Tanggal 25. Gajian cair. Bapak buka mobile banking. Transfer 15 juta bulat-bulat ke rekening istri.
"Udah masuk ya Ma. Semua gaji bulan ini. Atur aja."
Bapak taruh HP di meja. Senyum bangga. Rebahan di sofa. Nonton TV. Merasa sudah jadi laki-laki paling bertanggung jawab se-RT.
Merasa bulan ini tugasnya SELESAI.
Fast forward tanggal 20 bulan depan. Istri bilang uang menipis. Bapak naik darah:
"Kok boros banget sih?! 15 juta! Kamu belanjain apa aja?!"
Seorang ahli saraf ngabisin waktu 20 tahun buat ngebuktiin kalau nulis pakai tangan ternyata bisa ngubah cara kerja otak dengan cara yang nggak bakal bisa ditiru sama ngetik.
Tapi lucunya, hampir nggak ada yang pernah baca hasil penelitiannya.
Ini yang dia temuin:
Fun fact, sekolah² di negara maju eropa sudah mulai meninggalkan digitalisasi, balik ke tulis menulis manual. Penggunaan gadget/tab di sekolah dikurangi.
Guys, Raymond Chin baru cerita soal sesuatu yang gue sendiri nggak nyangka.
Ada brand ayam goreng yang ngalahin KFC 30 kali lipat dari jumlah ayam yang terjual per outlet.
Dan lo mungkin belum pernah dengar namanya kecuali lo pernah umrah atau haji.
Albaik.
Ceritanya dimulai dari 1974 dan dari orang yang paling nggak lo kira.
Syakur Abu Ghazalah.
Imigran Palestina yang kabur dari kampung halamannya di 1948 waktu umur 20 tahun.
Kerja 15 tahun di Aramco perusahaan minyak.
Nggak ada background masak
nggak ada background FnB.
Umur 46 all in.
Buka restoran ayam goreng kecil di pinggir jalan dekat bandara Jeddah.
Namanya masih Bruce Restoran waktu itu.
Pakai teknologi broasted pressure cooker yang mesinnya harus diimpor dari Prancis.
Dua tahun pertama susah banget.
Orang Saudi belum kebiasa makan ayam goreng tepung.
Tapi pelan-pelan mulai jalan.
Lalu Syakur meninggal.
1976.
Kanker.
Di usia yang paling produktif.
Ninggalin utang hampir 2 juta dolar.
Lisensi dagangnya hampir dicabut.
Dan dua anaknya Ihsan sama Rami masih mahasiswa di Paris.
Umur 22 dan 20 tahun.
Dua pilihan.
Mereka pilih yang susah.
Tutup, bayar utang, balik ke Paris atau nerusin bisnis yang mereka nggak ngerti sama sekali.
Mereka pilih nerusin.
Dan ini yang jadi kunci segalanya keduanya bukan chef.
Mereka insinyur teknik sipil.
Ngertinya struktur jembatan, aliran pipa, perhitungan beton.
Tapi justru itu yang bikin Albaik berbeda dari semua restoran FnB lain.
Mereka nggak masak dengan mindset seni kuliner. Mereka masak dengan mindset engineer.
Selama 3 tahun nggak ekspansi sama sekali malah sekolah lagi ke Paris belajar food technology. Eksperimen ribuan kombinasi rempah sampai ketemu formula yang bisa direplikasi oleh mesin bukan tangan manusia.
Hasilnya?
Albaik punya 18 rempah.
KFC 11.
Dan bumbunya disuntikkan ke daging lewat vakum tumbling teknologi, bukan masak manual.
Lalu mereka melakukan sesuatu yang bertentangan dengan semua logika bisnis.
Bisnis lagi viral, antrian panjang tiap hari, margin bagus semua konsultan bisnis pasti bilang: ekspansi sekarang, franchise ke mana-mana.
Albaik nolak.
Selama lebih dari 30 tahun mereka cuma ada di tiga kota.
Jeddah, Makkah, Madinah.
Nolak buka di Riyadh ibu kota Saudi sendiri.
Nolak tawaran franchise dari Dubai, Qatar, Kuwait.
Nolak tawaran puluhan juta dolar cash.
Alasannya? Mereka lebih takut kehilangan kualitas daripada kehilangan profit.
Mereka sadar kalau ekspansi terlalu jauh dari pabrik pusat di Jeddah, supply chain mereka nggak akan kuat. Kualitas turun. Dan itu lebih berbahaya dari kehilangan market.
Efek samping yang nggak disengaja?
Scarcity.
Ayam Albaik jadi oleh-oleh wajib.
Orang Riyadh yang ke Jeddah pasti bawa pulang Albaik.
Orang yang umrah cerita ke keluarga di seluruh dunia.
Marketing gratis tanpa keluar budget satu rupiah pun.
1998 titik balik yang mengubah segalanya.
Pemerintah Arab Saudi punya masalah besar musim haji.
2 sampai 3 juta manusia berkumpul di Mina dalam waktu bersamaan.
Panas 40 derajat.
Dan semuanya butuh makan.
Tiap tahun selalu ada masalah makanan telat, makanan basi, jemaah keracunan.
Kerajaan menelepon Albaik "Kalian bisa beresin masalah ini? Waktunya 6 bulan."
Dan dua insinyur ini membangun sesuatu yang belum pernah ada Kitchen Factory.
Fasilitas produksi makanan untuk event musiman terbesar di dunia.
Sistemnya:
800 sampai 1.000 transaksi per menit
Ratusan truk pendingin dengan pergerakan dikontrol per detik
Suhu minyak, durasi masak semua dikontrol komputer
Zero error inventory jutaan porsi tracked dari gudang beku ke tangan jemaah
Hasilnya? Sukses total. Satu outlet buka 5 hari setahun melayani jutaan porsi ayam.
