan yang mengajarkan berpikir kritis bukan menghafal untuk ujian.
Karena bioskop tidak mengubah nasib.
Bioskop hanya menghibur orang yang nasibnya tidak berubah.
Dan angkanya bicara sendiri:
1.000 layar bioskop dengan asumsi biaya pembangunan, peralatan, dan operasional bisa menghabiskan ratusan miliar bahkan triliunan rupiah dari APBN.
Uang yang sama bisa dipakai untuk:
menggaji 25.000 guru berkualitas selama satu tahun penuh. Atau membangun ratusan perpustakaan desa dengan koleksi buku yang memadai.
Atau memberikan beasiswa bagi ribuan anak desa yang putus sekolah karena tidak mampu.
Tapi yang diusulkan adalah bioskop.
DPR bukan Dewan Perwakilan Rakyat.
DPR adalah Dewan Penghibur Rakyat.
Rakyat tidak dirancang untuk pintar karena rakyat yang pintar tidak bisa dihibur dengan bioskop.
Rakyat yang pintar akan tanya:
kenapa anggaran pendidikan dipotong tapi ada uang untuk bioskop desa?
Kenapa guru digaji Rp1,5 juta tapi ada dana untuk layar sinema?
Kenapa stunting masih 21% tapi kita bahas distribusi film nasional?
Dan pertanyaan-pertanyaan itu jauh lebih berbahaya bagi mereka yang duduk di kursi DPR daripada rakyat yang diam di depan layar bioskop desa sambil lupa bahwa hidupnya tidak berubah.
Fans Chelsea dengan senang hati ingin sedekah 3 poin kepada Manchester City, demi King Of London tidak juara Premier League.
Baik hati sekali fans Chelsea ini. 🥰