Namun, saat ini keberadaan pintu itu sudah tergantikan dengan pintu yang lain. Dalam karya ini Nasirun juga turut melengkapi dengan karya dua dimensi dan bisa kalian nikmati di Museum Affandi, Galeri 3.
Nasirun | "Aliran Realis yang Semurni-murninya" | Mix Media on Canvas, 300 cm, 2022. Terinsiprasi dari bentuk pintu rumah Affandi yang berbentuk huruf A,
Nasirun merespon hal tersebut dalam sebuah karya tiga dimensi serta ditambah ornamen wayang sukrasana yang menjadi tokoh idola sang Maestro. Bentuk pintu itu sangat menarik dan sangat membekas dalam ingatan sosok seniman satu ini.
Kleting Titis Wigati | "Cermin dari Selembar Sarung" | Textile Weaving Machine, Cotton Polyester yarn dyed, and White Cotton, 150 x 300 x 200 cm, 2022. Karya ini merupakan persembahan atas nama inspirasi dan ingatan semasa kecil melalui persahabatan Kakung Boediardjo & Affandi.
Visualisasi selembar sarung adalah pakaian yang sangat instrumental dalam menemani Affandi berkarya, dan upaya menyajikan karya eksperimental busana modern yang ekspresionis dengan motif sarung.
dari kedua hal inilah yang menggerakan JVMP mencoba melukiskan cahaya yang dihasilkan oleh komputasi grafis secara cepat dan diproyeksikan pada kanvas secara langsung. Karya ini perlu direspon oleh para pengunjung untuk memunculkan efek lukisan seperti Affandi.
Jogjakarta Video Mapping Project | "We Can’t Do What Affandi Did" | Interactive Project Mapping on Canvas, 100 x 120 cm, 2022. Berangkat dari 2 hal pemikiran yang melatar belakangi JVMP memproduksi karya ini ialah teknik melukis dan kebiasaan selfie Affandi.
Harapan membuat langkah kecil sebagai proses menjalin doa untuk menghantarkan jejak Affandi terwujud dalam karya tiga dimensi yang merepresentasikan tube-tube kosong sebagai salah satu elemen yang sering digunakan dalam pengkaryaan sang Maestro.
Ivan Bestari Minar Pradipta | "Jalinan Doa dalam Kaca" | Glass, String & Iron on Flameworking, 40 x 80 x 130 cm, 2022. Melihat kaca bekerja dalam lidah-lidah api yang menjalar menjadi presentasi energi yang ditorehkan Affandi saat berkarya bagi Ivan Bestari.
Sebuah bangunan tua dan bersejarah ini menjadi saksi bisu kegiatan Affandi yang sering menginap dan melukis saat mengunjungi pusat kota Denpasar. Proses penghadiran karya ini untuk membaca ruang-ruang yang terlupakan sebagai situs jejak-jejak Affandi di Bali.
I Gusti Ngurah Tri Marutama |" Losmen Puri" | Acrylic on Canvas, 150 x 200 cm, 2022. Karya berjudul Losmen Puri merupakan sebuah karya yang merekam peristiwa kilas balik tentang salah satu jejak keberadaan Affandi di daerah Denpasar, Bali.
I Gusti Ketut Alit Arya Putra | "Kintamani" | Oil on Canvas, 150 x 200 cm, 2022. Menelusuri rekam jejak Affandi yang kerap melukis tentang pemandangan landscape Gunung Batur dari daerah Kintamani pada era tahun 1965,
menjadi bara bagi Digie Sigit untuk mendeklarasikan karya-karya seniman street art yang sejak dulu pernah diterapkan oleh Affandi, jauh sebelum bangsa ini merdeka. Dalam karya ini banyak melibatkan seniman street art lainnya
Agan Harahap melalui imajinasinya saat Affandi pameran di Paris pada tahun 1953 berkenalan dan berteman oleh Marc Chagall, Salvador Dali dan Pablo Picasso untuk bersama-sama melakukan residensi ke tanah Jawa dan melakukan riset di kota kelahiran sang Maestro, Cirebon.
Karya yang dibuat sehari setelah Agan Harahap menonton film Midnight in Paris ini merepresentasikan sebuah foto yang mewakili serangkaian kisah fantasi romantik kehidupan Affandi dengan pertemanannya yang dibangun ulang oleh