Mohon di up gais karna media belum ada berita in tentang kejadian ini.
Kebakaran besar terjadi di jalur pipa gas menyusul ledakan pagi ini di Gampong Blang Rubek, Kecamatan Lhoksukon, Kabupaten Aceh Utara, Provinsi Aceh, Indonesia.
Deket rumah ada kompleks isinya beragam usaha mikro pada jualan makanan. Anak lanang mampir ke booth makanan India dan beli roti canai dan kari ayam, dia bayar 75K.
"Do you think this is overprice or not?" Menurut ibu, ini kemahalan ga?
"Ibu ga tau. Tapi kalo sama pedagang begini, ga usah terlalu mikirin mahal ato engga. Kalo punya uang beli, kalo engga ya ga usah"
"Why?"
"Mereka jualan bukan lagi nyari untung ratusan juta ato milyaran. Mereka juga ga korupsi. Jadi kalo kita bisa beli, ya beli aja. Diniati menikmati hidup, jajan sambil sedekah"
Selain jajan makanan India, anak lanang juga saya temani mborong donat gula yang dijual ibu-ibu bakulan.
"I don't want to eat donuts, Mom. Lagian beli banyak banget?"
"Bukan buat kamu, itu ntar kamu bagiin ke supir taksi di depan" kata ibu ngajarin Kai.
Supir taksi pas dikasi donat satu plastik besar, langsung ketawa bahagia.
"Nitip bagi ke teman-teman lain ya Pak" pesan saya.
Alm ibu dulu ngajarin anak-anaknya buat belanja di warung dan pedagang kecil, supaya ngasi rejeki ke mereka. Usahakan jangan melulu belanja di supermarket, pesan yangti yang terus saya ingat dan ajarkan juga ke anak-anak.
Gw juga suka ajaran Gus Baha untuk belanja ke wong cilik, meski kadang kita ga butuh. Ini cara kita sedekah tanpa merendahkan mereka, begitu kurleb pesannya.
Meski banyak pejabat denial, tapi negara kita ini dalam kondisi ngga sehat. Dollar melambung yang berakibat bahkan harga tempe bisa naik karena kedelai kita mostly import.
Apa yang bisa kita lakukan di level individu? Belanja lah ke warung, pasar basah, jajan UKM, beli ke toko kelontong.
Belanja ke mereka bukan sekedar transaksi, itu cara menjaga sesama warga agar tetap punya harapan hidup.
Dari statement ini, kita bisa membaca bahwa Prabowo menunjukkan pola toxic leadership yang ditandai oleh empati rendah, kontrol otoriter, dan moral disengagement.
Pola seperti ini berbahaya karena ia gagal membedakan dedikasi dengan eksploitasi, lalu memperlakukan penderitaan bawahan sebagai bukti loyalitas.
Secara etik dan manajerial, ini sudah cukup menjadi indikator serius bahwa ada cacat mendasar dalam kualitas kepemimpinannya.
Nasib +62 seminggu terakhir :
- Putusan MK : Jakarta tetep ibu kota, gak jadi IKN
- Sambo Kuliah S2 di lapas
- Nadiem divonis 18 + 9 tahun
- Ibam divonis 4 tahun
- Andrie Yunus gak sopan dan ber etika, makanya disiram air keras
- Nonton Film Dokumenter dilarang
- Lembaga tinggi negara bikin cerdas cermat aja, juri nya blunder
Ada yg mau nambahin?
@rofmeov Gamau satu, aku serakah. MBG dan koperasi merah putih bubar, para pendidik gajinya dinaikkan, pembangunan perpustakaan secara masif, dan yang penting para pemimpin bermasalah bin goblok dimakzulkan serta diganti dengan yang sangat baik
Guys, Ahok baru ngomong sesuatu soal Chromebook dan MBG yang menurut gue paling jujur dan paling berani dari siapapun yang gue dengar dalam beberapa bulan terakhir.
Dan dia ngomongnya
bukan sebagai pembela Nadiem.
Dia ngomong sebagai orang yang paham betul bagaimana sistem pendidikan dan teknologi seharusnya bekerja.
Soal Chromebook dan kenapa Ahok marah:
Ahok bilang dengan sangat tegas:
pengadaan Chromebook itu sebenarnya adalah kebijakan yang sangat masuk akal secara logika.
Chromebook itu bukan laptop biasa.
Operating system-nya berbasis cloud sekali beli langsung include semuanya, tidak perlu diperbarui terus-menerus.
Harganya jauh lebih terjangkau
dari laptop konvensional.
