Merdeka Bro! 🇮🇩
Perjuangan para pahlawan udah kelar, sekarang giliran kita berjuang...
berjuang buat dapet cuan gede di bulan penuh semangat ini! DewaHub siap jadi saksi kemenangan lo! 💪
🎮https://t.co/0XR0CCYpOl
Aku tahu ini terlalu berlebihan, sayang. Makanya aku menahan pinggulmu agar kau tidak lari dari apa yg kau minta. “Aww, kasihan sekali. Terlalu berlebihan?” ejekku lembut. Aku menggerakkan jari-jariku. “kenapa vaginamu begitu baik? Kenapa kau begitu basah, sayang?”
Shhh, sayang… terus gelengkan kepalamu yang cantik itu —mulutmu berkata 'aku tidak mau' sementara vaginamu mengkhianatimu, mengencang, menetes, pinggulmu bergesekan dengan tanganku seolah kau kelaparan.
Kau tidak mau orgasme?
Terlambat, sayang. Aku memaksamu.
Aku akan memberimu perhatian yang tidak pernah kamu dapatkan saat tumbuh dewasa. Kamu hanya perlu melakukan sedikit hal untukku. Aku janji itu tidak buruk. Sekarang, pakailah kalung ini dan ikutlah denganku.
Aku akan membuahi jalang ini sampai berdenyut. Membanjirimu sampai tumpah berantakan. Rasakan tetesannya saat kau mengepalkan tangan, putus asa untuk menjaga benihku tetap di dalam tempatnya, tubuhmu gemetar karena kebenaran: kau hanyalah tempat pembuangan spermaku sekarang.
Menyelip di antara paha gemetarannya alih2 merebut apa yg masih murni—gesekan panas & licin tepat di celahnya yg belum tersentuh, aku menggesek perlahan. Desahan kecilnya berubah menjadi rintihan, kemurniannya dijaga, tubuhnya mengkhianatinya dngan setiap cengkeraman tak berdaya.
Tatapan mata kita. Tanganmu melingkari erat penisku, mengelus perlahan dan sengaja. Tanganmu gemetar, jari-jarimu menyelip di antara kehangatanmu. Tanpa ciuman, tanpa kata2—hanya suara basah & cabul dari kita yg saling menghancurkan sampai salah satu dari kita menyerah duluan.
Kau benar-benar tidak becus! Hanya peliharaan bodoh dan mesum, menggeliat-geliat sambil merengek dan mengeluh, menggesek-gesek tanpa tujuan. Kau tidak bisa hidup tanpaku, kau membutuhkanku. Ingat itu kalau kau mencoba melarikan diri, Peliharaan Bodoh
Dia menahan hasrat seksualnya selama berminggu-minggu—tanpa sentuhan, tanpa kelegaan, hanya rasa sakit dan hasrat yang membara. Vaginanya yang tak tersentuh langsung meledak. Bukti bahwa dia mencapai orgasme paling hebat ketika aku memutuskan dia tidak boleh melakukannya.
Putri duduk manis dengan kaki terentang lebar begitu. Roknya tersingkap, jari-jariku perlahan memisahkan bibir licin itu, memeriksa setiap inci yang berkilauan sementara kau gemetar. "Lihatlah kemaluan kecil yg haus ini, sudah meneteskan cairan untuk diperiksa."