@RDmania08 Dengan belum dapetnya backup FB/WB dan 1 top/elite midfield, bisa jadi kemungkinan besar opsi FW cuma ketambah Bupati yg pulkam + pemain akademi
I have been a United fan for 24 yrs but I still look forward to every single matchday like it's the first time I'm ever going to see a United team play.
Man Utd Vs Wrexham, 4pm Saturday and I am still as excited as I was in the early stages of being a fan in 2002.
Wong atos 😹 orang dia sendiri yang masukin bek bejibun, either dia ngomong ato ga ya pemain juga mikir maen defend ini wkwkwk
Gimana mau keep the ball coba
Tuchel: "We wanted to go for the second goal but we couldn't get out. We became more and more passive. We couldn't keep the ball. I don't think it was a structural problem."
Info A1, kabarnya halftime show final Pildun 2026 nanti diisi oleh Adella Allstar, Sagita Reborn, dan diakhiri Dek Cunda Music
Sound system by Cumi Cumi Audio
Entertainment by Temonholic & Cak Percil-Cak Yudho comeback
Los Angeles FC lagi buka lowongan Head Video Analyst dengan gaji USD100–120 ribu per tahun (1,8 - 2 miliar rupiah).
Pas baca kolom komentar, banyak yang bilang justru kemurahan untuk ukuran Los Angeles. Bahkan ada yang bilang, "someone new to this industry will happily take this and that will keep salaries low."
Saya udah mikir, "Anjir gede." 🤑
Sementara orang sana: "Segitu doang?" 🫠
Cc @hrdbacot
🇧🇷🗣️ Marcelo on facing Lionel Messi and his iconic shirt celebration during El Clásico:
“Damn, I was in hell.
Messi didn’t talk during matches. In the dressing room, we’d tell each other not to provoke him. If he got angry, he became almost impossible to stop. And on that day, he was impossible to stop.” 🔥🇦🇷
SMARTWATER bisaan!
Ini bukan kebetulan dan ini ternyata bukan sponsor AFA.
Smartwater hadir di venue WC 2026 karena bagian dari Coca-Cola, yang udah jadi FIFA Partner sejak 1978.
Bayangin 48 tahun tanpa putus. Deal berlaku sampai 2030.
Coca-Cola bawa seluruh rombongan portofolio beverage mereka: Sprite, Fanta, Powerade, Smartwater.
Ini yang disebut portfolio sponsorship strategy, bukan beli satu slot untuk satu brand, tapi beli hak untuk seluruh ekosistem brand dalam satu kategori.
#Smartwater #CocaCola #Messi #SportMarketing #WC2026
SAAT ARGENTINA TERTINGGAL SCALONI PUNYA SATU TOMBOL DARURAT.
MESSI MODE RWF
Masih banyak yang menganggap Messi sudah tidak berbahaya karena kecepatannya tidak lagi seperti dulu.
Padahal, justru di Piala Dunia ini kita melihat evolusi terbesarnya.
Selama pertandingan berjalan normal, Messi bermain sangat fluid.
Ia bisa muncul sebagai SS, turun menjadi AMF, bahkan sesekali membantu build-up hingga sejajar CMF. Ia bergerak ke mana pun permainan membutuhkannya.
Tapi begitu Argentina tertinggal atau mulai kesulitan mencetak gol, polanya selalu sama.
Scaloni membiarkan Messi menetap di sayap kanan sebagai RWF.
Bukan untuk adu sprint. Bukan untuk melewati tiga pemain.
Melainkan agar ia punya sudut terbaik untuk melihat permainan, mengatur tempo, lalu mengirim umpan yang mematikan.
Melawan Cape Verde, ketika Argentina terus mengejar gol, Messi mulai lebih sering menerima bola di sisi kanan.
Crossing dan umpan-umpannya terus mengacak-acak pertahanan lawan hingga Argentina akhirnya membalikkan keadaan.
Melawan Mesir, pola itu semakin jelas. Saat Argentina tertinggal, Messi menetap di RWF.
Dari sana ia mengirim assist kepada Cristian Romero yang memulai kebangkitan Argentina, lalu beberapa menit kemudian ia sendiri masuk ke kotak penalti dan mencetak gol penyeimbang.
Semua momentum comeback dimulai dari sisi kanan Messi.
Laga melawan Swiss pun tidak berbeda. Ketika pertandingan berjalan hingga 120 menit dan ruang di tengah semakin sempit, Messi menetap di RWF. Crossing demi crossing terus ia kirimkan, memaksa pertahanan Swiss mundur dan membuka ruang bagi rekan-rekannya untuk menyerang.
Lalu datang semifinal melawan Inggris.
Begitu Anthony Gordon mencetak gol, Messi kembali mengambil "kantornya" di sisi kanan.
Hasilnya langsung terasa.
Satu umpan terukur melahirkan gol Enzo Fernández.
Beberapa menit kemudian, saat semua bek Inggris menunggu crossing kaki kirinya, Messi justru melepas umpan dengan kaki kanan.
Bola itu begitu sempurna melewati kiper dan bek bek besar Inggris, hingga Lautaro Martínez nyaris tinggal menyentuhnya untuk membawa Argentina berbalik unggul.
Itulah Messi versi sekarang.
Ia tidak lagi mengalahkan lawan dengan kecepatan.
Ia mengalahkan mereka dengan visi, timing, akurasi, dan kualitas keputusan.
Semua lawan tahu bola akan berakhir di kaki Messi di sayap kanan. Semua tahu umpan berbahaya akan datang dari sana. Masalahnya, mengetahui rencananya tidak pernah berarti mampu menghentikannya.**
Straight after ENG scored they sat back and let ARG take over. They did the same in other Finals. This isn't lower club PL stuff. You need to keep that high mentality to play until it gets very late. ENG dropped immediately after the 55th minute.
I was saying to those around me: ENG scored against ITA in the Euro Final, defended straight after that and eventually lost. It was a terrible error to just sit back straight after scoring. I'm sorry but it was at the time because *this* is what happens against elite technicians.