⠀
Bukan senyum yang ia latih untuk publik belaka, melainkan senyum kecil; seperti seseorang yang akhirnya bisa melihat sedikit refleksi dirinya pada orang lain.
Dan ini cukup untuk malam yang telah mengakhiri senja hari itu.
⠀
⠀
selama dua hari penuh; I believe it’s exhausting for both of us,” jawab Ion atas tanya yang dilontarkan @klaraalonsa padanya.
“I’d say we’ve both earned a breakㅡlike this,” imbuh sang tuan sebelum kembali menoleh ke arah langit yang mulai kehilangan warnanya.
⠀
⠀
“No need to mention it, Klara. Toh, ini juga bagian dari peran yang kita sepakati kemarin. Saya sudah terlihat seperti calon menantu teladan, kan?” balas sang tuan diiringi kekehan lirih yang lolos dari bibirnya.
“You too, Ra. Kita sudah berpura-pura dekat dan serasi
⠀
⠀
sedikit gesekan bisa melukai, tapi juga tahu bahwa bersentuhan adalah satu-satunya cara agar tak jatuh.
Ion mencuri pandang ke arah Klara dari ekor matanya. Cahaya senja menyentuh rahang sang dara, membentuk bayangan lembut di bawah tulang pipi calon tunangannya itu.
⠀
⠀
Di menit berikutnya, kepala yang dari tadi menoleh ke arah @klaraalonsa kini meniru si nona yang duduk di sampingnya, menghadap cahaya keemasan yang menghujani hamparan hijau di hadapan mereka berdua.
⠀
⠀
“Tenang, saya juga ajak kamu duduk karena kamu tuan rumah di sini. Kalau kamu berdiri seperti tadi, kamu gak ada bedanya sama patung dekat pintu kaca itu,” tanggap Ion sebelum menunjuk patung yang ia maksud lewat ekor matanya.
⠀
⠀
untuk menempati ruang kosong di bangku yang ia duduki. Rasanya tak sopan jika ia mengusir @klaraalonsa salah satu cucu pemilik mansion yang tengah ia tempati itu.
⠀
⠀
kita bertemu lagi di sini?” tanggap sang wira sambil mencebikkan bibir sejenak, namun masih menoleh ke arah sang dara.
“Rencanamu belum gagal kok, Klara. Toh angin segar—yang kamu cari—masih ada di sini,” imbuh Ion sembari bergeser dari posisinya, beri gestur bagi Klara
⠀