Pada semua saudara dan teman selamat merayakan kemenangan di hari yang fitri, mohon maaf lahir dan batin.
.
Bahagia itu keluarga
Bahagia itu berbagi
Bahagia dimulai dari hati
.
Jakarta Selatan.
H Afdal Zikri Mawardi dan keluarga, 24 Mei 2020 M, 1 Syawal 1441 H
One of the most brutal scenes in human history has been leaked.
The moment the tents of displaced people were bombed in the southern Gaza Strip, in the Mawasi area of Khan Yunis, killing more than 500 civilians.
A video that the world must never forget.
Salah satu adegan paling mengerikan dalam sejarah manusia telah terungkap.
Seorang ibu pingsan, setahun yang lalu terpaksa mengumpulkan tepung yang dicampur pasir karena kelaparan hebat untuk menyelamatkan keluarganya.
Sebuah momen yang seharusnya tidak pernah dilupakan dunia.
Palestinian woman in the West Bank is arrested by Israeli police under a new terror law that outlaws passive social media use because she shows sympathy to what’s happening in Gaza.
She may spend up to 1 year in prison. Israel is a deeply depraved society.
🇮🇱⚡️🇮🇷 "Kami memiliki legitimasi untuk menargetkan sasaran sipil di Iran" — Duta Besar Israel untuk PBB
Pernyataan "memiliki legitimasi untuk menargetkan sasaran sipil" tidak memiliki dasar hukum dalam kerangka hukum internasional modern. Sebaliknya, hal tersebut merupakan pengakuan atas niat untuk melakukan tindakan yang melanggar kemanusiaan. Dalam konteks konflik apa pun, perlindungan terhadap warga sipil adalah kewajiban mutlak yang tidak dapat ditawar.
Bukti bahwa Israel adalah rezim yang sangat berbahaya bagi kemanusiaan dan harus dimusnahkan dari muka bumi.
Ini bukan anti-semit tapi pembelaan terhadap kemanusiaan.
Inilah tingkah laku warga zion1s Israhell dimanapun mereka berada. Bertindak konyol dan melecehkan orang (bangsa) lain. Dasar 🐒🐒brengsek 💢
Merekalah "Manusia pilihan iblis".
Misteri ANGKA 40.000 dari Trump
Trump menulis, "Tolong kasih tau Pope Leo, Iran sudah membunuh 42.000 warga Iran tak berdosa, para demonstran, dalam periode 2 bulan."
Darimana Trump mendapatkan angka 42.000 itu?
1. Pada awal Januari, aset Mossad dan CIA mempersenjatai anggota oposisi radikal di Iran untuk melakukan pemberontakan bersenjata yang menewaskan 3.117 orang.
[angka 3.117 ini data resmi dari pemerintah Iran; 2.427 adalah warga sipil dan aparat keamanan yang gugur dibunuh para perusuh bersenjata; sisanya adalah perusuh/teroris bersenjata tsb, yang tewas dalam operasi pengamanan oleh aparat keamanan Iran.]
2. Angka resmi itu diubah menjadi cerita pembantaian palsu dengan 30.000 atau 50.000 atau 70.000 korban, oleh apa yang disebut "kelompok aktivis", yang dikutip secara luas sebagai fakta oleh media arus utama Barat—meskipun tidak ada bukti yang diberikan. Investigasi sederhana menunjukkan bahwa setiap kelompok ini dapat ditelusuri kembali ke AS atau mitra "lima mata"-nya, Inggris dan Kanada.
3. Media arus utama Barat mulai menyebarkan cerita palsu tersebut dengan mengutip dari sebuah kelompok bernama Human Rights Activist in Iran (HRANA), yang sebenarnya bukan dari Iran—melainkan dari Virginia, tempat CIA berada, dan didanai oleh NED, cabang kekuatan lunak CIA.
4. Berita palsu tersebut didukung oleh sebuah kelompok bernama Center for Human Rights in Iran, yang juga BUKAN dari Iran, dan berada di AS.
