I believe this 100%. It's inconsiderate to desire to only speak big and deep things with strangers. Small talk is meant to build rapport, test the waters, to see what the vibe is. Doing too much too fast can make the other person uncomfortable. It's not fair to ask a stranger how
I used to buy those cheap sunglasses from the roadside all the time and always thought, "What's the point of buying expensive ones? I'm going to loose them anyway." Then one day, I gathered the courage and bought an expensive sunglasses. And guess what? I still have them. I've taken care of them ever since.
That's when I realized those cheap sunglasses weren't getting lost because they were cheap? They were getting lost because I didn't value them enough to care. It's hard to accept, but sometimes in someone else's story, you are that cheap pair of sunglasses.
untuk semua teman” ku yang anxious, scared, and bingung untuk mencoba sesuatu,,, tolong dengarkan ini yaa video ini aku simpan dekat di hati ku love bgt ibu ini
Orang orang sini tuh trlalu alergi sama soshum
Even org org soshum kdg dipandang annoying...
I remember this one girl from my highschool, she's super woke dan buat levelan anak skolahan, dia dulu dipandang aneh, dibilg freak, di kucilkan, but no one dares to verbally bully her—
ngomong-ngomong soal fenomena marak ini, jadi keingat konsep "moral disengagement" dalam psikologi sosial yang diajarkan oleh dosenku. kenapa ya kok orang-orang ga merasa bersalah saat melakukan suatu hal yang melanggar moral dan norma yang ada? nah bisa jadi orang tersebut mengalami moral disengagement (memisahkan tindakannya yg ga etis dengan moral yg ada sehingga ga merasa bersalah saat melakukannya).
terus kenapa si kok orang tetep mau nyuri konten orang lain, posting rage bait yg memancing amarah, dan menghalalkan segala cara agar postingannya ramai dan mendapat banyak impresi/validasi? ada 4 mekanisme moral disengagement yang mungkin terjadi dari 8 mekanisme yg ada yaitu
- biasanya pelaku pencuri konten merasa itu bukan kesalahan yang besar karena membandingkan tindakannya dengan kejahatan besar (advantageous comparison), contoh "halah, aku cuma nyolong postingan doang kok, bukan korupsi uang negara. gitu aja diributin."
- kadang berlindung di balik kelakuan orang banyak atau sistem biar ga ngerasa salah sendiri (displacement & diffusion of responbility), contoh "lahh algoritma platformnya yang nuntut kayak gini buat engagement, banyak kok yang ngelakuin"
- seringkali tutup mata terhadap kerugian kreator postingan aslinya dan malah ngerasa berjasa (distortion of consequences) contohnya, "harusnya dia makasih dong, postingannya kan semakin viral gara-gara aku upload di sini"
- saat ditegur dan dikritik, ujung-ujungnya malah kadang playing victim dan berbalik menyerang pihak yang protes (attribution of blame) contohnya, "kreator aslinya aja yang terlaku baperan" atau "apasihh netizen aja yang terlalu sensitif banget"
pada akhirnya, balik lagi ke hak masing-masing sih mau bikin konten atau meramaikan akunnya kayak gimana. tapi plsss, pastiin aja cara yang kita pakai nggak ngerugiin atau ngambil hak orang lain yaa. di sini aku cuma mau sharing tipis-tipis aja dari pov psikologi, sama sekali bukan mau nyari ribut hehe. spread love and stay positive guys<3
konsisten emang sesusah itu, di titik inilah grit (kegigihan) dan self-control kita beneran diuji. di awal motivasi kita mungkin menggebu-gebu, tapi hari demi hari kadang semangat itu menurun. keberhasilan bukan cuma soal motivasi awal yang menggelora (banyak faktor lainnya juga) salah satunya yaitu seberapa tahan kita ngelewatin rutinitas harian yang ngebosenin meskipun semangat lagi naik turun.
bertahan di fase ini tuh nguras self-control gede banget, karena otak bawaannya pengen nyari pelarian ke hiburan instan (kayak scroll sosmed atau rebahan). nah, pas motivasi udah habis, grit ini salah satu faktor yang bisa bikin kita tetep milih jalan terus walau sambil ngeluh. saat lagi ngerasa jenuh, gapapa loh istirahat dulu. setelah itu, mungkin bisa coba pecah rutinitasnya jadi target-target kecil (micro-steps) dan kasih reward sederhana ke diri sendiri tiap selesai ngerjainnya. ini ngebantu otak biar tetep dapet asupan dopamin dan ga ngerasa terlalu jenuh.
last but not least, buat semua yang lagi berjuang dan bertahan di fase menghadapi rurinitas yang membosankan, apresiasi sebesar-besarnya buat kalian. konsisten di tengah rasa bosan itu another level of crazy, dan kita hebat banget udah bisa bertahan sejauh ini. proud of you guys, semangat terus ya. nah, kalau dari kalian sendiri, ada hack atau cara ga sih buat ngakalin rasa bosen pas lagi ngejar target? drop di bawah dong, siapa tau bisa jadi insight baru buat yang lain juga.....
