Aku tahu selaku pekerja berdedikasi, hangpa tak ada masa nak tercongok depan TV, PC, laptop atau telefon bimbint untuk dengar apa Menteri Kewangan Kedua dok sembang pasal Harga Minyak jam 4 petang tadi.
Jadi, aku tolonglah tulis balik apa dia kata
BREAKING: Malaysia called the US-Israeli strikes on Iran “barbaric” and a “violation of international law.” It declared its US reciprocal trade agreement “null and void” after the Supreme Court struck down Trump’s tariffs. And then it picked up the phone, called Tehran, and secured toll-free passage for seven Petronas tankers through the Strait of Hormuz. Transport Minister Anthony Loke confirmed on March 31 that no toll is being imposed on Malaysian vessels because Malaysia has been designated a “friendly nation” by the IRGC. The strait that charges $2 million per crossing to everyone else lets Malaysian ships through for free.
This is the new sorting algorithm. The IRGC is not just filtering by cargo type. It is filtering by geopolitical alignment. China transits free because China buys Iranian oil and hosts the peace talks. India transits free because India maintains backchannels and refuses to condemn. Pakistan transits free because Pakistan is brokering the five-point framework in Beijing. And now Malaysia transits free because Malaysia condemned the war, nullified its American trade deal, and positioned itself as a Muslim-majority nation aligned with neither aggressor. The toll booth is not charging for passage. It is charging for allegiance. And the nations that pay nothing are the nations that owe Washington the least.
Malaysia imports 70 percent of its crude through Gulf routes. Without the exemption, Petronas tankers would face $2 million tolls plus war-risk insurance that would collapse refining margins and spike domestic petrol prices. Prime Minister Anwar thanked President Pezeshkian personally. The Iranian ambassador confirmed the designation. Seven tankers have clearance. Petronas has assured domestic fuel stability through May.
The US trade deal nullification adds the second dimension. On March 15, Malaysia’s trade minister declared the American Reciprocal Tariff agreement “null and void” after the Supreme Court ruling. Within two weeks, Malaysia secured toll-free passage from the country America is at war with. The timeline is not coincidental. It is transactional. Malaysia calculated that the cost of American displeasure is lower than the cost of $2 million per tanker crossing multiplied by every Petronas vessel for the duration of a war with no visible end date. The math chose Tehran over Washington. The math was correct.
And this is the pattern that should alarm every strategist in the Pentagon. Malaysia is not an adversary. It is a US security partner in Southeast Asia, a semiconductor packaging hub, a Five Eyes intelligence-adjacent nation, and a TPP signatory. If Malaysia can nullify a US trade deal, condemn the war as barbaric, secure free passage from the IRGC, and maintain diplomatic relations with both sides simultaneously, then the American alliance system is not being challenged by enemies. It is being arbitraged by friends. The toll booth is revealing who actually needs whom. And the answer is that a $2 million crossing fee has more immediate power over national alignment than 80 years of American security guarantees.
The IRGC did not build a blockade. It built an alignment detector. Ships that belong to nations aligned with Washington pay. Ships that belong to nations aligned with neutrality or Beijing pass free. The strait is sorting the world order in real time, and the sorting criterion is not military power. It is diplomatic flexibility.
Malaysia chose flexibility. The tankers are sailing. And Washington, as Trump promised on Truth Social, will remember.
https://t.co/dAOBBMsgDS
"Indonesia merdekanya kecepetan" itu yaudah lah ya. Momentumnya memang ke situ. Semua orang ingin merdeka. Konsekuensinya kita terima.
Yang tidak termaafkan itu adalah Konfrontasi Indonesia-Malaysia. Literally tidak aja gunanya dan tidak ada tujuannya, seperti MBG tapi jauh lebih ngawur lagi.
Efeknya sangat destruktif: Indonesia terisolasi di perdagangan dunia. Padahal, sebagai negara pasca-kolonial di Posisi Silang, kita masih sangat bergantung dengan ekspor barang dagang dan hubungan internasional yang baik.
Tidak ada ekspor --> tidak ada uang --> tidak ada beras dan tidak ada gaji untuk tentara.
Tidak berlebihan jika kita sebut bahwa Konfrontasi adalah bencana geopolitik terbesar di sejarah Indonesia.
Luka kebencian artifisial antara Indonesia dan Malaysia yang meaningless dan tidak perlu itu sampai hari ini belum sepenuhnya sembuh. Padahal, sudah puluhan tahun berlalu sejak Konfrontasi dilancarkan.
...Yah, ini tidak sepenuhnya benar. Ada sih, alasan di balik Konfrontasi. Saat itu Soekarno berusaha mempersatukan identitas Indonesia lewat cara Iblis, yaitu lewat kebencian, sebagaimana yang dulu dilakukan Hitler.
