Siapa belum ngantuk? Gila, ini ada konten keren banget dari Fristian Griec Media. Ngupas problematika dan masa depan kopdes dengan bahasa yang mudah dipahami oleh awam.
Are we truly ready for what we're about to face?
Sebuah uraian yg menarik oleh pak Gita Wirjawan.
Di tiongkok ada orang IQ 140 jago fisika murni tapi nggak bisa ngomong.
Yang kedua IQnya 78,49 jago joget di tiktok.
Di Tiongkok yang pasti terpilih untuk posisi kepemimpinan adalah yg pertama, nggak ada kesempatan buat yang kedua.
Tapi sayangnya demokrasi sekarang lebih tergugah oleh hal-hal yg sensasional dan festival. Sehingga orang yang jago joget dengan IQ 78 bisa terpilih
Let's him cook Mr Gita Wirjawan
The headline, the photo, the situation.
Sekalinya shot, Kompas ngalahin Tempo karena langsung bikin Prabowo naik pitam.
Padahal ilustrasi cover majalah Tempo selalu konsisten nampolnya.
Romo Magnis hendak cerita kepada kami,
sembari ditemani air putih.
Silakan Romo kita ngobrolnya sembari makan siang, saya menawari beliau nasi kuning dan snack
"Sudah lama saya tidak makan siang", ujarnya.
Bagaimana kabarnya Romo? salah satu teman ngobrol bertanya.
"Ya puji syukur saya masih hidup"
Hahaha, tentu saja kami tertawa.
Lalu beliau bercerita. Siang itu romo mengnakan batik sederhana, lengan pendek. Arloji di tangan kirinya, dan tongkat yang diletakkan dekat dirinya.
"Falsafah Jawa itu mengutamakan keselarasan".
Bagaimana itu maksudnya Romo?
"Dalam pewayangan, misalnya ada kaum ksatria yang baik budi, seperti Pendowo. Juga ada kaum Kurowo yang dikisahkan memiliki sifat jahat. Dalam kisah lain ada juga kaum Raksasa. Rahwana itu buruk, tapi Kumbokarno yang selalu tidur, raksasa ini malah membela kebenaran. Padahal dia adik Rahwana."
Romo dengan perlahan, suaranya pelan, bicara soal pewayangan. Kami menyimak dengan seksama.
"Jangan lupakan dalam pewayangan Jawa, ada tokoh penting yang bukan dari kalangan ksatria maupun raksasa, atau dewa dewa. tokoh ini adalah wujud dari rakyat jelata. Namanya Punakawan."
Kami terus menyimak. Romo lebih senang jika yang bertanya ada di sisi kiri beliau. Telinganya masih mendengar dengan baik dibantu alat. Untuk telinga kanan, katanya sudah sama sekali tak mendengar.
"Jangan pakai loud speaker, saya justru sulit mencerna"
Kami pun akhirnya menggunakan lisan ala kadarnya yang volumenya kami besarkan, tanpa pelantang suara, ketika bertanya atau menanggapi beliau.
"Saya sedih. Dulu saya diberi wejangan oleh senior saya di Jesuit: tugas kamu sebagai pastor adalah: dengar, dengar, dan dengar jemaat kamu. Sekarang saya malah sulit dengar. Lebih mudah bicara, bicara, dan bicara."
Kembali ke soal punakawan, Romo meneruskan:
"Punakawan pun demikian, ada sisi gelap dan terang. Wujud rakyat yang lucu, kadang bicaranya ngelantur, tapi jujur. Gareng, Petruk, dan terutama Semar. Di sisi gelap ada togog, misalnya."
"Nah hebatnya punakawan adalah, para ksatria menganggap punakawan itu penting, Mereka selalu didengar keluh kesahnya, lontaran omongannya. bahkan Semar dianggap bagian dari Punakawan yang bisa memberikan nasehat kepada para Ksatria".
Kami angguk-angguk mendengar cerita beliau,
"Saya ingat, kalau tidak salah tahun 1997, saya diajak Aristides Katoppo, dari Sinar Harapan, menjenguk sahabat kami Pak Boediarto. Rumahnya hanya beberapa meter dari candi Borobudur. Saya berangkat ke Adisucipto, lalu naik taksi ke Magelang.
Malam itu ada acara ruwatan. Pak Boedi sakit keras dan kami berkumpul untuk menyaksikan acara ruwatan sekaligus pertunjukkan wayang dengan lakon Semar Kuning".
Lanjutnya,
"Saya kaget ternyata disana berkumpul lebih dari 30 tokoh yang berseberangan dengan Soeharto. Saya kenal betul sosok-sosok ini. Semuanya kok kumpul disini? Pak Boedi sendiri sakit dan terbaring di kamarnya. Saya hadir untuk menjenguk, ruwatan, melihat lakon Semar Kuning, dan tentu saja berkesempatan saling ngobrol membicarakan banyak hal, termasuk kondisi negara ini."
"Nah ini ada hal menarik..."
Kami pun terus mendengarkan beliau yang suaranya makin sayup sayup.
"Beberapa bulan kemudian, saya diberi tahu oleh Aristides. Tau tidak beberapa bulan lalu kita diundang ke Rumah Boedi? katanya. Ya tentu saja, kan bersama kamu, saya jawab. Tahu, siapa yang membiayai?
Untuk itu saya tidak tahu sama sekali
Lalu Aristides beritahu saya: Itu semua, kita kumpul di rumah Pak Boedi, kita makan malam, ada ruwatan, pertunjukkan wayang, semuanya dibiayai oleh Pak Harto..."
Wah tentu saja saya kaget. Bagaimana mungkin kami yang sering berseberangan dengan Pak Harto, lebih banyak mengkritik dia, apalagi kumpul semua yang oposisi ini, malah dibiayai.
itulah kompleknya manusia Jawa"
Saya yang takzim mendengarkan tentu saja ikut kaget.
Saya lalu bertanya, bagaimana dengan Prabowo Romo?
Singkat, padat dan jelas dijawab beliau.
"Dia sama dengan yang dialami saya"
Apa Romo?
"Sulit mendengar.."
@KapudS640 Dokter hewan ga hanya perkara hewan peliharaan sakit lalu diobatin.
Ada andilnya juga di Keamanan pangan dan kesehatan masyarakat.
Setiap produk makanan yang asalnya dari hewan, selalu ada dokter hewan yang mengawasi supaya tidak berdampak terhadap kesehatan manusia.
Presiden ke-5 Republik Indonesia sekaligus Ketua Umum PDI Perjuangan, Yang Mulia Ibu Megawati Soekarnoputri, menyampaikan ucapan belasungkawa atas wafatnya Ayatollah Seyed Ali Khamenei kepada Pemerintah Republik Islam Iran melalui Kedutaan Besar Iran di Jakarta. Pesan tersebut disiarkan oleh Chanel One Televisi Iran dengan subtitle bahasa Persia.