5. Kelompok lain, Iran International, perusahaan media yang berbasis di Inggris.
6. Kemudian ada International Center for Human Rights, yang ternyata berada di Kanada.
7. Sumber-sumber lain yang mendukung isu pembantaian palsu tersebut ternyata adalah pendukung Reza Pahlavi yang berada di Amerika.
8. Orang yang paling sering dikutip di televisi arus utama Barat adalah Masih Alinejad, yang mengatakan bahwa "jutaan" orang dibantai. Ia bekerja selama bertahun-tahun sebagai propagandis anti-Iran penuh waktu, dengan pendanaan dari NED dan gaji dari Voice of America.
9. Kisah palsu tersebut kemudian disebarkan lebih lanjut oleh Bouramond Center for Human Rights, kelompok lain yang didanai oleh NED, dan
10. Tavaana, yang didirikan oleh Departemen Luar Negeri AS dan didanai oleh USAID, sebuah kelompok terkenal yang menyamarkan politik CIA sebagai bantuan.
[10 poin di atas diterjemahkan dari @NuryVittachi dengan diedit untuk kejelasan]
Ada fakta lain:
NGO di no 3, HRANA, melaporkan pada 27 Januari bahwa protes telah menyebabkan 42.324 penangkapan, bukan 42.000 pembunuhan. Jadi, Trump salah kutip; tapi lembaga yang dikutip pun tidak credible.
Video: dari @NuryVittachi
Perempuan. Asal Italia. Bukan negeri Muslim. Tapi lantang bersuara membela Palestina. Melawan semua kekuatan besar pendukung zionis Israel. Inilah inklusivitas. Islam itu rahmatan lil alamin. Dan Allah Swt yg Rahman, Rahiim, Aliim dan Hakiim tahu mana hati yg digerakkan utk membela kebenaran dan menyuarakan penderitaan. Doa kita utk semua orang baik dimanapun berada🙏
Sejumlah warga di Irlandia dan Spanyol mengumpulkan produk-produk israhell dari rak toko & berupaya mencegah penjualannya.
Terima kasih utk memboikot dan mengingatkan trs betapa biadabnya zionis israhell 👍👍
Hentikan peradilan khusus untuk Tentara dan Polisi yg bermasalah dg hukum.
Bawa ke peradilan Umum ! Hukum hrs sama untuk semua rakyat, jangan ada lagi yg Istimewa !!
______
FH UI Sarapan Kates
🇮🇳Indian Hindutva Terrorists Today :
BJP-backed Hindutva terrorists heartlessly brutalized a disabled, solitary elderly Muslim man, destroying his essential mobility aid and looting his only means of survival in a sickening display of targeted hate.
Boycott Hinduism globally: it's a source of subhuman depravity and caste-driven hate, not humanity.
Guys, ada kasus yang menurut gue salah satu yang paling mengkhianati kepercayaan publik terhadap institusi kepolisian.
Dan yang paling menyakitkan bukan hanya perbuatannya tapi hukumannya.
Kasusnya:
Seorang perempuan 18 tahun di Jambi diperkosa. Pelakunya tujuh orang.
Empat terlibat langsung dua di antaranya oknum polisi aktif.
Tiga lainnya menyaksikan dan salah satunya ikut menggotong korban untuk dibuang setelah kejadian.
Bukan rekayasa.
Bukan fitnah.
Sudah masuk sidang etik.
Hukumannya:
Dua yang melakukan pemerkosaan langsung dipecat tidak hormat (PTDH).
Ini langkah yang tepat walaupun proses pidana harus tetap berjalan dan belum jelas statusnya sekarang.
Tapi tiga yang menyaksikan dan membiarkan termasuk yang ikut menggotong korban?
Minta maaf.
Dan isolasi 21 hari.
Berhenti sebentar di sini.
Tiga orang dewasa berseragam polisi yang tugasnya melindungi masyarakat menyaksikan pemerkosaan terjadi di depan mata mereka.
Tidak menghentikan.
Tidak menolong.
Bahkan satu di antaranya ikut memindahkan korban.
Dan hukumannya:
minta maaf dan dikurung 21 hari.
Tiga minggu.
Lalu bebas.
Lalu kembali berseragam?