Dan yang paling penting sistemnya dirancang agar anak tidak bisa nonton video porno, tidak bisa judi online, dan seluruh aktivitas belajar bisa dipantau.
Ahok kasih contoh nyata.
Ada guru di Jawa Barat yang punya empat sertifikat internasional bisa mengajar di level dunia. Ujiannya hanya 10 dolar.
Bayangkan kalau semua guru Indonesia bisa akses sertifikasi seperti itu lewat Chromebook yang terhubung Starlink di daerah terpencil anak di kampung tiba-tiba bisa belajar setara dengan anak di Kanada atau Australia.
Itu bukan mimpi.
Itu sudah bisa dilakukan sekarang dengan teknologi yang ada.
"Bayangin kalau semua anak kita di kampung ada Starlink juga kan.
Anak di kampung kita tiba-tiba belajar setara dengan orang di Kanada atau di Amerika atau di Australia."
Lalu kenapa Ahok merasa ini sengaja dihambat:
Ahok bilang dengan sangat hati-hati karena takut diproses hukum lagi tapi dia tetap bilang:
"Saya pikir ini sengaja."
Logikanya sederhana dan sangat keras.
Kalau rakyat pintar, rakyat kritis, rakyat bisa akses informasi dari mana saja mereka lebih sulit dikuasai.
Lebih sulit dibohongi.
Lebih sulit dimanipulasi menjelang pemilu.
Sistem yang membiarkan rakyat bodoh dan miskin adalah sistem yang menguntungkan mereka yang berkuasa.
Karena rakyat yang bodoh dan miskin lebih mudah disuap dengan sembako, lebih mudah digiring dengan hoaks, lebih mudah dikontrol dengan ketergantungan pada program-program yang terkesan murah hati tapi tidak memberdayakan.
MBG- makan bergizi gratis menurut Ahok adalah contoh dari cara berpikir yang sama.
Daripada kasih rakyat laptop yang bisa membuka pintu dunia, lebih mudah kasih makanan yang habis dimakan dan orang tetap tergantung besok makannya dari mana.
"Kalau saya tanya mau bikin sekolah bagus,
kasih makan bergizi atau rakyat punya laptop yang bisa komunikasi ke mana-mana?"
Yang paling menohok soal survei dan legitimasi:
Ahok tidak berhenti di situ.
Dia lanjutkan dengan sesuatu yang sangat pedas.
Pemerintah melakukan survei.
Rakyat bilang mereka suka makanan gratis.
Lalu itu dijadikan legitimasi untuk program MBG.
Seolah-olah karena rakyat minta ya sudah diberikan.
Tapi Ahok membaliknya:
kalau kamu memberikan sesuatu kepada orang yang tidak pernah tahu bahwa ada pilihan yang jauh lebih baik tentu mereka akan pilih yang ada di depan mata.
Itu bukan preferensi yang genuine.
Itu keterbatasan informasi yang dimanfaatkan sebagai justifikasi.
"Mereka juga pintar.
Dia survei, Pak.
Rakyat suka makanan itu jadi legitimasi."
Dan soal Nadiem yang sekarang dituntut 27 tahun:
Ahok tidak membela Nadiem secara personal.
Tapi dia bilang satu hal yang sangat logis dan sangat sulit dibantah:
Menteri itu tidak pernah menyentuh
anggaran secara langsung.
Menteri membuat kebijakan.
Yang mengeksekusi adalah birokrasi di bawahnya.
Kalau ada yang salah dalam eksekusi pertanyaannya adalah:
apakah menteri yang memerintahkan secara eksplisit?
Apakah ada aliran dana yang bisa dibuktikan masuk ke kantong menteri?
PPATK sudah menjawab:
tidak ada.
Nol aliran dana ke Nadiem dari siapapun.
"Saya pikir ya ini soal profesionalisme.
Menteri kan enggak pernah nyentuh anggaran perantaran kan, kecuali dia nyuruh ya atau terima ya."
Ahok tidak sedang bicara soal
Chromebook sebagai produk.
Dia sedang bicara soal pilihan fundamental sebuah bangsa:
apakah kita mau membangun rakyat yang pintar dan mandiri, atau kita mau mempertahankan sistem di mana rakyat tetap bergantung pada belas kasihan penguasa?
MBG memberikan makan hari ini.
Chromebook bisa mengubah nasib seumur hidup.
Dan ketika kebijakan yang lebih transformatif justru dipersoalkan secara hukum sementara program yang lebih konsumtif dirayakan sebagai prestasi itu bukan kebetulan.
Itu adalah pilihan yang sangat disengaja oleh mereka yang paling diuntungkan dari rakyat yang tetap tidak berdaya.