pemenang sejati adalah mereka yang berhasil melawan dirinya sendiri, karna musuh terbesar kita adalah diri kita sendiri.
itu aku, bagaimana dengan kamu?
Grief itu sangat personal. Datangnya tidak sekaligus, tapi kayak gelombang.
Kadang tenang seolah semuanya baik2 saja, lalu tiba2 menghantam tanpa aba2, membawa kembali kenangan, suara, bahkan hal2 kecil yang dulu terasa biasa.
Dan yang paling sulit, tidak ada timeline yang pasti, tidak ada kapan harus selesai, tidak ada ukuran kapan kita “sembuh.”
Di tengah semua itu, kita belajar satu hal yang tidak pernah diajarkan sebelumnya: bagaimana hidup berdampingan dengan kehilangan. Bukan melupakannya, tapi memberi ruang baginya untuk tetap ada tanpa menghancurkan kita.
Pelan-pelan, kita menemukan bahwa duka tidak selalu berarti kehancuran, kadang justru menjadi tempat di mana kasih, kenangan, dan harapan dipelihara dengan cara yang baru.
Take ur time to grief. It’s painful, but somehow you'll learn to carry it without letting it carry you.
Duka yang dialami bareng-bareng, bisa terasa ringan karna kita punya tempat berbagi. Bisa saling cerita karna ngalamin hal yang sama.
Kayak duka kehilangan anak kami. Gue beruntung bisa berduka bareng istri.
Tapi ternyata, duka bersama ini pun, akhirnya tetap terasanya sangat pribadi.
Dirasakan sendiri. Ditata sendiri dalam hati. Ga sanggup lagi untuk dibagi.
Bukan karna pasangan kita ga ada atau ga peduli.
Tapi karna kami berdua butuh pulih.
Duka seperti ini, bisa datang tanpa aba-aba. Timingnya ga ada yang bisa menduga.
Saat rasa duka itu muncul tiba-tiba, lo ga mau narik orang lain dalam luka yang sama.
Lo ga mau pasangan mu harus merasakan sedih saat itu juga.
Jadi, memproses perasaan pedih itu, akhirnya tetap harus sendiri.
Makes sense ya.
DULU GW TERMASUK YG MIKIR, 'AH GPP LAH GW YG LEBIH CINTA SAMA LAKI'
Tapi nyokap terus2an blg, 'Nikah sama yg lebih cinta. Kalo gak, gak usah buru2. Cintai diri sendiri'
Pas akhirnya nikah... PAHAM. Lbh dicintai itu bikin hati tenang.
Lbh dicintai itu bkn ttg romantis2 ya.
dibikin nangis sama tulisan ini🥺
Tuhan akan menghadirkan seseorang yang mirip denganmu, yang setulus dan sebaik dirimu, yang benar-benar pantas untukmu.
Seseorang yang memahami jiwamu, sehingga kamu tidak perlu lagi menghabiskan hidup hanya untuk menjelaskan.
Teruslah menjadi baik, karena energi tidak pernah berbohong. Tetaplah tulus, tetaplah jadi dirimu sendiri. Biarkan waktu yg mengantarkan seseorang yg benar-benar ditakdirkan untukmu.
Aku dulu ngerasa ga nyaman tiap dibayarin cowo. Jiwa provider aku yang sugar sister itu beneran terluka dan gak dikasih makan egonya.
Sampe akhirnya keseringan dapat mokondo dan aku punya temen deket namanya A yang dari awal jalan lgsg bilang "Rin, ini all me ya. Lemme pay karena ini treat dari aku"
Dia sering banget jemput aku di tempat kerja lama + ninggalin helm dan motorku di parkiran. Gatau berapa kali bawa aku night ride sambil muter lagu lana del rey atau bernadya. Sometimes dia tetep kasih makan egoku dengan letme pay tapi transfer diem-diem.
Dia beneran bikin aku belajar menerima dibayarin tapi pelan-pelan. Yang kedua waktu aku jalan sama B, dengan tegas dia bilang "bub, aku ini cowo. Kamu juga harus kasih makan egoku".