Ini bukan hanya soal ringannya hukuman:
Ini adalah konfirmasi dari apa yang selama ini dicurigai publik bahwa di dalam institusi kepolisian ada yang disebut code of silence kesepakatan diam-diam untuk saling melindungi.
Mahfud MD mengatakannya secara eksplisit di podcast:
Polisi memperkosa dan disaksikan oleh polisi lain yang hanya menonton tidak menolong bahkan ikut menggotong korban untuk dibuang.
Dan hukumannya hanya minta maaf dan 21 hari isolasi.
Itu yang disebut code of silence menutup institusi.
Secara hukum ini jelas melanggar:
Polisi yang menyaksikan kejahatan dan tidak bertindak bukan hanya melanggar etika mereka melanggar kewajiban hukum.
Seorang polisi yang membiarkan kejahatan terjadi di depan matanya apalagi kejahatan seserius pemerkosaan seharusnya bisa dijerat dengan pasal pembiaran yang dalam KUHP baru masuk dalam kategori pelanggaran serius.
21 hari isolasi bukan hukuman.
Itu liburan berbayar.
Yang membuat ini makin tidak masuk akal:
Ini terjadi di tengah proses reformasi Polri yang sedang berjalan.
Komisi yang dibentuk presiden dipimpin Mahfud MD sudah menyerahkan rekomendasi.
Salah satu kesepakatan yang sudah diumumkan: tidak ada titip-titipan di rekrutmen Akpol, proses lebih transparan.
Sinyal reformasi ada.
Tapi di lapangan oknum memerkosa, rekannya menonton, dan hukumannya 21 hari.
Reformasi atas kertas versus realita di lapangan.
Dan yang terjebak di tengahnya adalah korban berusia 18 tahun yang keluarganya terpaksa cari Hotman Paris karena merasa tidak ada yang mau mendengarkan mereka.
Dan ini yang paling bikin gue tidak bisa diam:
Korban bukan orang yang punya koneksi.
Bukan anak pejabat.
Bukan siapa-siapa yang bisa telepon orang dalam.
Dia perempuan muda biasa yang seharusnya dilindungi oleh orang-orang yang justru menyakitinya.
Dan ketika keluarganya protes hukuman yang keluar adalah 21 hari isolasi untuk yang membiarkan.
Kalau ini yang terjadi pada perempuan yang tidak punya kuasa bayangkan berapa banyak kasus serupa yang tidak pernah sampai ke publik karena korbannya memilih diam daripada berhadapan dengan institusi yang melindungi pelakunya.
Yang harus terjadi tapi belum terjadi:
Satu —proses pidana terhadap dua pelaku langsung harus berjalan dan harus transparan. PTDH tanpa pidana bukan keadilan.
Dua — tiga yang menyaksikan dan membiarkan harus diperiksa secara pidana bukan hanya etik. Membiarkan kejahatan serius di depan mata sambil ikut memindahkan korban itu bukan pelanggaran administrasi — itu tindak pidana.
Tiga — Polda harus memberikan penjelasan publik yang konkret soal proses dan sanksi yang dijatuhkan bukan pernyataan general soal "oknum."
Empat — dan seperti biasa kata "oknum" harus berhenti dipakai sebagai perisai institusi. Kalau tiga orang berseragam di satu kejadian yang sama semuanya adalah oknum maka yang bermasalah bukan orangnya saja. Yang bermasalah adalah sistemnya.
Sebuah negara diukur dari bagaimana ia memperlakukan yang paling tidak berdaya.
Seorang perempuan 18 tahun diserang oleh orang-orang yang seharusnya melindunginya.
Dan sistem yang seharusnya memberi keadilan memberi pelakunya tiga minggu isolasi.
Kalau ini yang terjadi dan dianggap cukup maka pertanyaan yang harus dijawab bukan hanya soal hukuman yang ringan.
Tapi soal apakah institusi ini memang serius ingin berubah atau hanya ingin kelihatan serius berubah.
Lebih dari satu juta warga di kawasan Uni Eropa secara resmi mendesak agar hubungan politik dan ekonomi dengan Israel dihentikan. Tekanan ini muncul melalui sebuah petisi bertajuk “Justice for Palestina”
~RS