@karirfess Seperti pesan Ali bin Abi Thalib, keponakan, sahabat, sekaligus menantu Rasulullah SAW. "Didiklah anak sesuai jamannya, karena mereka hidup di jamannya, bukan pada jamanmu". Kalimat simpel tapi masih sulit diterapkan dalam kehidupan keluarga sampai hari ini.
Saya ada cerita seorang bapak.
Dia kerja 20 tahun buat biayain anaknya kuliah S1.
Lembur.
Utang.
Sampai jual tanah warisan.
Anaknya lulus. IPK bagus.
Wisuda lengkap dengan toga.
Sekarang anaknya kerja serabutan. Gaji di bawah UMR.
Dan si bapak masih senyum bilang,
"Mungkin belum rezekinya."
Yang bikin saya merenung bukan cerita anaknya.
Tapi cerita si bapak.
Dia lahir tahun 70-an.
Gak tamat SMA pun bisa buka toko,
punya rumah,
besarin anak dengan layak.
Logikanya simpel dan masuk akal:
"Dulu gw gak sekolah tinggi aja bisa. Kalau anak gw kuliah,
hidupnya pasti jauh lebih baik dari bapaknya."
Logika itu benar. Di zamannya.
Masalahnya bukan orang tua yang salah didik.
Bukan juga anaknya yang kurang usaha.
Tapi janji yang mereka pegang sudah kedaluwarsa.
Ijazah dulu adalah tiket.
Sekarang ijazah adalah syarat minimum.
Yang bahkan kadang pun masih belum cukup.
Dua hal yang kelihatannya sama, tapi sebetulnya beda jauh.
Bayangin ya.
Tahun 1995,
fresh graduate langsung diperebutkan perusahaan.
Sekarang,
lowongan entry level minta pengalaman 2 tahun,
skill digital, bisa multitasking, dan siap ditempatkan di mana saja.
Gajinya?
UMR aja belum tentu.
Hampir sama kalau dikonversi ke harga waktu itu.
Tapi harga rumah, kontrakan, dan beras sudah tidak ikut berdiam di angka yang sama.
Generasi 90-an pasti hafal nasihat ini:
"Rajin sekolah, biar dapat kerja bagus."
"Kuliah dulu, baru enak hidupnya."
"Investasi terbaik itu pendidikan."
Nasihat itu bukan bohong.
Di zamannya, itu benar dan terbukti.
Tapi zamannya sudah ganti.
Nasihatnya tidak ikut ganti.
Dan anak-anak kita tumbuh sambil pegang peta zaman dulu
yang sudah tidak cocok sama jalanan yang mereka hadapi sekarang.
Saya pernah ngobrol panjang sama seorang teman.
Dia cerita,
"Bokap gw sampai jual motor buat bayar UKT semester terakhir gw."
Saya tanya, "Sekarang kerjanya apa?"
"Freelance desain. Kadang ada job, kadang enggak."
"Bokap lu tau?"
"Tau. Dia bilang sabar, rezeki ada aja. Tapi gw liat matanya... dia bingung."
Si bapak bingung bukan karena anaknya gagal.
Tapi karena cara yang dulu berhasil sekarang tidak lagi bekerja.
Dan dia tidak punya peta baru untuk dikasih ke anaknya.
Kalau anakmu masih sekolah atau mau kuliah,
jangan cuma pikirin jurusannya.
Tapi ajarin juga:
1. Ajarin dia cara kerja uang sejak kecil.
2. Bekali satu skill konkret yang bisa langsung menghasilkan.
Sebelum dia lulus dan bingung mau mulai dari mana.
3. Kasih ruang buat gagal kecil sekarang.
Biar dia gak gagal besar pertama kali justru di dunia nyata.
4. Jangan cuma bekali ijazah. Bekali juga kemampuan bertahan.
Bukan berarti kuliah tidak penting. Tapi kuliah saja sudah tidak cukup.
Soalnya begini.
Orang tua yang paling menyiapkan anaknya bukan yang paling banyak bayar biaya kuliah.
Tapi yang paling jujur bisa ngomong ke anaknya:
"Dunia yang kamu masuki berbeda dari dunia yang Ayah dan Ibu kenal.
