Demokrasi saat ini sudah bukan lagi dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Tapi sebaliknya, dari rakyat, oleh elite dan untuk elite...
Masihkah bangga anak muda itu yang bisa maju nyawapres tapi hasil mengangkangi konstitusi?
Belum apa-apa saja sudah berani memainkan hukum negara demi wujudkan ambisi. Bagaimana nanti kalo berkuasa, mungkin seluruh aturan di Indonesia berubah total dan sifatnya menguntungkan keluarganya saja...
๐๐ข๐๐ซ๐๐ง ๐๐๐ฐ๐๐ฉ๐ซ๐๐ฌ ๐๐ฅ๐๐ ๐๐ฅ
@Prihati_utami Sederhana adalah aset yang tak ternilai, #TuankuRakyat. Latar belakang GP sebagai anak polisi dan ibu rumah tangga di desa mengajarkan kita kebersamaan dan persatuan sejati dalam keluarga.
#TuankuRakyat
โSemangkok Soto Dingin Pak Ganjarโ
De javu. Mungkin kata ini cocok untuk menggambarkan apa yang saya alami ini. Saat saya sedang menyantap soto pada siang hari, sambil sesekali melihat gawai yang saya letakkan di dekat mangkok.
Tiba-tiba ada notif masuk. Sebuah pesan berisi link video Youtube masuk ke HP. Refleks, saya klik, ternyata berisi tayangan Ganjar Pranowo.
Sebuah video yang menggetarkan hati. Manifesto tentang kehidupan dan harapan seorang Ganjar Pranowo.
Ingatan saya seketika melayang pada kisah Ganjar dan soto dingin yang diceritakan teman saya.
Begini ceritanya:
Suatu kali saya pernah bertemu dengan teman saya, dia adalah salah satu pegawai saat Pak Ganjar masih menjabat sebagai Gubernur Jawa Tengah. Ngobrol banyak hal. Hingga cerita tentang semangkok soto dingin.
Saat itu, saya mengajak teman saya ini makan siang. Biasalah, lama nggak jumpa saya pun mengajak makan yang ala-ala Jepang atau Western.
Awalnya sih dia iya iya saja. Eee akhirnya berubah pikiran dan memilih makan siang soto ayam.
โDuh, kalau makan soto jadi inget bapak (Pak Ganjar)โ Teman saya mengawali obrolan siang itu.
Saya pun bertanya, kenapa? Dia lalu cerita, Pak Ganjar sering minta dipesankan soto untuk sarapan.
Suatu ketika, Pak Ganjar pulang pagi dari Jakarta dan harus bertemu dengan tamu. Tapi, sebelumnya ia sudah memesan untuk sarapan soto di ruang kerja.
Semangkok soto beserta perlengkapannya tepat terhidang di meja kerja saat ia datang sembari menunggu tamu. Masih hangat dan tentu segar. Pak Ganjar pun menyantapnya. Baru setengah makan, ia bertanya apakah tamunya sudah datang.
Teman saya ini pun tak berani berbohong. Dan dijawablah sudah, sudah menunggu di ruang tamu.
Tanpa banyak bicara, Pak Ganjar bergegas ke ruang tamu. Memang sudah jadwalnya setiap hari Senin banyak menerima tamu di kantornya, untuk koordinasi dan juga laporan kerja.
Teman saya cerita, soto yang dimakan Pak Ganjar saat itu belum habis. Tapi sudah ditinggal menemui tamu. Para pegawai di bagian ruang kerja gubernur tak berani membereskan, hanya memindah soto itu ke meja lain.
Sekitar setengah jam menerima tamu, Pak Ganjar kembali masuk ruang kerjanya. Dan bertanya, โLho sotoku tadi mana dik?โ
โSaya ganti yang baru saja nggeh bapak, biar kami pesankanโ jawab teman saya itu.
โNggak usah yang tadi saja, la itu sini tak habisin, sayang kalau nggak habis nanti mubazir,โ ujarnya yang melihat sotonya ada di meja lain.
Teman saya ini bilang lagi bahwa sotonya sudah dingin, pasti nggak enak lagi disantap, dengan tetap menawarkan yang baru. Tapi Pak Ganjar, tetap tidak mau dan melanjutkan sarapan soto dinginnya itu dengan nikmat.
โSayang kalau tidak dihabiskan, nggak papa wong nggak ngracuni to,โ kata Pak @ganjarpranowo ketika itu.
โAku merasa tertampar disitu, aku aja kadang sok-sokan minta makan harus baru dan hangat. Kejadian itu selalu terngiang dan mengingatkan biar aku nggak menyia-nyiakan makanan. Sepele kan, tapi ngena lho ke akuโฆmakanya ini kita makan soto aja,โ kata temen saya itu sembari tersenyum.
Bagi sebagian besar orang, pasti melihat ini hal yang tidak penting. Tapi saya melihatnya, ini adalah prinsip yang dipegang seorang Ganjar. Hal kecil yang meskipun dia sebagai seorang pejabat, sebagai seseorang yang bisa meminta makanan atau apapun sesuai yang diinginkan, tapi ia memilih bersyukur menikmati semangkok soto dingin.
Prinsip yang ternyata sudah terbangun sejak kecil, dari kisah-kisah hidup yang dilaluinya, dari cara orang tua mendidiknya, dan dari ketegaran serta pesan-pesan bapak dan ibunya.
Ya, seperti yang disampaikan. Orang tuanya tak mewariskan harta, tapi mewarisi nilai-nilai kehidupan yang justru menjadi bekalnya menjalani hidup saat ini.