Pasar kripto emang liar, tapi risiko sistemik tetep bisa diukur secara kuantitatif biar gak gampang "terbakar".
Gimana menurut kalian pendekatan risk management kaya gini? Open for feedback & discussion! 👊
Bisa gak sih matematika pemodelan bencana (kaya prediksi kebakaran lahan / titik evakuasi pabrik) dipakai buat antisipasi flash crash di Bitcoin?
Bisa banget.
Gue baru aja ngerancang prototype indikator kuantitatif di TradingView: Systemic Risk & Evacuation Model (SREM). 🧵👇
Beda sama indikator biasa yang terlambat, SREM ngasih peringatan de-risking sebelum pasar rontok:
- Elevated Risk (65–79): Peringatan pangkas leverage & perketat SL.
- Critical Risk (≥80): Sinyal partial take-profit sebelum liquidation cascade.
- Evacuate: Exit total.
Randomly watched Pak Rizky Aditya Putra on podcast Kasi Solusi.
Kepikiran: “Kenapa nggak coba tawarin POS System yang lagi gue bangun ke UMKM Lamandau?”
Akhirnya memberanikan diri DM.
Niatnya sederhana: kasih akses gratis, supaya UMKM bisa belajar mencatat omzet kotor/bersih -
@ubegebe1 Hai Sahabat ubegebe1, dapat kami sampaikan, Bank Mandiri memohon maaf atas ketidaknyamanan yang ditimbulkan kepada nasabah terkait pemblokiran rekening. Pemblokiran tersebut merupakan tindak lanjut atas permintaan aparat penegak hukum dan telah dilakukan sesuai prosedur serta ketentuan yang berlaku. Bank Mandiri berkomitmen untuk terus mengedepankan prinsip GCG, kepatuhan, dan kehati-hatian dalam menjalankan layanan perbankan. Tks~Jojo
Jujur ini baru pertama kali pecah telur instagram dengan konten yg bener2 aku siapin mulai dari workflow, pipe line, target audience dan enviroment nya aku siapin sungguh2.
Ini project konten AI short serial animasi di IG nya @tygerearth
Awalnya nyiapin ini buat YT Short tapi sambil nyobain cross posting YT, IG, Tiktok. Dan ternyata insight paling bagus dapet nya di IG.
Disini aku nemuin celah algoritmanya di IG sudah waktunya kita exploitasi 😆
Tidak ada orang yang akan datang menyelamatkan hidupku.
Aku harus membangunnya sendiri.
Maka aku mulai belajar.
Belajar bisnis.
Belajar teknologi.
Belajar investasi.
Belajar AI.
Belajar bagaimana membangun sesuatu dari nol.
Aku membangun produk.
Aku membangun sistem.
Aku membangun Aether untuk membantu UMKM memahami bisnis mereka.
Aku membangun BlackBear dengan harapan suatu hari dapat membantu lebih banyak orang mendapatkan akses terhadap peluang dan likuiditas.
Aku belajar AI bukan karena takut pada teknologi.
Aku belajar AI karena aku ingin menjadi manusia yang mampu menghasilkan lebih banyak nilai.
Aku tidak pernah bermimpi menjadi orang terkaya.
Aku hanya ingin memiliki cukup kebebasan untuk memilih hidup yang ingin kujalani.
Dan jika Tuhan mengizinkan aku memiliki lebih dari yang kubutuhkan, aku ingin menggunakannya untuk membangun.
Aku ingin membantu orang yang kesulitan mendapatkan pendidikan.
Aku ingin membantu orang yang kesulitan mendapatkan layanan kesehatan.
Aku ingin membantu tempat-tempat yang mengajarkan kebaikan bertahan lebih lama.
Karena aku tahu rasanya hidup dengan keterbatasan.
Aku tahu rasanya menghitung uang sebelum membeli sesuatu.
Aku tahu rasanya memikirkan masa depan sambil takut terhadap kegagalan.
Jika ada satu hal yang ingin kalian pelajari dariku, bukanlah tentang uang.
Bukan tentang investasi.
Bukan tentang bisnis.
Tetapi tentang ketahanan.
Karena hidup tidak selalu adil.
Dunia tidak selalu memberikan hasil sesuai usaha.
Namun selama kalian masih mau belajar, beradaptasi, dan berjalan satu langkah lagi, harapan selalu ada.
Jangan takut memulai dari kecil.
Jangan takut terlihat bodoh.
Jangan takut gagal.
Yang harus kalian takuti adalah berhenti mencoba.
Jika suatu hari kalian berhasil melampauiku, aku akan bangga.
Jika suatu hari kalian gagal, bangunlah lagi.
Karena keluarga ini tidak dibangun oleh keberuntungan.
Keluarga ini dibangun oleh orang-orang yang terus berjalan meskipun lelah.
📢 SURAT TERBUKA UNTUK PT PLN (PERSERO) @pln_123
Yth. PT PLN (Persero),
Sebagai masyarakat dan pelanggan PLN di Kalimantan Tengah, saya ingin menyampaikan keresahan atas tingginya intensitas pemadaman listrik bergilir yang belakangan ini terjadi.
Pemadaman yang berlangsung hingga sekitar 6 jam bukan lagi sekadar ketidaknyamanan. Bagi banyak orang, ini telah berdampak langsung pada aktivitas sehari-hari dan mata pencaharian.
Bagi pelaku UMKM, toko, kafe, rumah makan, percetakan, hingga usaha berbasis teknologi, listrik bukanlah kebutuhan sekunder. Ketika listrik padam berjam-jam, operasional berhenti, transaksi tertunda, bahan baku berisiko rusak, dan pendapatan hilang. Banyak masyarakat yang bekerja dari rumah juga kehilangan produktivitas karena perangkat elektronik dan jaringan internet tidak dapat digunakan.
Kami memahami bahwa gangguan teknis maupun pemeliharaan jaringan dapat terjadi. Namun, yang menjadi pertanyaan adalah mengapa pemadaman dengan durasi yang begitu lama masih terus berulang tanpa adanya informasi yang jelas dan transparan kepada masyarakat.
Melalui surat terbuka ini, kami berharap PLN dapat memberikan penjelasan mengenai:
• Apa penyebab utama pemadaman bergilir yang terjadi?
• Mengapa durasi pemadaman dapat mencapai hingga 6 jam?
• Kapan kondisi kelistrikan di Kalimantan Tengah dapat kembali normal?
• Langkah konkret apa yang sedang dilakukan untuk mencegah kejadian serupa di masa mendatang?
Listrik telah menjadi kebutuhan dasar yang menopang kegiatan ekonomi, pendidikan, pelayanan publik, hingga komunikasi masyarakat. Oleh karena itu, kami berharap kualitas pelayanan kelistrikan di Kalimantan Tengah menjadi perhatian serius.
Surat ini tidak dibuat untuk menyalahkan, melainkan sebagai bentuk harapan agar PLN dapat memberikan pelayanan yang lebih baik, lebih transparan, dan lebih andal bagi seluruh masyarakat.
Semoga suara ini dapat didengar, ditindaklanjuti, dan menjadi perhatian bersama demi kemajuan Kalimantan Tengah.
Terima kasih.