Kita harus cari tau bareng-bareng."
Kejujuran itu lebih berharga dari SPP mana pun.
Dan seperti biasa, selalu ada dua kubu.
Kubu pertama bilang,
"Orang tua salah. Harusnya ajarin skill, bukan kejar gelar."
Kubu kedua bilang,
"Orang tua sudah benar. Anaknya yang kurang mau usaha."
Tapi ada kemungkinan ketiga yang jarang ada yang mau nyebut:
Dua-duanya sudah berusaha sebaik yang mereka bisa dengan informasi yang mereka punya.
Tapi sistemnya yang tidak pernah jujur ke keduanya.
Generasi kita mungkin adalah generasi pertama yang hidupnya lebih susah dari orang tuanya.
Bukan karena malas. Bukan karena manja.
Tapi karena peta yang diajarkan ternyata sudah tidak relevan saat mereka datang.
Dan orang tua mereka masih dengan tulus menunjuk ke peta yang didapat dulu.
Malaikat bertanya,
Ya Allah apa aku harus mencatat ibadah hambamu ini?
Sedangkan ia beribadah tapi hati dan pikirannya tidak.
Lalu ia hanya mengingatMu dikala sedih, setelah bahagia engkau kembali.
Allah menjawab,
Tidakkah engkau melihat wahai malaikat, hambaku ini tidak
#ODOP#onedayoneprophet
Kita sering salah paham soal satu hal:
Nabi Ya'qub as. punya anak favorit.
Dan itu bukan dosa parenting.
Itu justru pelajaran parenting terbaik
yang pernah ada.
———
Yusuf as. jelas lebih dicintai
dibanding saudara-saudaranya.
Saudara-saudaranya pun tahu itu.
Bahkan mereka cemburu karenanya.
Tapi perhatikan apa yang dilakukan
Nabi Ya'qub as.:
Ketika Yusuf as. menceritakan mimpinya,
Tentang semesta yang sujud kepadanya,
Nabi Ya'qub as. tidak memujanya
di depan saudara-saudaranya.
Ia justru berbisik:
"Jangan ceritakan ini kepada mereka."
(QS. Yusuf: 5)
Ia tahu anaknya istimewa.
Tapi ia juga tahu
cara salah memperlihatkan itu
bisa menghancurkan segalanya.
———
Lalu Yusuf as. hilang.
Kakak-kakaknya pulang
dengan baju berlumuran darah palsu.
Apa reaksi Nabi Ya'qub as.?
Tidak memukul. Tidak berteriak.
Tidak mengusir.
Ia hanya berkata:
"Kesabaran yang baik itulah kesabaranku."
(QS. Yusuf: 18)
Dan ia menangis.
Sampai matanya memutih.
(QS. Yusuf: 84)
Ia tidak menyembunyikan dukanya.
Tapi ia juga tidak menghukum
anak-anaknya dalam keadaan marah.
———
Ini yang jarang dibahas:
Setelah semua itu,
Nabi Ya'qub as. tetap mendoakan
anak-anak yang menyakitinya.
"Aku akan memohonkan ampun bagimu
kepada Tuhanku."
(QS. Yusuf: 98)
Bukan kutukan.
Bukan "dasar anak durhaka."
Doa.
———
Dan di akhir hidupnya,
satu hal yang ia pastikan:
Ia tanya anak-anaknya,
"Apa yang kalian sembah sepeninggalku?"
Bukan hartanya.
Bukan warisannya.
Bukan bisnis keluarganya.
Tauhid.
Itu satu-satunya yang ia wariskan
di detik-detik terakhirnya.
(QS. Al-Baqarah: 132-133)
———
Pertanyaannya:
Kebanyakan orang tua hari ini
lebih fokus mewariskan apa?
Harta, nama keluarga, atau aqidah?
Bagaimana menurut kamu parenting nabi Ya'qub as.?
pada akhirnya, bukan lagi
"if he want, he would"
tapi "if Allah has written it for you, it will find its way to you, at the right time, in the right way"
inget, apa yang emang buat kamu, pasti akan jadi milikmu, dan gaakan jadi milik orang lain.