“…Tetapi boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (Al-Baqarah: 216)
@vicky_kawaguchi Sebenarnya aku sering bilang ga kepikiran nikah atau nikah ga masuk dalam list hidup aku waktu sekarang & ntah sampai kapan. Tp ya aku tetep nerima doa baik karena memang ga tau kedepannya bakal kaya gimana kan. Aku berharap misal bisa nikah ya beneran nikah sama orang yg tepat.
Kemarin 3 intern yang udah gue pilih: 2 anak UI dan 1 UPH. Ini IPK >3.7 semua
Gue tanya pernah ke luar negeri engga, dan gue kasih contoh achievement gue waktu kuliah ke Prancis dan Jerman meskipun gue beswan bidikmisi (BM)
Dari dua orang, ada satu yg blm pernah ke luar negeri, gue suruh dia bikin paspor biar dia punya mimpi. Ini diajarkan sama pengurus asrama BM ITB (dosen), dia mencoba ngebrainwash mahasiswa BM yg kurang beruntung agar punya mimpi.
Dua orang yg lain udah pernah ke luar negeri, dari CV dan ngobrolnya, gue akan arahkan ke korporat. Tapi yg belum punya paspor ini gue treat lain.
Lulusan terbaik sih bukan pencapaian, lu kena scam sistem pendidikan kita 😁
Baru overthinking tiba-tiba nemu kalimat indah ini :
"Jika Tuhan begitu presisi mengatur planet-planet agar tidak bertabrakan, percayalah Tuhan juga presisi dalam mengatur skenario hidupmu agar selamat sampai tujuan"
Girl to Girl
Kalo penghasilanmu masih pas pas an dan kamu masih di tahap merintis, kamu harus ngelakuin ini:
- isi otak, belajar dan jadi haus wawasan
- rawat muka, treatment, skincarean
- jaga badan, jangan gendut, makan bersih dan minum teh hijau kuklon
- rawat rambut, beli rosemary peyton, pake sebelum keramas
- perbaiki pola pikir, jangan banyak ngurusin urusan orang, fokus ke yang bisa kita kontrol
Sisanya lupain. Stop ngasih makan ego dan berusaha buat upgrade diri sendiri
@christasyd ada opsi single minim beban ngapain juga nikah kalo cuma nambahin beban, mana kontrak seumur hidup 🤦♀️ kalo cuma urusan nafkah mah yaelah, kita cewe-cewe juga capable kali buat kerja
Sebagai orang yang sangat menghindari kegagalan, aku mau menjawab.
Gagal itu HARUSNYA normal tapi buatku berasa gak normal.
Sebenarnya yang lebih menakutkan dari gagal itu konsekuensinya. Harga dari kegagalan itu sayangnya lebih besar, bisa secara literal bisa juga tidak.
Misalnya, aku takut gagal keterima di universitas yang kuinginkan. Konsekuensinya adalah:
1. Aku ikut ujian mandiri lagi
2. Keluarin biaya pendaftaran/ujian mandiri lagi
3. Keluarin ongkos lainnya lagi
Sementara, kalau aku langsung berhasil biaya yang kukeluarkan lebih sedikit.
Begitu juga dengan cari kerja. Aku takut gagal gak keterima kerja. Soalnya kalo gagal, konsekuensinya:
1. Aku nganggur lebih lama
2. Aku hidup dengan makan biaya tabunganku atau bahkan bantu dibiayai orangtua
Semakin banyak kegagalan, semakin besar biayanya dan semakin sulit aku menutupi/mengganti biaya tersebut nantinya.
Makanya aku berusaha sebisa mungkin one shot berhasil.
I know this isn't ideal, gak begitu sehat juga. But some of us just....trying to minimize the cost.
Misalnya, aku ingin jadi Psikolog Klinis. Lulus S1 aku tapi gak bisa terlalu ideal, maunya kerja yang di jalur klinis aja. Aku ya melipir dulu jadi HRD baru kemudian S2 + profesi. Pokoknya kerja dulu daripada nggak kerja.
Sementara temenku lulus S1 dia bisa lebih ideal. Nyari magang yang lebih related dengan jalur klinis. Gak dibayarpun gak apa-apa. Kemudian S2 + profesi.
Pas ngobrolin ini dia juga cerita kok, dia gak merasa takut gagal, takut gak keterima kerja. Meanwhile aku dari sebelum lulus aja udah takut gagal keterima kerja.
Ya gapapa, memang jalur kami berbeda. Aku begitu lulus butuh uang. Gak bisa nunggu lama2. Sementara dia memang punya privilege untuk menunggu dan memilih2.
Jadi, menurutku gak takut gagal is such a huge privilege. Kadang gak cuma soal mindset tapi kondisi objektif juga ngaruh.
Sebagai orang yang selalu berusaha one shot berhasil, aku juga sangat mau bisa menanggapi kegagalan dengan biasa aja.
Kalian gimana?