Hyper consumerism di Indonesia itu juga karena... Marketing sejak lama udah perlahan2 merambah semua sisi2 di hidup, bahkan di hal2 yang tak terlihat sekalipun
Ini terutama di tiktok / shortform content: Orang ngiklanin produk di mana2; Tak ada kejelasan apakah suatu konten itu iklan atau nggak. Endorsement disamarkan sebagai review; Bahkan vlog soal kehidupan saja ada product placementnya. Reply2 post viral dipenuhi iklan. Semua isinya iklan
Departemen marketing berusaha keras menormalkan "membeli" dan "mempunyai", sampai2 orang merasa normal untuk beli2 di kondisi apapun. Liburan? "Harus" baju baru. Harus punya HP ini. Foto harus "bagus"; Semuanya harus "ditunjukkan"
saking susahnya nyari kerja di Indo tuh aku pernah ngelist yg dilakuin temen temenku selama kuliah… mostly all of my friend berusaha ngelakuin semua hal disini. kayak… lu semua capek gasih kita semua harus bersinar bgt biar dapat kerjaan yg memadai.
“gapapa gapunya privilege asal ada skill” meanwhile buat ngasah skill tuh butuh duit semua… buat dapat sertif jg butuh duit.. literally semuanya harus ADA DUIT 😞
kebayang gak sih anak kuliahan yg harus kerja dulu biar bisa kuliah, harus EXTRA work, belum lagi bersaing dg org org yg punya ordal. gila kasihan bgt nasib kita semua
pernah nggak sih...
kamu cuma ingin menyampaikan kalau kamu terluka. tapi beberapa menit kemudian, malah kamu yang minta maaf. padahal awalnya bukan kamu yang berbuat salah.
aku coba jelasin sedikit dari sudut pandang psikologi yaaa
hukum Yerkes-Dodson dalam psikologi selaras dengan apa yang diucapkan mamel #KimHyeyoon dimana hubungan antara ambisi dan hasil itu mirip huruf U terbalik. jika terlalu menggebu-gebu (menggenggam terlalu erat), otak bakal stres, cemas, dan panik sehingga fokus jadi berantakan dan performa malah zonk (pasir berjatuhan). tetapi, ketika kita rileks dan ikhlas (genggaman dilonggarkan) ini dapat menurunkan hormon stres ke titik optimal. otak jadi tenang, berpikir jernih, dan lebih peka melihat peluang (pasir banyak terambil).
intinya, ambisi itu harus, tapi kalau berlebihan juga gabaik. terkadang, cara terbaik jemput peluang adalah dengan menurunkan ekspektasi dan kasih ruang buat diri sendiri bernapas💫
Ada 1 fakta menarik yang ga banyak orang di luar Amerika tau. Kenapa banyak artis Amerika kena Lyme disease?
Ada satu daerah "elite" di New York yang namanya Hampton. Area ini terkenal jadi tempat liburan selebritas di Amerika. 66% kutu(tick) di daerah Hampton ini ada si bakteri Borrelia burgdorferi, penyebab Lyme disease. Secara ga langsung Hampton bisa disebut High-Incidence Area
Bukan:
Hate seeing people exercise.
Tapi:
Just hate seeing rich people.
Karena kalau yang diposting itu jogging keliling kompleks, lari CFD, atau futsal tiap Jumat, hampir gak ada yang ribut.
Orang bereaksi bukan karena aktivitasnya.
Tapi simbol yang ikut nempel di aktivitas itu.
Pilates.
Padel.
Membership jutaan.
Outfit olahraga belasan juta.
Brunch setelah workout.
Story estetik jam 10 pagi di hari kerja.
Olahraganya cuma 1 jam.
Lifestyle-nya yang dipamerin seharian.
Dan ketika sesuatu terasa seperti penanda kelas sosial, komentar sinis pasti lebih gampang muncul.
Lucunya, kalau besok pilates bisa dilakukan gratis di lapangan dekat rumah, kemungkinan besar separuh nyinyirnya langsung hilang.
Jadi masalahnya bukan exercise.
Tapi privilege yang kelihatan lewat exercise.
dulu aku terpaksa berdamai dengan e-book karena buku² penunjang kuliah ga murah, dan di perpus pun terbatas jumlahnya, bahkan banyak yang ga tersedia.
dan nemuin cara biar lebih nyantol itu butuh waktu. bikin "istana memori" internal doesn't work, because I don't believe in my own memories 🤣
jadi bikin "istana memori" external lebih masuk akal.
metode paling masuk di aku itu memang tulis manual pake tangan point² dan quotes yang penting. biasanya sekalian langsung analisis pake korpus biar tambah nyantol pengaplikasian teorinya. keuntungannya pake e-book juga bisa dihighlight dan dicorat-coret tanpa merusak buku aslinya, jadi ini memudahkan juga.
ini berlaku juga buat film. tentu pas nonton ga sambil nulis ya. tapi habis nonton aku tulis manual point apa aja yang mau aku highlight. di proses menulis manual inilah lalu muncul perspektif yang tadinya ga kepikiran ketika nonton. kepikiran bisa dibedah pakai teori maupun dihubungkan dengan keadaan sosial-politik-budaya pun seringkali muncul saat proses menulis manual ini. habis semua kelar baru diketik. waktu ngetik ini pun ada proses editing lagi dan kadang kepikiran lagi perspektif baru.
kelihatannya ribet ya, tapi ini proses yang works di aku dan udah jadi kebiasaan. jadi bagiku ini proses yang cukup menyenangkan.
bagian kurang menyenangkannya ketika udah melalui proses panjang begini, dibilang pake AI wkwkwkwkwk.
Baca Crime and Punishment so far aku ngerasa Keigo Higashino punya jejak² Dostoyevsky. Karena jujur secara pola dan struktur tuh bikin ga asing. Bedanya aku ngerasa Keigo ini versi lite dan minimalis, ga sedetail Dostoyevsky yang bisa jelasin org ke rumah temen tapi 4 halaman 😭
you suffocate when you consume more than you create. your chest tightens when you see muses because your own expression is waiting. daily expression keeps you from idolizing others too much