Dan jemaah dari 180 negara pulang ke kampung halaman masing-masing membawa cerita yang sama — "Di Arab ada ayam yang luar biasa enak, murah, dan antrinya gila."
Dan ini yang bikin modelnya benar-benar berbeda.
Satu cabang Albaik menghasilkan volume yang setara 20 sampai 30 cabang KFC.
Mereka main volume game — bukan outlet game. Harga tetap di 10 riyal bahkan ketika KFC dan McDonald's naikkan harga. Bisa karena mereka kontrol seluruh supply chain sendiri — dari peternakan, pabrik bumbu, armada logistik, sampai outlet.
Vertical integration penuh. Margin mereka terjaga karena nggak ada middleman.
Dan setiap mil yang terjual 1 riyal didonasikan.
Pelajaran yang Raymond highlight:
Banyak bisnis FnB di Indonesia pengin kayak Albaik viral, scale up, ramai antrian.
Tapi begitu benar-benar terjadi mereka collapse.
Karena sistemnya nggak siap.
Dari 1 toko ke 10 toko stok ayam, bumbu, minyak, semua harus presisi. Salah hitung HPP 500 perak dikali ribuan porsi rugi jutaan tanpa sistem yang benar.
Albaik sukses bukan karena ayamnya viral. Tapi karena dua insinyur yang mikir bisnis FnB seperti merancang kilang minyak.
Dan sekarang baru 2020 mereka mulai ekspansi internasional. Bahrain, Dubai, Qatar saat World Cup 2022.
Indonesia? Belum ada rencana.
Tapi kalau pernah umrah atau haji dan pernah antri panas-panas demi semangkuk ayam goreng itu lo udah ngerti kenapa.
RAINWATER HARVESTING: Every Drop That Falls Is a Drop Worth Saving
The detailed illustration above reveals one of the most intelligent and sustainable water management systems a homeowner or farmer can ever install a rainwater harvesting and filtration system. It is a powerful reminder that the rain falling freely on your rooftop every season is not waste water running into the drain. It is a precious resource waiting to be captured, cleaned, and used.
The Problem We Have Been Ignoring
For generations, rainwater has fallen on our rooftops, run off into gutters, flooded our compounds, and disappeared into the ground or drainage systems completely wasted. Meanwhile, the same households and farms that let this water escape are spending money on boreholes, water bills, and irrigation pumps. This contradiction must end. Rain is not a problem to be drained away. Rain is a solution to be harvested and stored.
How the System Works
The image explains the process with beautiful clarity. Rainwater falls on the rooftop and is collected through gutters and downpipes into a first-stage filtration unit the green cylindrical filter filled with layers of gravel, sand, and filtering media. This initial filter removes leaves, debris, dust, and surface contaminants from the roof. Dirty water and debris are safely discharged downward into a soak pit underground, while the cleaned water flows forward into a second filtration stage for further purification. The final product beautifully clear, clean rainwater flows into a large underground storage tank where it is safely held for use. An overflow pipe manages excess water during heavy rainfall, and a hand pump mounted above the tank provides easy access to the stored water whenever needed.
Why Every Home and Farm Needs This
Rainwater harvesting reduces dependence on expensive municipal water supply and protects against drought seasons when rivers, boreholes, and wells run dry. For farmers, having a reliable personal water reserve means irrigation continues even during dry spells, protecting crops and livestock from water stress. For households, it means clean water for cooking, cleaning, and gardening without monthly water bills.
The Environmental Benefit
Harvesting rainwater also reduces surface runoff, which is a leading cause of soil erosion, flooding, and loss of valuable topsoil on farms. By capturing rain where it falls, we protect our land and recharge underground water tables naturally.
The Investment Makes Complete Sense
Building a rainwater harvesting system requires a one-time investment in gutters, filtration materials, piping, and a storage tank. The returns years of free, clean water far outweigh the initial cost.
Rain is not a seasonal visitor to be ignored. It is nature's gift, delivered freely to your rooftop.
Build your system. Capture every drop. Because rainwater is no longer waste it is wealth.
Btw, teknik dinding ini bukan dinding bata rangkap namanya tapi dinding bata berongga.
Sepengetahuan saya untuk dinding bata berongga memang kurang populer pengaplikasiannya pun di zaman kolonial. Kita lebih banyak menggunakan metode dinding 1 bata (rangkap) untuk perumahan kolonial karena bata tersebut selain adalah partisi juga dianggap sebagai struktur masa pada sebuah bangunan.
Lalu sejarahnya mengapa teknik bata rangkap jarang diadopsi masa kini, selain biaya pekerjaan akan bertambah 2 kali lipat serta semenjak mulai maraknya penggunaan beton bertulang turut melepaskan kewajiban dinding sebagai load-bearing.
Lalu muncul lagi masa-masa perumahan nasional zaman orde baru sekitar tahun 70an yg juga berkontribusi terhadap memudarnya teknik pertukangan lampau karena beberapa hal, diantaranya adalah....
@neephophile Aku pernah ada di posisi ini, dan aku bilang ke Allah, jika memang bukan jodohku, maka jangan tinggalkan rasa sakit sedikit pun, biarkan hatiku lapang
Hampir semua orang Indonesia udah pakai AI.
Tapi cara pakainya masih salah.
Kebanyakan cuma ngetik "buatkan artikel tentang AI" terus terima jawaban apa adanya.
Padahal ada 5 level cara pakai AI.
Dan 75% orang Indonesia masih di level paling bawah.
Sini gue tunjukin bedanya....
@bunnybluum Bisa semua 😏, kata college kantor yang laki jadi cewe jgn terlalu mandiri lelaki pada takut, lah gimana ngak mandiri ngak ada yg bantuin weee 😂