Prabowo Subianto is right to aspire to better growth for his country. Unfortunately for Indonesia, the main obstacle to fulfilling that potential is the president himself https://t.co/NVwvHnJ85q
Ada satu perkataan prof uceng yg ngena bgt di gw
"Anda tau ga apa tujuannya daftar pustaka ada tahunnya? Krn itu menunjukkan dia & pemikirannya di tahun itu. Tahun berikutnya belum tentu pendapat dan stancenya tetap sama. People change"
Damn.
Jangan percaya mentah-mentah pada narasi yang bilang masuk Standalone Market itu gapapa, buktinya pasar saham Argentina justru naik +3000% dalam 5 tahun setelah masuk Standalone Market
Itu narasi menyesatkan penuh ilusi yang menyembunyikan fakta makroekonomi sebenarnya
Nih saya jelaskan tuntas
Argentina diturunkan statusnya menjadi Standalone Market karena kontrol modal (capital controls) dan pembatasan valuta asing ketat yang diberlakukan pemerintahnya sejak September 2019. Aturan ini dinilai menyulitkan investor asing untuk merepatriasi dana atau mengonversi mata uang
Bila dilihat memang pasar saham Argentina naik +3000 lebih dalam waktu 5 tahun sejak downgrade tsb. Namun sebenarnya, kenaikan tsb disebabkan oleh dua hal:
1. Inflasi yang menggila di sana. Inflasi sempat mencapai hampir 300%
Total inflasi akumulasi 5 tahun mencapai lebih dari 2.600% akibat pencetakan uang masif setelah krisis gagal bayar utang pada 2020. Nilai mata uang Peso anjlok lebih dari 80% dan Argentina mengalami hiperinflasi
Ketika inflasi meroket dan mata uang Peso terdevaluasi tajam, masyarakat dan investor institusi enggan memegang uang tunai. Mereka mengalihkan dana ke aset riil dan ekuitas (saham) perusahaan yang memiliki aset berharga atau pendapatan dalam mata uang asing (seperti emiten komoditas dan ekspor).
Kamu investasi saham jungkir balik sampai cuan saham multibagger pun, secara riil tidak banyak artinya. Di tahun 2024, cuan 200% pun terhitung masih rugi, karena harga barang-barang kebutuhan hidup naik jauh lebih tinggi hampir 300%
Jadi kenaikan di pasar saham Argentina tsb disebut Illusionary Rally, bukan karena pertumbuhan ekonomi perusahaan
2. Pergantian kebijakan pemerintahan baru
Di bawah kepemimpinan Presiden Javier Milei sejak 2023 yang menerapkan kebijakan "terapi kejut" dan penghematan anggaran ekstrem (austerity), kondisi ekonomi Argentina menunjukkan pemulihan di sisi makro. Hal ini juga mendorong penguatan harga saham. Ekspektasi investor menjadi lebih positif
Namun hal ini juga diiringi tekanan sosial yang berat bagi rakyat Argentina. Sejak 2023 Argentina mengalami krisis ekonomi parah. Mulai 2025 agak membaik. Namun kondisi ekonomi masih tetap buruk. Inflasi berhasil ditekan, namun masih berada di kisaran lebih dari 30%
Kalau dilihat GDP per kapita Argentina sampai 2025 pun masih belum mampu naik di atas level sebelum krisis
Jangan dianggap masuk Standalone, lalu otomatis ada peluang naik tajam seperti Argentina. Itu ngawur. Belum tentu
Biasanya pasar saham yang normal bergerak seiring dengan ekonomi negara. Ekonomi bagus, pasar saham juga kondusif. Demikian juga sebaliknya. Jika pasar saham naik gila-gilaan, sedangkan ekonomi ancur parah, artinya ada something wrong seperti kasus Argentina
Menjadi Standalone Market bukanlah sebuah prestasi yang bisa dibanggakan. Artinya pasar saham negara tersebut dianggap UNINVESTABLE karena mengalami disfungsi sistemik
#intinyadeh MK mutusin UU Peradilan Militer bertentangan dgn UUD 1945.
Ranah pengadilan militer harusnya berdasarkan perkaranya, bukan status pelaku sbg anggota TNI.
Anggota TNI yg lakuin tindak pidana umum, harus diadili di pengadilan umum.
Harus revisi dalam 2 tahun.
(1/2)
Kasus pengendara Alphard arogan di Bundaran HI ini hanya puncak gunung es problem mentalitas aparatur yang bermasalah. Dan ini bukan masalah individual, ini institusional.
Bagaimana bisa terjadi, aparat yang tugasnya menjaga ketertiban termasuk lalu lintas, justru melakukan pelanggaran di jalan, bukannya mengaku salah malah arogan dan mengintimidasi, dan diduga menggunakan plat kendaraan palsu?
Semakin memperkuat tesis bahwa selain kecakapan teknis, aparatur negara wajib dibekali kecakapan etis, supaya paham benar/salah dan baik/buruk, sehingga bisa menjadi teladan, bukan beban.
This morning, after Nadiem was sentenced to 10 years in jail, it’s clear that Google needs to take a strong official stand.
The Indonesian judges sullied Google’s name, claiming without evidence the U.S. giant engaged in bribery to win a Chromebook laptop contract.
In this fiction, Google invested in Nadiem’s company, GoJek. In return, Nadiem, who left GoJek to become Education Minister, ordered the purchase of Chromebooks.
Prosecutors failed to put any evidence forward to back this defamatory allegation. Yet Nadiem got 10 years. Why? Because he tried to reform a corrupt ministry and made a lot of enemies.
How can Google remain silent in the face of these baseless allegations. Just because a judge said it, doesn’t make it any less defamatory.
I would expect Sapna Chadha and other senior Google leaders in the region to show the backbone to speak up now. Nadiem was Google’s trusted partner for years. They invested in his company. Will they remain quiet just to protect their business in Indonesia. Where are they in his time of need?