ㅤ
ㅤ.. kecanggungan nan gelisah, aku sekali lagi memandangi dirimu; dalam senyum yang turut tumbuh. "ayo?"
ㅤ seyogianya aku tidak melupakan keinginanmu untuk membantuku. "terima kasih." saat kata itu diucapkan, aku mulai kembali mengayuh sepedaku 'tuk berjalan ...
ㅤ
ㅤ
ㅤ.. memberiku tatapan tulus penuh kesungguhan. aku tidak bisa menolaknya.
ㅤmenghapus segala risau nan gelisah yang menguasai diri, aku lekas meraih dua botol susu 'tuk lalu bergerak mendekati dirimu. "di depan sana ada satu rumah yang harus kita antarkan susu. mohon ..
ㅤ
ㅤ
ㅤsejemang dengan berbagai tanya darimu yang terluncur untukku, aku tergelitik ingin menjawab seluruh pertanyaan itu. "setiap hari." jedaku, "sisa tiga rumah lagi."
ㅤkuasa kali ini mengambil langkah 'tuk menaruh satu botol susu di dalam keranjang sepedamu. "botol ..
ㅤ
ㅤ
ㅤbila diingat olehku, sudah sepatutnya sebagai seorang teman untuk saling memberi. walaupun rasanya kata 'teman' terasa begitu asing nan ganjil di lidahku.
ㅤㅤ+ @Veriendus
ㅤ
ㅤ
ㅤaku meletakkan empat botol susu di depan sebuah rumah dan meraih botol kosong yang berada di sisi lainnya untuk kemudian diletakan dalam keranjang.
ㅤmenatap sesaat botol-botol susu dalam keranjang, aku lantas kembali memandangimu lagi. "apa kau mau, araki-kun?"
ㅤ
@Veriendus ㅤ
ㅤtercenung mendapati presensi yang sudah tak lagi asing. "araki-kun?" jenama milikmu aku utarakan penuh kebingungan.
ㅤ"ya..." netra berlabuh ke arah lain, membiarkannya jatuh menuju keranjang penuh botol susu dalam genggaman. "sedang apa di sini?" ketika pertanyaan ..
ㅤ
ㅤ
ㅤ
ㅤ... sesak hanya akan membuatku kelimpungan sendiri.
ㅤ"jika haltenya ramai, apakah berarti setiap angkutannya juga akan penuh sesak?" aku berkicau pelan, harap-harap cemas. "maaf, aku banyak bertanya."
ㅤㅤ+ @Re__kka
ㅤ
ㅤ
ㅤsepasang netra menjelajahi sekitar 'tuk menemukan papan penunjuk jalan yang akan membawaku ke halte. namun, apa yang aku cari tidak kunjung diriku temukan. apa aku tersesat?
ㅤini kali pertama untuk diriku bepergian ke daerah itu. aku tidak kenal siapa-siapa, pun aku ..
ㅤ
@Re__kka ㅤ
ㅤaku mendengarkannya tanpa melewatkan satupun. bahkan meski pada akhirnya aku mencoba mengingat tiap informasi yang kamu beri, aku tak yakin bisa menemukannya.
ㅤ"pilihan yang kedua." jedaku, "apa ramai sekali?" sebab membayangkan diriku yang berada di tempat penuh ..
ㅤ
ㅤ
ㅤ.. seseorang yang menarik tanganku." kepahitan itu menyebar di dalam mulutku, membuat lidah kelu nan mati rasa.
ㅤbahkan ketika setiap deriji jemari saling menguatkan, aku masih tak mampu 'tuk bertahan. "tetapi usaha dan harapanku tidak pernah terwujud."
ㅤ