THE ODYSSEY tembus sejuta penonton di bioskop Indonesia!
Gimana yang sudah nonton, coba kasih komentarmu buat film Christopher Nolan satu ini. Mau apresiasi atau kritik, silakan bebas!
Data dari tracking Cinepoint.
Meminjam kerangka psikoanalisis Jacques Lacan, nyanyian The Sirens versi Nolan beroperasi selayaknya objet petit a—sebuah objek hasrat yang selamanya tak terjangkau dan justru menjadi sumber penderitaan itu sendiri.
Odysseus mendeskripsikannya melalui kalimat, "All the things you wanted to be, and then all the things you wished you never wished for. It was a delicious itch you want to scratch, but you find it under the skin and can’t reach it."
Rasa gatal di bawah kulit yang berujung menyiksa ini adalah manifestasi dari kehilangan masa lalu.
“What you most want is what you most can’t have, and what you most can’t have is what you already had and lost.”
Ini menegaskan bahwa hasrat terbesar Odysseus, dan mungkin para veteran lainnya, adalah diri mereka yang dulu. Sebuah kepolosan sebelum tragedi The Trojan War yang kini mustahil dikembalikan.
The Odyssey versi Nolan membedah sebuah kontradiksi sejarah yang lazim: bagaimana laki-laki memuja perempuan sebagai simbol ideal, namun di saat yang sama menolak mengakui kemanusiaan, kecerdasan, serta kepemimpinan mereka.
Melalui siasat politik Penelope, solidaritas Helen, dan retribusi Clytemnestra, film ini membuktikan bahwa penindasan serta objektifikasi perempuan justru terlihat lebih kentara ketika mereka diberikan agensi yang utuh, bukan sekadar pelengkap dalam narasi laki-laki. Ketiga karakter ini menjawab kontradiksi tersebut dengan elegan—mengubah ekspektasi patriarki yang selama ini mengurung mereka menjadi instrumen perlawanan.
Yang kami suka dari The Odyssey-nya Nolan ini tuh justru efek setelah filmnya selesai.
Habis nonton tuh rasanya pengen nyari tau dan baca-baca lebih detil lagi tentang nama-nama yang disebutkan dan juga event-event yang disuguhkan di film ini.
Rasa pengen tahu versi asli dan lebih detailnya The Odyssesy seperti apa sebelum dirombak sama Nolan.
Kontrasepsi di Indonesia masih terlalu sering dibebankan ke perempuan!
Pil, suntik, IUD, implant, semuanya dibebankan ke perempuan.
Efek samping hormonal (gangguan mood, libido drop, kenaikan berat badan, risiko kanker payudara jangka panjang, bahkan infertilitas sementara setelah berhenti) sering dianggap “biasa aja, kan biar nggak hamil”.
Kalau emang mau fair, cowok juga harus mendapatkan beban kontrasepsi yang adil misalnya kondom konsisten (bukan cuma “kadang-kadang”), atau vasektomi.
HAHHH? demi Allah baru tau kalau harus dimatikan 😭😭
saya selama ini tiap masakan udah matang, kompornya selalu nyala sampai LPG meledak. baru dimatikan ketika rumah sudah gosong