Indonesia yang majemuk hendak dipersatukan bukan lewat kebanggaan terhadap diri sendiri, melainkan kebencian terhadap pihak lain, terhadap "other" yaitu Malaysia.
Kebencian ini kemudian dilembagakan masif lewat aksi massa dan ormas terkomando melalui institusi-institusi seperti Front Nasional, yang diketuai Soekarno.
Mania kebencian artifisial ini menciptakan atmosfer Cancel Culture yang mencekam dan meneror. Barangsiapa menentang Soekarno dalam hal apapun, seperti Buya Hamka, segera dicancel dan difitnah sebagai antek Malaysia dan dibasmi.
Bahwa Malaysia punya hubungan kultural dengan wilayah-wilayah Indonesia yang terjalin sejak sebelum partisi kolonial tidak dipedulikan oleh Soekarno, yang tentara pusatnya baru saja menduduki dan membantai Sumatra dan Sulawesi dan merampok kebunnya. Kemudian output produksi kebunnya roboh, karena rampok yang mengelolanya bodoh dan korup.
Barangkali wajar saja Soekarno sama sekali tidak peduli, mengingat ia adalah boomer Jawa NPD dari Jawa yang tidak tahu dan tidak empati tentang hubungan kekerabatan dan kultural antara Sumatra, Kalimantan, dan Malaysia. Hubungan ini dikoyak begitu saja tanpa alasan jelas.
Bodoh sekali yang bilang "Soekarno bagus dalam politik luar negeri". Politik luar negeri Indonesia di masa Konfrontasi itu sangat jelek dan berakibat bencana dan penderitaan ekstrem langsung bagi rakyat, yang padahal bisa dihindari dan tidak perlu.
Setelah Soekarno digulingkan, alhamdulillah hubungan Asia Tenggara bisa berangsur-angsur dinormalisasi lagi, terutama dalam hal yang betulan berefek seperti perdagangan.
Malaysia has been using the same tourism branding "Malaysia Truly Asia" for close to 20 years. They poured everything into it. It exceeded expectations, was a massive success, boosted tourism numbers by 20% and spiked foreign tourist arrivals to 21 million tourists in its first year. Billions of dollars in revenue generated.
Meanwhile, the Philippines and its long list of incompetent tourism secretaries insist on changing our branding every time there's a new administration. BILLIONS WASTED IN MARKETING CONSULTANCY FEES every time there's a new branding commissioned when we could have used that money for ad spots on BBC World News or NatGeo or fucking Facebook ads.
I am so pissed off. Just go back to #ItsMoreFunInThePhilippines and fire everyone at the Tourism Department.
Job sackings: #ItsMoreFunInThePhilippines ☀️
Dari kes @mohdkautharr ni, baru tahu isu ini sebenarnya meluas. Ada yang berbulan-bulan akaun kena lock dan kena sidai.
Tak kisahlah apa alasan @MyTouchnGo, benda ni buat orang tak percaya simpan duit kat situ. Sebab ada risiko langsung tak boleh keluarkan macam ni.
PR diaorang fail tak membantu, proses panjang dan tak jelas. Kalau tak viral, hadaplah isu tu sorang-sorang turun naik pejabat dan balai polis.
Lagi mengarut, kalau ia disebabkan scammer yang cuba menyamar jadi kita.
TNG ni company monopoli. Dia block kau, kau tak boleh lalu tol guna payment method mereka. Takde option lain selain Debit/CC. Besar kesannya bagi yang hari-hari guna services mereka.
Jadi mereka mungkin tak risau sangat 'bising' begini. Tapi semua orang akan ingat dan akan switch bila ada peluang.
> be this guy
> born in Malaysia
> hates his country
> "fuck this country too many Malays Im off to Japan"
> Japanese people dont want him
> kekw.png
Malaysia took its ASEAN chairmanship to another level. It can be a muted affair the one year rotation. But PMX used it to build international standing, and got a global stage to converge. For those who know how this diplomacy world works, it’s a huge win. Credit where its due to the government.
Senarai syarikat yang sah untuk handle Jemaah Haji tahun ini
Selain nama syarikat ini.
Jangan percaya
Sebarkan terutama kepada Ibu Ayah atau Atuk Nenek yang takda media sosial
@alnickmnathan Yes, bahkan di antara orang jawa yang progresif di awal abad 20 juga menghindari penggunaan bahasa jawa atau bikin gerakan gerakan menggunakan bahasa jawa ngoko supaya lebih egaliter. Ya founding fathers Indonesia memang cukup visioner dan egaliter
Ada banyak barang tak guna nak letgo. Nak pindah studio baru. Barang kamera, gajet & smartphone.
Sape yang berminat stay tuned, aku up details nanti. Semestinya harga jekpot.