Hehe. Gak juga sih mas. Sbg sebuah argumen kalimat “tukang martabak” ini menurutku terlalu menyimplifikasi sesuatu.
1) Soal ini menurutku kita harus objektif juga menilai mas. Diluar soal putusan MK yg dirasa publik kurang tepat (termasuk oleh saya terkait isi dan sebaran pendapat hakimnya), mas Gibran @gibran_tweet ini rekam jejak pendidikannya bagus kok. Bahkan menurutku super bagus diatas rata-rata kebanyakan kita orang Indonesia.
Aku lihat, sesudah aku baca-baca, terkait pendidikan ini memang sejak dulu pak @jokowi telah mempersiapkan yg terbaik utk anak2nya. Kaesang (@kaesangp) aku bacapun sejak SMA juga sudah ditarok di Singapura dll. Termasuk pendidikan tingginya.
2) Bahkan terkait pendidikan tinggi di Luar Negeri ini, dari 6 nama (Capres/Cawapres) yg sudah terdaftar di KPU hari ini, menurutku saingan mas Gibran ini ya cuma mas Anies Baswedan saja. Walau beliau lebih unggul krn sudah PhD dan di luar. Lihat saja daftarnya dlm data mas Gibran dibawah. Itukan modal juga utk menilai seseorang akan mampu memimpin atau tidak. Karena pendidikan ini kan soal pengetahuan, ilmu, wawasan, pengetahuan akan dunia dll.
3) Ditambah lagi jika kita tarik ke soal tempat tumbuh: 20 tahun ini mas Gibran kan hidup di keluarga yg Ayahnya jadi Walikota, Gubernur dan Presiden. Dimana diskusi dan kebiasan sehari-hari didalam keluarga itu pasti mengalir juga dia. Menambah khasanah, wawasan dan cara berpikir, pengerahuannya ttg negara dan Indonesia. Kita dekat-dekat dgn penjual parfum aja wanginya kena ke kita. Apalagi tinggal serumah begini.
Krn aku saja merasakan mendampingi pak SBY selama hampir 10 tahun ini (padahal bukan anggota keluarga kandung yg tinggal didalam rumah beliau) ikut merasakan pertambahan informasi, pengetahuan soal negara, pengelolaannya dll. Apalagi anak-anak mereka yg tinggal serumah dgn para Presiden ini.
4) Maaf ini jawabanku terhadap twit jenengan dibawah ya mas. Maaf jika tidak berkenan.
5) Namun kembali lagi karena ini Pemilu, soal memilih ya kita kembalikan lagi ke rakyat di TPS.
Sehat terus utk kita semua mas. Walau mungkin di Pilpres kali ini kita berbeda pilihan, kita tetap berteman.
Hormatku,
JANSEN SITINDAON
Saya membuka album foto2 lama bersama pak Jokowi, saat saya masih menjabat dan mengkritiknya keras sekali. Saya tidak melihat beliau berubah. Sederhana, simbolik dan tetap ramah. Sy tidak mengerti kalau ada orang2 yg dekat menganggap beliau berubah. Mungkin mereka yg berubah. 🙏
Saya nggak pernah bilang kalau PDIP nggak berjasa dalam karir politik Jokowi hingga menjadi presiden.
Namun ketika PDIP (Megawati) terus menghina Jokowi seakan-akan kemenangan PDIP di Pemilu 2014 & 2019 tak ada jasa Jokowi, yaitu namanya PDIP yang tak tahu diri.
Jokowi sulalu hormat ke PDIP dan Megawati sebagai wujud terima kasih. Tapi tetap saja Megawati merendahkan Jokowi seperti itu.
Nanti Ganjar juga akan direndahkan seperti itu. Dituding bahwa tanpa PDIP, maka Ganjar bukanlah siapa-siapa.