Oh ternyata ego jiwa provider ini tetep perlu dikasih makan. Rasa ingin diandalkan itu perlu dikasih makan juga.
Papaku? He gimme the money tapi aku yang bayar ke kasir. Mungkin ini yang bikin aku jadi terbiasa ngebayarin.
Jadi, kalo kamu dibayarin tolong belajar menerima ya girls. As provider cuma pengen kamu seneng dan bahagia kok. Perihal reimburse seperlunya aja buat kasih makan rasa ingin diandalkannya.
Apapun itu semoga dipertemukan dengan yang setara, baik dari pemikiran maupun keadaan ekonomi yaaa 🥰
Waktu gue depresi karena patah hati, gue bilang ke psikolog gue:
"Aku nih gym 5-6x seminggu loh, tapi aku masih nangisnya kaya anak kecil tiap hari, kenapa?"
dia tersenyum kecil, lalu berkata:
"Ini tangki emosi kamu (nunjukin gelas teh gede), lalu emosi yang kamu rasain itu kaya pitcher yang terus nuangin air ke gelas kamu. Kalau kamu berhenti atau ngurangin olahraganya, gelas kamu jadi kecil, airnya jadi cepat penuh kan?
Gapapa, lanjutin aja, nanti air di dalam pitchernya bakalan habis kok dan tangki kamu bakalan cukup memenuhi emosi itu"
Dari situ baru gue ngangguk dan paham, bukan olahraganya ga ngefek, emang sedihnya patah hati tuh SEDIH BANGET.
Simply, karena ya perasaan ini nyata, ga kaya orang itu yang "pura-pura" cinta.
Kalian ngerasa ga sih, mall masih rame, antrian kopi masih panjang, restoran masih penuh.
Padahal rupiah lagi di titik terlemah sepanjang sejarah dan ekonomi lagi susah.
Nama fenomena ini adalah Lipstick Effect.
Dan ini justru sinyal bahaya loh!🧵
Di tempat yang salah, sekalipun kamu memberikan yang terbaik, tetap gak akan pernah cukup,
Tapi di tempat yang tepat, kehadiranmu saja dirayakan...
Semoga kamu beruntung menemukan tempat yang tepat itu.
Tadi sebelum pulang kantor tanpa sengaja ketemu dengan mantan tunanganku 4 tahun yang lalu, dia minta maaf dengan apa yang telah terjadi. Lalu dia cerita kalau mamahnya meninggal 4 bulan yang lalu, dan dia pun minta aku memaafkan segala kesalahan mamahnya.
Aku gamau berinteraksi terlalu lama, tapi ketika aku pamit pulang dia bilang "Bulan Juli nanti aku mau nikah, kalau kamu sempat hadir ya". Belum sempat ku bilang iya, ternyata dia akan menikah dengan perempuan yang dia jadikan selingkuhan pas lagi pacaran sama aku.
Sekarang kepalaku kacau, gatau harus sedih, kecewa, menyerah, atau gimana, aku gatau. Bukan aku gak moveon, kalau ditanya aku lagi dekat sama siapa? Ya mungkin ada, intens, tapi yaudah.
Cuma daritadi mikir, kok bisa ya orang yang selama hidupnya menyakiti orang lain masih hidup dengan enak, nyaman, bahagia. Sedangkan orang yang mereka sakiti harus mati-matian sembuh karena luka yang mereka berikan.
Orang-orang bilang “if he wanted, he would.”
Dan aku juga dulu percaya banget sama kalimat itu.
Sampai akhirnya psikologku bilang:
“Kadang bukan karena dia gak sayang, tapi karena dia memang belum siap.
Bisa jadi mentalnya lagi capek, emosinya belum stabil, atau hidupnya masih berantakan.”
Di situ aku baru sadar, ternyata hubungan gak selalu soal siapa yang lebih cinta.
Kadang juga soal siapa yang sedang sama-sama belajar mengerti keadaan satu sama lain.
Because sometimes, love is not only about being understood,
but also learning to understand.