Sejarah non muslim lebih brutal. Kalau bicara kekerasan politiknya.
Sebelum kalian merasa tidak nyaman bahkan malu dengan sejarah peradaban Kekhalifahan Islam karena penuh drama pembunuhan politik, coba duduk sebentar dan buka mata lebih lebar. Karena sebenarnya dunia di luar sana jauh lebih brutal, jauh lebih berdarah, dan hampir tidak ada yang merasa perlu menulis buku minta maaf soal itu.
Yang membedakan kisah kelam sebuah peradaban Islam dan non Muslim bukan ada atau tidaknya noda dalam sejarahnya. Semua peradaban punya noda tanpa terkecuali. Yang membedakan adalah seberapa jujur sebuah peradaban berani menatap nodanya sendiri di cermin, menuliskannya, dan mewariskannya kepada generasi berikutnya bukan sebagai kebanggaan, tapi sebagai pelajaran.
Yang membedakan adalah kejujuran intelektualnya.
Di Roma, sejarawan yang terlalu kritis terhadap kaisar yang berkuasa bisa dibuang atau dieksekusi. Tacitus dan Suetonius baru berani menulis kritik pedas setelah kaisar yang mereka kritik sudah mati.
Di Tiongkok, sejarah resmi ditulis oleh komite yang ditunjuk negara. Sejarawan menulis sambil dikte oleh pejabatnya.
Di Eropa abad pertengahan, Gereja dan raja berkolaborasi mengontrol narasi selama berabad-abad.
Tapi Al-Thabari dalam Tarikh al-Umam wal Muluk menulis dengan detail tentang kekejaman Al-Hajjaj bin Yusuf, tentang manjaniq yang menghujani Ka'bah, meskipun semua itu dilakukan oleh penguasa Muslim.
Ibn Katsir dalam Al-Bidayah wan Nihayah tidak menyensor tragedi Karbala.
Adz-Dzahabi dalam Siyar A'lam an-Nubala mencatat karakter para khalifah dengan jujur termasuk yang buruk sekalipun.
Dan semua karya itu disalin, diwariskan, diajarkan, dan dipertahankan berabad-abad tanpa disensor.
Dalam hal kejujuran mendokumentasikan dosa-dosa kekuasaan, tradisi historiografi Islam klasik justru berada di garis terdepan peradaban manusia.
Mari saya tunjukkan sedikit saja kisah kebrutalan Peradaban non muslim, kita mulai dari yang paling sering dijadikan standar peradaban.
ROMA: KETIKA MEMBUNUH KAISAR ADALAH OLAHRAGA NASIONAL
Dari sekitar 69 kaisar Romawi antara era Augustus sampai runtuhnya Roma Barat pada 476 M, lebih dari separuhnya mati dibunuh. Bukan wafat di tempat tidur. Dibunuh oleh pengawal pribadi, oleh senator, oleh anak kandung, bahkan oleh istri. Kaisar Caligula dibunuh oleh komandan pengawalnya sendiri. Kaisar Domitian ditikam oleh pembantunya di kamar tidur. Kaisar Commodus dicekik oleh pelatih gulat pribadinya setelah rencana racun pertama gagal.
Probabilitas seorang kaisar Romawi mati terbunuh lebih tinggi dari probabilitas dia pensiun dengan tenang. Dan Roma sampai hari ini diajarkan di seluruh sekolah dunia sebagai puncak peradaban Barat dan fondasi demokrasi modern.
BIZANTIUM: INOVASI KEKEJAMAN YANG LEBIH KREATIF
Bizantium, penerus Roma Timur, mengembangkan metode yang mereka anggap lebih beradab dari sekadar membunuh. Mereka menyiram wajah lawan politik dengan cairan panas, membutakan mata dengan besi panas, memotong hidung dalam praktik yang disebut rhinotomy, atau mengebiri calon pewaris takhta. Logikanya: orang cacat fisik dianggap tidak sah memegang kekuasaan dalam tradisi Bizantium, jadi melumpuhkan lebih efisien dari membunuh.
Kaisar Justinian II bahkan dibuang ke pengasingan setelah hidungnya dipotong, lalu kembali merebut takhta dengan hidung palsu dari emas. Sejarah mencatatnya bukan sebagai monster, tapi sebagai bagian dari dinamika politik yang dianggap normal.
Menteri Kebudayaan RI: Jawab dengan Lengkap dan Jujur Pertanyaan SE2026
Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, mengajak seluruh pelaku usaha untuk mendukung Sensus Ekonomi 2026 dengan menerima dengan baik kedatangan petugas sensus dan memberikan jawaban yang lengkap dan jujur.
Tolong yang faham fiqih sholat untuk perempuan, bisa bantu komen terhadap pemandangan sholat berjamaah para muslimah calon manajer kopdes ini?
Saya gak akan komentari soal wajah dan telapak tangan.
Tapi apakah tidak disarankan memakai mukena mereka masing-masing karena bisa menutup lekuk bahu, panggul dan kaki?
Apa saking militeristiknya, sehingga sholatpun kudu pakek loreng ketimbang mukena?
