Sepenggal kisah dari sebuah perjalanan rumah tangga, keluarga kecil yg harmonis dari awal pernikahan sampai hadir 2 buah hati yg dinanti yg lengkap. 9th pernikahan bukan hal mudah untuk dilewati, susah dan senangnya hadir ditengah ujian dunia yg pasang surut.
Ak bekerja dari pagi sampe magrib tiap hari, hanya untuk membiayai kebutuhan keluarga. Hanya supaya anak" ak tetap bisa makan, jajan, dan yg lainnya. Bahkan untuk makan dan rokok sj suami minta uang istri. Yg konyol nya lagi,minta saldo cm buat main ju*di meski pun 20rb/ 50rb.
Dari situ ak mulai merasa , mungkinkah rejeki suami ku jdi susah kerana akibat perbuatan tsb. Mungkin Tuhan mulai ngasih kode bawa dia sudah tersesat. Akhirnya yg jadi korban adalah aku dan anak". Sampai" semua kewajiban suami hRus ak yg tutupin. Dr kebutuhan keluarga ak yg atasi
Dia mulai mengenal yg nama nya j*dol, katanya awalnya iseng. Ikut" temennya, namun semakin kesini makin menjadi jadi, ak tegur sekali nurut, namun sering main sembunyi",
Uang yg harusnya dipake buat istri dia pake buat judi. Bahkan sempat ak pun mungkin dikasih dri hasil jud*.
Semua berawal sejak 1th kebelakang, suamiku yg dari awal ak kenal seorang laki" yg baik, bertanggungjawab, suami yg siaga, sayang istri dan keluarga. Tiba" berubah drastis seperti bukan suami yg ak kenal. Yg tadinya ga pernah marah jdi pemarah, jadi lebih cuek, ga peduli kluarga.
Apa ini adalah ujian terberatku dalam rumah tangga. Apa ini bagian dari ujian Tuhan yg harus ak lewati. Demi anak ak tetap fight bekerja, meski ak ga makan, asal anak"ku bisa makan, jajan dan beli susu. Mesik ak sampe sakit sampe aslam naik pun ga aku rasa. Anak" yg terpenting.
Mungkin di titik ini ak mulai menyerah, anak" yg lucu, cantik dan ganteng, yg tak pernah merasa kekurangan apapun sejak kecil, skg sudah mengerti jika ayah dan ibu nya adu argument. Meski jarang protes tpi mereka seperti tau bahwa org tuanya sedang tidak baik baik saja.
Namun itu tak lagi sama, hari ini ak sebagai wanita, sebagai seorang istri dan seorang ibu mulai merasa berada dipuncak kesabaran yg tak lagi bisa ku tahan. Yg aku ingat hanya anak, ak bertahan dalam bahtera rumah tangga hanya demi anak anak. Air mata seakan habis tak keluar.