@OposisiCerdas Nauzubillahiminzalik @KhofifahIP ...coba anda banyak Istigfhar...alangkah naifnya anda membandingkan mereka berdua dengan KhulaffarRasyidin RA...Sahabat RasullullohSAW Yg Mulia...anda SANGAT MENGERTI AGAMA tapi KHILAF anda sdh SANGAT JAUH...
cc :@PPFatayat_NU
Ijazah @jokowi tidak ada,sesuai dengan pernyataan yg dikeluarkan ANRI.
Dan tiba-tiba ada polwan yg keberatan jika dikatakan ijazah Jokowi palsu dan tidak ada.
@msaid_didu NGAKAK GUEE LIHAT JOKOWI & TERMUL PARCOK NANGKAP RAKYAT ROY & BU TIFA SECARA KEJI, BENGIS PKI BIADAB CUMAN MAU NGEMIS MAKSAIN RJ ALHAMDULILLAH... DITOLAK KERAS PAK ROY & BU TIFA,TAPI GUE SEREM NGERIII KETEMU TERMUL KURAP & TERMUL NENEK LAMPIR TANTRUM🤭🤣😂
https://t.co/veNOwUjUzE
Aku sudah pernah berbaju orange
Aku tidak pernah membayangkan akan sampai di titik ini.
Memakai baju orange, berdiri di tengah kerumunan, dilihat banyak mata, seolah hidupku diringkas menjadi satu warna. Tapi kalau mereka mau tahu, ini bukan awal dari ceritaku. Ini hanya satu potongan kecil dari jalan panjang yang sudah kupilih, sadar atau tidak.
Baju orange ini,
Yang sering diteriakkan buzzer dan termul untuk menghinaku
Ketika dia ku sandang di tubuhku, justru
Seperti baju zirah yang membungkus perjuanganku.
Baju orange ini, di tubuhku adalah tanda perlawanan terhadap kebohongan, kepalsuan, kezaliman.
Tanda bahwa aku terus berdiri tegak dan senyuman karena aku tahu nilai apa yang terkepal di tanganku.
Aku hanya berjalan dengan apa yang kupercaya. Kadang langkahku pelan, kadang aku ragu, tapi aku tidak pernah benar-benar berhenti.
Aku tahu, apa yang kusuarakan tidak selalu nyaman untuk didengar. Bahkan mungkin membuat sebagian orang terusik. Tapi bagaimana aku bisa diam, kalau hatiku sendiri tidak bisa diajak kompromi?
Di balik senyum ini, ada banyak hal yang tidak terlihat. Ada lelah, ada takut, ada pertanyaan yang tidak selalu punya jawaban. Tapi ada satu hal yang selalu kutahan kuat-kuat: aku tidak mau kehilangan diriku dan menggadaikannya demi kenyamananku.
Hari iitu, melihat aku berbaju orange, mungkin banyak orang iba padaku, menangisiku.
Tapi di dalam diriku, muncul bara api membara seterang baju ini.
Yang membuatku tetap utuh dalam langkahku dan berkata:
Kalau ini memang harus aku jalani, ya sudah… aku jalani.
Bukan untuk membuktikan apa-apa ke dunia. Tapi supaya nanti, saat aku melihat ke belakang, aku tahu,
aku tidak pernah mengkhianati kebenaran yang kuyakini.