overall from this statement, everything is fair even itu tuhan sekalipun. tapi, sek gurung siap sampe iso bahagiano sukses di depan kedua orang tua langsung.
waktu itu pernah mikir dengan analoginya gini,
tuhan menanam bunga di tiap tanah yang berbeda. ada yg mati sebelum mekar, ada yg layu sebelum digenggam, dan ada yg mekar begitu indah hingga tuhan mencabut sampai ke akarnya.
“dan ada yg mekar begitu indah hingga tuhan mencabut sampai ke akarnya”
puncak keindahan pun tidak memberi jaminan keberlanjutan. justru kadang yg paling bernilai, paling bersinar, paling hidup adalah yg paling cepat hilang.
“ada yg layu sebelum digenggam”
bahkan ketika kemungkinan itu hampir menjadi kenyataan, hidup tetap bisa merenggutnya. harapan tidak selalu berakhir pada kepemilikan.
mungkin kalo dibedah one by one jadinya “tuhan menanam bunga di tiap tanah yg berbeda”
berarti hidup bukan hasil pilihan awal kita? kita hadir pun dalam situasi yg jadi, dan itu fakta.