Obok-obok kehidupan ala Prabowo-Gibran
Masih ingat lagu anak-anak yang dulu kita nyanyikan sambil ketawa?
“diobok-obok, airnya diobok-obok ada ikannya kecil-kecil jadi mabok”. Nah bedanya kalau Joshua mengaduk ember mainan, semua senang.
Lagu itu berhenti lucu begitu sadar bahwa dua tahun terakhir kitalah ikannya, dan yang pegang pengaduk adalah orang-orang yang kita bayar lewat pajak untuk menjaga airnya tetap jernih.
Hari ini semua adukan itu kelihatan hasilnya sekaligus. Rupiah tembus Rp18.000, terlemah sepanjang sejarah republik. Pertamax loncat dari Rp12.300 ke Rp16.250 semalam. (30% loh ya)
Inflasi naik dari 2,42 ke 3,08 persen hanya dalam sebulan, 15 ribu orang kena PHK baru sampai April.
Dan besok mahasiswa UI mengundang masyarakat turun ke Bundaran HI dengan nama aksi yang terdengar seperti hasil audit: Menuju Indonesia Bangkrut. (1)
Pacar aku tuh orangnya nyebelin, apa aja bisa dijadiin bahan buat dibakar. Cuman mungkin disitu seni nya dalam berhubungan. Kyk kata Chitato jaman dlu “Life is Never Flat”.
Niatnya makan bergizi, tapi kok lauknya begini? Coba perhatikan baik-baik piring makan anak SD ini. Ini adalah salah satu menu dari program Makan Bergizi Gratis alias MBG. Tapi, ada yang bikin salah fokus di sini: ada gorengan segede gaban!
Memang sih, siapa yang nggak suka bala-bala? Enak, gurih, anak-anak pasti doyan. Tapi masalahnya, judul programnya kan 'Makan Bergizi Gratis'. Kalau lauknya didominasi tepung dan minyak goreng, nutrisi buat pertumbuhan dan kecerdasan otaknya dari mana? Ini jadi PR besar buat pelaksana di lapangan. Jangan sampai tujuan mulia buat berantas stunting malah ujung-ujungnya cuma ngasih makan seadanya yang penting murah dan anak-anak kenyang. Gimana menurut kalian, wajar nggak sih menu MBG ada gorengannya?"