Gw cuma mau bilang Sensus Ekonomi ini penting, dilakuin tiap 10 thn sekali
Harusnya pemerintah gencar sosialisasi di berbagai media
Prabowo bikin iklan <1 menit, bilang "ayo sukseskan sensus ekonomi agar blablabla"
kasian freelancer BPS suruh ngadepin distrust warga sendirian
@arieagung@trunkszoldyck ....dan kebijakan atau program Pemerintah akan menyasar atau mengambang krn ga tau siapa sI pria dan siapa si wanita itu akibat hasil sensus sesuai keinginan anda. Kegiatan yg anda inginkan bs dibuat hanya utk 1 tujuan/program, tp ga bs dilaksanakan kl utk banyak program.
Lewat di tl langsung bikin diem bentar. Merinding beneran denger doanya
“Jika bapak mengkhianati rakyat, maka saya orang pertama yang bersaksi di hadapan Allah SWT dan meminta melipat gandakan siksaan Bapak di Neraka”
UAH Kepada Prabowo.
Ngeri bgt, urusan amanah rakyat emang taruhannya langsung akhirat. Jangankan jd pemimpin, jd rakyat yg denger kalimat ini aja langsung deg-degan bgt 😭
@arieagung@trunkszoldyck Maksudnya identitas individu tidak perlu ditanyakan? Terus legalitas dari hasil kegiatan tersebut apa?
Koreksi dikit: bukan "survei", tapi "sensus".
Sensus Ekonomi: Ketika Negara Mengetuk Pintu dan Menanyakan Isi Kehidupan Kita
Hari-hari ini petugas sensus ekonomi datang ke rumah warga. Awalnya mengira hanya akan ditanya pekerjaan dan jumlah anggota keluarga. Ternyata salah.
Pertanyaannya bukan sekadar "kerja apa", melainkan masuk jauh ke dalam kehidupan sehari-hari.
Rumah milik sendiri atau tidak. Luas tanah berapa. Kalau dijual kira-kira laku berapa.
Punya motor berapa. Mobil berapa. AC berapa. Tabung LPG berapa.
Punya tanah di mana saja. Punya emas berapa gram. Nilainya berapa jika dijual hari ini.
Punya usaha apa. Omset berapa. Karyawan berapa. Gaji mereka berapa.
Listrik habis berapa. Internet bayar berapa. Belanja rumah tangga berapa.
Bahkan sampai urusan skincare istri, rokok suami, dan berbagai pengeluaran lain yang selama ini mungkin hanya diketahui penghuni rumah dan Tuhan.
Di satu sisi, saya memahami bahwa negara membutuhkan data. Tanpa data yang akurat, kebijakan hanya akan menjadi tebakan. Pemerintah perlu mengetahui kondisi riil masyarakat untuk menyusun program pembangunan, bantuan sosial, hingga strategi pertumbuhan ekonomi.
Namun di sisi lain, sensus semacam ini juga menunjukkan betapa rumitnya kehidupan modern. Kita hidup dalam era ketika hampir semua aktivitas ekonomi bisa diukur, dihitung, dan dikategorikan.
Rumah bukan lagi sekadar tempat tinggal, tetapi aset dengan nilai ekonomi.
Motor bukan lagi alat transportasi, melainkan indikator kesejahteraan.
Pengeluaran rumah tangga bukan lagi urusan pribadi semata, tetapi menjadi bagian dari statistik nasional.
Mungkin sebagian orang merasa tidak nyaman ketika ditanya terlalu detail. Ada yang khawatir soal privasi, ada yang merasa seperti sedang diperiksa, bahkan ada yang bercanda bahwa sensus ekonomi terasa seperti audit mendadak terhadap seluruh perjalanan hidup.
Padahal sesungguhnya yang sedang dilakukan negara adalah mencoba membaca wajah ekonomi rakyat dari dekat, bukan dari angka-angka di balik meja kantor.
Persoalannya, semakin lengkap data yang dikumpulkan, semakin besar pula tanggung jawab untuk menjaga kerahasiaannya. Kepercayaan masyarakat adalah modal utama. Sebab warga bersedia membuka informasi pribadi bukan karena terpaksa, melainkan karena percaya bahwa data tersebut digunakan untuk kepentingan publik dan tidak disalahgunakan.
Sensus ekonomi pada akhirnya bukan sekadar kegiatan mendata. Ia adalah cermin besar yang memantulkan kondisi masyarakat apa adanya. Dari rumah sederhana hingga rumah mewah, dari pedagang kecil hingga pengusaha besar, semuanya menjadi bagian dari potret ekonomi bangsa.
Dan setelah petugas pulang, mungkin banyak warga yang tersenyum sambil berpikir:
"Ternyata kehidupan kita bisa dirangkum menjadi puluhan pertanyaan. Dari luas tanah, jumlah tabung gas, sampai biaya rokok bulanan."
Sebuah pengingat bahwa di balik setiap angka statistik yang diumumkan pemerintah, ada cerita tentang kehidupan nyata jutaan rakyat Indonesia. (Awesome)