That’s true. Chemistry bisa dibangun, keseruan bisa diciptakan, interest bisa dipelajari. Tapi boundaries, values, moral compass, ethics, kalo ga sama bakal nambahin banyak pertanyaan dan keraguan, which leads you to less enjoy your relationship
gue selalu berharap orang-orang terdekat gue bahagia lahir batin. bahkan di saat gue ga tau mereka lagi berjuang ngadepin apa. semoga semuanya baik-baik aja, selalu.
aku tipikal org yg selalu ngasih 3x chances sblm ninggalin org scr permanent.. apapun, mw relationship situationship friendship etc..
i've tried my best TO STAY, to do lets fix this together.. smpe akhrny memasuki final decision terbesar, to leave for goods.
intinya smpe g pny
@txtdrimedia Anggaran dipangkas itu buat evakuasi korban, logistik pengungsian, sama pemulihan infrastruktur pasca-bencana, bukan buat nyuruh gunungnya pensiun dini.
Makanya bedain mana takdir alam, mana akibat kelalaian negara ngurusin anggaran keselamatan warganya.
guys,
- tali BH keliatan itu normal
- pakai pembalut itu normal
- bawa pembalut di tas itu normal
- noda darah haid di celana itu bisa kejadian dan normal
- beli pembalut di kasir itu normal
- bulu badan tumbuh itu normal
- punya stretch marks itu normal
- jerawatan itu normal
- nggak selalu tampil cantik/rapi itu normal
- nangis karena hal kecil itu normal
- bilang “aku lagi capek” itu normal
being a woman is literally just having a body. please let women exist without making everything embarrassing.
Iya deh, gua jadi kepikiran...
Kenapa mempertahankan seseorang sekarang sering terasa seperti 'merendahkan' harga diri? Kenapa caring enough to fight for someone malah dianggap desperate, sementara “yaudah kalau mau pergi, pergi” dianggap paling emotionally mature?🤔🤔