3 hal yang ku lakukan dulu, dan ku syukuri hari ini:
1. Bikin multiple sumber income. Ga bergantung pada 1 sumur saja. Jadi ada beberapa keran pemasukan.
2. Fokus mendatangkan recurring income. Gimana bikin produk/jasa yang dibutuhkan orang lagi dan lagi. Jadi mereka bayarnya secara berkala, misal bulanan/tahunan.
3. Membiasakan hidup hemat. Setelah pemasukan dikurangi semua biaya dan kebutuhan, jika masih ada sisa, saya akan simpan 90%-nya dan membelanjakan cuma 10% saja.
Kalo kamu, gimana? Ada hal-hal spesifik yang kamu lakukan dulu dan kamu syukuri hari ini?
🗣️ "Aku pengen mulai jualan ayam geprek"
Siapin diri dengan printilan-printilan terkait sebuah usaha ya. Saat awal memulai, jangan expect semua akan mulus. Tarik napas panjang agar bisa gas terus kerja kerja kerja.
Ga ada bisnis yang gampang. Tapi semoga usaha kita berbuah manis. Amin.
STOP BELI BARANG YANG REVIEWNYA ZONK KALAU GAK MAU BONCOS😭
Ini daftar elektronik & perabot rumah yang kualitasnya konsisten dan jarang zonk👇🏻
1. AC— Panasonic
2. Set pisau — exohome
3. Rice cooker — Philips
4. Pan stainless — Supra
5. Mesin cuci — Electrolux
6. Kompor — Rinnai
TAHTA TERTINGGI Frozen Food yang jadi penyelamat bu ibu & anak kos 👑‼️
1. Nugget → Champ, Kanzler
2. Sosis → El Promo, Hanzel
3. Bakso → Sumber Selera, Warisan
4. Chicken Wings → So Good
5. Patty Burger → Yona
6. Kentang → Aviko, Fiesta
7. Mix Vegetables → Golden Farm
MARI KITA USAHAKAN beli sekali, pakai bertahun-tahun itu ‼️👊🏼
Catat list ini :
• EcoHome → Air Fryer
• Yong Ma → Rice Cooker
• Oxone → Set Panci
• Esok → Wajan
• Philips → Setrika
• Samsung → TV
• Gree → AC
• Sharp → Kulkas & Mesin Cuci
• Rinnai → Kompor
Salut buat tim R&D Jamuin.
Wkt diskusi sekitar sebulan lalu sempet gua bahas kalo Jamuin hrs punya varian susu jahe. Tp dgn syarat, harus pake fresh milk (bkn pemanis rasa susu) dan harga yg affordable.
Lalu voila! bkn cm jahe susu aja tp sekaligus kencur susu dan kunyit susu jg langsung dibikin, dgn harga start Rp10rb - 15ribuan.
Plus 3 varian baru utk bikin glowing kulit dan menyehatkan pencernaan.
Good work team, semoga 2026 makin moncer dan bermanfaat produk2 Jamuin ini buat masyarakat.
Yuk pindah haluan dari brand mahal ke brand lokal — kualitasnya tetap bagus banget 👀
Uniqlo → Joybasic
Pull & Bear → Heclo
H&M → Hulm / Posha
ZARA → Shopmarra
Stradivarius → Shopatcloth
Bershka → ByNeeth 1/3
Cotton On → Gonegani
To all bapak-bapak 30++,
Jangan tinggalkan tidur 8 jam, makan tinggi protein, berjemur setiap hari, zinc dan magnesium, minum air putih, angkat beban, vitamin D3, dan omega 3. Trust me, you won't regret it 🩶
Kita sama-sama tau gimana sinema Jepang memperlakukan olahraga dalam animasi-animasi mereka. Epik! Gak terkecuali 100 Meters-nya Kenji Iwaisawa yang diangkat dari manga Uoto (Orb: On the Movements of the Earth).
100 Meters bukan sekadar sport movie tentang lomba lari cepat aja, tapi ia juga nyaris filosofis. Mempertanyakan apa sih arti "berlari" buat kita manusia? Kenapa kita rela ngedorong batasan tubuh sampe maksimal cuma demi lari 100 meter mentok yang cuma makan waktu kurang dari 10 detik?
Ceritanya mengikuti dua rival abadi: Togashi, si jenius alami yang dari kecil menang gampang tanpa effort berlebih, dan Komiya, anak transfer yang awalnya cupu tapi obsesinya meledak-ledak setelah diajari lari sama Togashi. Dari pertemuan mereka di sekolah dasar, sampai bertahun-tahun kemudian jadi atlet profesional, 100 Meters nge-span waktu yang panjang, bikin kita ikut ngerasain perjuangan mereka—dari euforia kemenangan, krisis identitas, cedera, sampai pertanyaan eksistensial: "Kenapa masih terus lari kalau udah mentok?"
Yang bikin 100 Meters beda dari sports anime pada umumnya adalah pendekatan Kenji Iwaisawa. Setelah On-Gaku: Our Sound yang eksperimental banget, di sini dia pake rotoscoping secara masif—mereka rekam gerakan para pelari sungguhan (termasuk atlet pro), lalu ditrace dan animasikan ulang. Hasilnya? Kamu bakal nemuin gerakan animasi lari yang hiper-realistis, otot bergetar, napas tersengal, keringat beterbangan. Udah berasa kayak nonton live action tapi dengan kebebasan animasi. Pas scene race klimaks, waktu kayak diperlambat, warna meledak, dan kita benar-benar ngerasain adrenalinnya.
Uoto, yang kita kenal dari Orb yang berat dan intelek itu, di debut manganya (Hyakuemu) sudah nunjukin kalau olahraga bukan cuma kompetisi, tapi metafora hidup itu sendiri. Motivasi karakter-karakternya kompleks. Ada yang lari buat kabur dari masa lalu, ada yang buat buktiin diri, ada yang cuma karena "karena bisa". Dialognya minim, tapi visualnya banyak bicara, mirip gaya Iwaisawa yang ekspresif lewat gambar daripada kata-kata.
Buat fans sports anime klasik kayak Haikyuu!! atau Slam Dunk, 100 Meters lebih ke introspektif dan dewasa ketimbang murni full olahraga dan persaingan. Fokusnya lebih ke psikologi atlet, bukan cuma soal menang atau kalah. Tapi tetep ada momen-momen epik yang bikin bulu kuduk berdiri, apalagi scoring-nya Hiroaki Tsutsumi yang nendang banget.
Kalau kalian lagi cari sports anime yang gak cuma bikin semangat tapi juga filosofis, ini wajib!
4/5