Aku mencintaimu, dengan segala patah yang telah kusiapkan.
Aku mencintaimu, dengan segala patuh, kepada harap Tuhan.
Sungguh, aku mencintaimu tidak dengan paksaan, “bahwa aku harus memilikimu”.
- Rumah Sufi
Hal-hal yang terlihat seperti cinta :
1. Sleepcall.
2. Fast respon.
3. Long text.
4. Kirim makan/minuman.
5. Obsesi.
6. Kado dan uang.
Hal-hal yang sebenarnya cinta itu :
1. Respect.
2. Support.
3. Kepercayaan.
4. Validasi.
5. Komitmen.
6. Memaafkan.
7. Toleransi.
8. Komunikasi.
Isyarat Sufi
Wahai pengembara jalan cinta, syair ini adalah kisah sebuah bunga yang rindu pulang kepada asalnya. Bunga itu adalah ruhmu. Ia tumbuh di taman dunia, meminum embun waktu, menari bersama angin peristiwa, lalu perlahan lupa bahwa ia bukan penghuni taman ini. Karena itulah Rumi mengirimkan angin sebagai pembawa pesan: "Kembalilah kepada kemanisan asalmu."
Bunga merasa dirinya bunga, padahal hakikatnya berasal dari gula. Ia mengagumi warna dan keharumannya sendiri, padahal sumber segala keindahan berada di tempat yang lebih dalam daripada warna dan aroma. Begitulah ruh manusia. Selama ia masih terpukau oleh bentuk dirinya, ia belum sampai kepada asalnya. Namun ketika ia melebur ke dalam samudra Sang Kekasih, bunga dan gula menjadi satu kemanisan yang tak dapat dipisahkan.
Rumi lalu mengajarkan rahasia perjalanan para pecinta: naiklah dari bumi menuju langit, dari maqam ke maqam, dari tabir ke tabir, hingga sampai kepada liqa’—perjumpaan. Akan tetapi, perjalanan itu bukanlah perjalanan kaki, melainkan perjalanan pelepasan. Sebab terdengar seruan dari alam rahasia:
"Lepaskan sayapmu, datanglah tanpa sayap."
Selama seorang salik masih terbang dengan sayap amalnya, ilmunya, kesalehannya, atau bahkan pengalaman ruhaninya, ia belum benar-benar sampai. Burung-burung dunia terbang dengan sayap, tetapi burung cinta terbang dengan ketidakberdayaan. Ketika semua sandaran runtuh, ketika tidak tersisa apa pun selain kebutuhan kepada Allah, saat itulah pintu kedekatan mulai terbuka.
Karena itu para arif tertawa kepada dunia. Bukan karena mereka membencinya, tetapi karena mereka telah melihat sesuatu yang lebih nyata daripada dunia. Mereka seperti seseorang yang telah menyaksikan lautan, lalu tidak lagi terpesona oleh genangan air. Mereka merobek pakaian-pakaian identitas yang menutupi ruhnya: pakaian nama, kedudukan, kebanggaan, dan segala yang disebut "aku". Sebab di hadapan Matahari Hakikat, semua pakaian itu hanyalah bayang-bayang yang sebentar lagi lenyap.
Kemudian Rumi menyingkap sebuah rahasia yang sangat halus. Ia berkata bahwa keberadaan manusia seperti besi, sedangkan kelembutan Tuhan seperti magnet. Besi tidak mengetahui mengapa ia bergerak; ia hanya merasakan tarikan yang tak mampu ditolaknya. Demikian pula hati para pecinta. Ada saat-saat ketika mereka merasa rindu tanpa mengetahui kepada siapa mereka rindu. Mereka menangis tanpa tahu apa yang hilang. Mereka mencari tanpa tahu apa yang dicari. Sesungguhnya itu adalah tarikan Sang Kekasih yang sedang memanggil mereka pulang.
Lalu besi itu ditempa. Dipukul dengan api, dibakar oleh ujian, dilebur oleh kerinduan. Bukan untuk menghancurkannya, melainkan agar ia berubah menjadi cermin. Sebab hati yang belum pecah oleh cinta belum mampu memantulkan cahaya. Setiap luka yang datang kepada para pecinta adalah pahatan Sang Pengukir pada cermin jiwa mereka.
Dan ketika perjalanan itu mencapai ujungnya, kata-kata pun menjadi tidak berdaya. Lidah berhenti, akal terdiam, dan hanya hati yang masih berbicara. Di sanalah Rumi berpaling kepada Syams, matahari ruhani yang membangkitkan seluruh keberadaannya. Sebab cahaya sejati tidak lahir dari huruf, suara, warna, atau rupa. Ia lahir dari perjumpaan.
Maka seluruh ghazal ini sesungguhnya adalah undangan untuk pulang. Pulang dari bunga menuju gula. Pulang dari bentuk menuju makna. Pulang dari diri menuju Dia.
Dan ketika perjalanan itu sempurna, sang pejalan akan menyadari bahwa sejak awal ia tidak pernah berjalan sendiri. Angin yang membimbingnya, kerinduan yang membakarnya, air mata yang mengalir dari matanya, bahkan jalan yang ia tempuh—semuanya adalah Sang Kekasih yang sedang menuntunnya kembali kepada Sang Kekasih.
Berhenti merokok itu depends niat.
Kalo niat berhentinya lebih besar daripada keinginan merokoknya, ya akan brenti sendiri.
Alasan terkuatku brenti: karena anak.
Soal tattoo kan susah diilangin, proses lama kata sejawatku spDVE. Setidaknya kalo tattoo susah ilang total, yg kebiasaan rokok stop total.
Alhamdulillah sudah berhenti tahun ke 4.
Ga ada peralihan apapun.
Langsung brenti.
Skrng karena kebiasaan olahraga, 2 anakku juga jadi ikutan suka olahraga.
Untung aja dah brenti udud wkwkwwk
Aku ga mau berdebat ama yg ga mau brenti merokok, sesuka mereka.
Yg jelas semangat buat kalian yg lagi berjuang mengurangi/stop kebiasaan rokokan.
"Dudukkanlah dirimu bersama kehidupan duniawi, sedangkan qalbu-mu bersama kehidupan akhirat, dan rasamu bersama rabbmu."
Syekh Abdul Qadir Al-Jaelani
@dawuhguru