Ilmu nawar tingkat dewa adalah biarin teknisinya kerja dulu, baru tiba-tiba inget mau nawar.
Jadi ada customer baru yang hubungin gw. AC-nya nggak dingin dan netes air, padahal katanya udah dicuci dan diisi freon sama teknisi sebelumnya. Gw dateng keesokan harinya buat ngecek.
Setelah pengecekan, terjadilah percakapan ini:
🧑🔧: "Bu, AC-nya harus di-overhaul. Sudah kotor parah, banyak lendirnya. Makanya dingin nggak keluar dan air netes."
🧕: "Berapa biayanya mas?"
🧑🔧: "350 ribu Bu, garansi 3 bulan."
🧕: "Oke mas, kerjain aja yang penting dingin."
🧑🔧: "Siap."
Deal. Gw mulai eksekusi. Indoor baru gw turunin dari tembok, eh tiba-tiba ibunya nawar.
🧕: "Mas, nggak bisa 150 ribu aja?"
🧑🔧: "Maaf Bu, nggak bisa. Kan tadi sudah dikonfirmasi harganya."
🧕: "Kalau nggak bisa, balikin aja deh AC-nya."
😮💨
Menurut kalian gw ngapain? Tepat sekali, gw ambil indoornya dan naik tangga buat masang balik.
🧕: "Eh mas, kok mau dipasang lagi? Kan belum dicuci."
🧑🔧: "Loh, ibu yang minta dibalikin. Harga segitu saya nggak mau, ya saya kembaliin ke tempatnya."
🧕: "Jangan mas, ntar saya nggak bisa tidur kalau kepanasan. Yaudah kerjain aja deh."
Nggak semua orang bisa diperlakukan kayak gitu. Prinsip gw simpel aja, kalau udah deal ya udah. Jangan tiba-tiba tengah jalan nawar seenaknya, apalagi pakai ancaman.
Disini ada yang pernah jadi customer kayak gini?
Sebelumnya mereka tuh ngomong gini ke kita, Asia:
"Teman-teman Asia, tolong ya, jangan kebanyakan pake AC. Bumi ini panas. Pikirin anak cucu dong."
Gue yang di Jakarta 35°C + lembab 90% cuma bisa bilang... "Iya kak, gampang ngomongnya. Coba kakak tidur di kamar kontrakan gue
Dari segala olahraga elit nan klasis paling benci banget sama olahraga golf : perlu lahan luas, ngilangin biodiversitas serangga, seksis dan mengobjektifikasi perempuan.
Ga da skill GPP, yg penting duit
First trailer for ‘YOUR MOTHER YOUR MOTHER YOUR MOTHER’, starring Mahershala Ali, Tramell Tillman and Giancarlo Esposito.
The film follows a religious hitman who struggles to balance work, faith & fatherhood.
In theaters on October 9.
I think of myself as someone with a wide mental library & a brain good at making inobvious connections, but every time this guy posts I'm just in awe
alasan gw dulu berusaha banget buat kuliah di tempat terbaik adalah karena gw pengen living with the giants, ketemu, terbiasa, dan belajar dari orang-orang kayak mba fatimah ini.
cara ngomongnya ga tergesa-gesa, ga gampang kepancing emosi, dan tetap on the track ke substansi pembahasan. padahal lawan bicaranya jelas berusaha mainin psikologis dengan menunjukkan superioritas, terutama pas bilang, “jadi dek... saya pernah mahasiswa yang merasa paling benar.”
kalimat itu seolah-olah mau menempatkan lawan bicara sebagai orang yang harus tunduk, nurut, dan dianggap belum paham apa-apa hanya karena berhadapan dengan orang yang lebih tua.
fathimah ini dididik dgn pola parenting yg gimana ya? anak FK, identik dgn dunia eksakta, tpi pemikiran sosial-politisnya se mateng ini.
dia berargumen jg ga kebawa emosi lawan bicara. tetep tenang, tpi lugas; intonasi + redaksi argumennya tertata bgt.