Dari adu mulut di pit wall Mercedes sampai dibungkam beneran di kasur hotel Baku... 🏁🔥
Kelanjutan Rein & Wina udah up di KaryaKarsa ya!
Chapter 1: Free
Chapter 2: Unlocked for explicit dirty talk & more spicy make-up scene 😉
🔗 Link di bawah/bio! 🏎️💨
https://t.co/aDpVbXowr4
Dirty Air
— a #winrina au
Mengatur taktik George Russell di sirkuit Baku yang mematikan itu gampang bagi Rein, tapi menjinakkan Wina—performance engineer Kimi Antonelli sekaligus pacar keras kepalanya selama setahun—selalu sukses membuat seluruh sistem kontrolnya error.
One More Time
— a #winrina au
Enam kali bilang “aku sayang kamu”, dan satu malam yang membuat Wina tak pernah sempat mengecas ponselnya—meninggalkan Rein dengan chat yang bisa di-scroll dalam lima menit dan penyesalan seumur hidup karena takut naik kereta tiga jam.
Suatu malam, Rein memanggil Wina "sayang" — canggung, seperti mencoba baju baru yang belum yakin cocok — dan Wina tidak mengoreksinya. Mungkin itu yang paling mendekati momen "resmi" yang mereka punya.
Dari DM Twitter, mereka pindah ke WhatsApp. Dari WhatsApp, ke telepon tengah malam. Dari telepon, ke video call di mana Rein selalu memakai hoodie kebesaran dan Wina selalu duduk di lantai kamar kosnya karena "kasurnya terlalu berantakan, malu."
Transisi itu terjadi perlahan, tanpa momen besar yang bisa mereka tunjuk dan bilang, ini saat kita mulai pacaran. Tidak ada pernyataan resmi. Tidak ada "kamu mau jadi pacar aku?" Tidak ada tanggal yang mereka sepakati sebagai hari jadi.
"Makasih ya udah reply di base waktu itu soalnya aku pikir nggak akan ada yang bales. Tapi kamu bales. Jadi... makasih."
Wina mendengarkan voice note itu tiga kali.
Ia tidak tahu kenapa.
Malam itu, sebelum tidur, Rein mengirim voice note pertama lewat DM Twitter. 34 detik. Suaranya muda, cerah, ada bunyi televisi di latar — ruang keluarga, mungkin.
Rein bilang ia belum coming out ke siapa pun kecuali akun Twitter-nya. Wina bilang ia sudah coming out ke dua teman dekatnya dan keduanya merespons dengan canggung lalu mengganti topik.
Mereka mengobrol di DM Twitter malam itu selama dua jam. Tentang hal-hal kecil: cuaca, musik, kebiasaan buruk masing-masing (Wina lupa makan, Rein begadang tanpa alasan), ketakutan mereka terhadap dunia yang tidak ramah untuk perempuan yang menyayangi perempuan.
Wina menatap kalimat itu. Ada kejujuran di sana yang tidak biasa untuk percakapan dengan orang asing di DM Twitter. Tidak ada basa-basi, tidak ada upaya untuk terdengar keren atau misterius.
Reply Rein muncul empat menit kemudian:
"aku ngerti banget soal hantu itu."
Wina membuka reply itu. Membacanya dua kali. Lalu ia melakukan sesuatu yang jarang ia lakukan — ia membuka DM Rein dan mengetik:
"hehe, makasih udah reply.'"
Balasan Rein datang cepat:
"soalnya aku juga punya hantu. beda kota, beda umur, beda segalanya, tapi ada."
"oh, udah lama?"
"belum, tapi rasanya udah lama."
"kadang ngerasa aneh ya, kamu punya orang yang kamu ceritain semuanya, tapi kamu nggak pernah ketemu dia, dan orang-orang di sekitar kamu nggak tahu dia ada, kayak punya hantu yang cuma kamu yang bisa liat."
Tidak ada yang spesial. Tidak ada yang mengindikasikan bahwa ini akan menjadi sesuatu.
Lalu suatu malam, Rein reply tweet Wina. Wina baru saja memposting:
sesekali reply di thread yang sama, retweet tanpa komentar. Rein like sebuah tweet Wina tentang betapa melelahkannya jadi freelancer. Wina like tweet Rein yang isinya hanya titik tiga — "... " — diposting pukul tiga pagi.
Wina tidak berpikir lebih jauh. Ia menutup Twitter, menyelesaikan deadline-nya, dan tidur.
---
Mereka menjadi mutual selama tiga minggu. Tiga minggu di mana interaksi mereka terbatas pada hal-hal yang orang lakukan dengan mutual di Twitter: like tweet satu sama lain,
Wina follow back. Itu yang orang lakukan di Twitter. Mutualan. Tidak lebih dari itu.
Profil Rein kosong. Tidak ada bio, hanya ada foto profil gelap dan blur. Tweet-nya dikunci. Follower 87, following 203.
Reply di base sapphic biasanya tenggelam dalam hitungan menit, ditimpa puluhan reply lain dari orang-orang yang sama kesepiannya.
Tapi dua menit kemudian, notifikasi masuk.
@reinxhere mem-follow akunnya.
Wina mengetik reply, tanpa terlalu dipikirkan:
"yuk mutualan?"
Ia menekan tombol kirim, meletakkan ponselnya, dan kembali ke laptop. Ia tidak mengharapkan apa-apa.
Jempolnya berhenti di sebuah postingan anonim dari @sapphicbaseid.
"cari temen ngobrol, kalau ada yang mau mutualan reply aja. F19, jkt"
Wina menatap layar beberapa detik.
Ia tahu tipe postingan seperti ini. Base sapphic di Twitter penuh dengan confession serupa — perempuan-perempuan muda yang kesepian, yang mencari koneksi di ruang digital karena ruang fisik tidak aman untuk mereka. Wina pernah ada di posisi itu. Mungkin masih.