dino patti djalal ini bukan orang sembarangan. beliau mantan dubes ri untuk as, mantan wamenlu, dan anak dari diplomat legendaris hasyim djalal.
jadi kalau dino ngomong soal adanya 17 calon dubes asing yang masih nunggu serah surat kepercayaan ke presiden, itu bukan gosip. itu fakta dari daleman.
bayangin, ada yang udah nunggu 8 bulan. ada juga dubes dari negara asean yang nunggu 6 bulan. mereka udah di jakarta, tapi belum bisa mulai kerja. karena mentok di meja istana.
sementara dubes indonesia di luar negeri selalu cepat diterima. ini double standard yang mulai dibaca mitra internasional.
seorang diplomat senior sekelas dino sampai buka suara ke publik, artinya kondisi ini sudah parah. beliau bahkan sudah coba semua jalur komunikasi. macet.
ini bukan cuma masalah protokol. ini masalah reputasi. indonesia sedang dikirim sinyal: "kita gak serius sama hubungan bilateral."
lucunya, presiden dan seskab sibuk klarifikasi soal biaya perjalanan dinas yang katanya ditanggung pribadi. tapi urusan sepenting ini malah diem.
ngapain keliling dunia cari investasi, kalau dubes negara sahabat aja bertahun-tahun gak diterima?
Mau dikatain Anak Abah, anaknya lulusan UI. Dikatain Anak Ganjar, anaknya lulusan UGM. Kampus top semua.
Atau gak dikatain mirip junjunganmu. Dimiripin Pa Ganjar, hobinya marathon. Dimiripin Pa Anies, hobinya baca buku. Hobinya bagus semua.
Padahal diskusinya bkn soal tataran siapa nama pemimpinnya, tp apa kebijakannya.
Kalau emang semua kebijakannya top global terbaik dan ekonomi sehat alam terjaga, mau sinchan yang jadi pemimpin jg w gamasalah.
Sedikit advice untuk tim kabinet dan pejabat:
Tolong jika lain kali ketika ada video kritik yg viral, jangan buru2 direspons.
Bedah per menit, respons dengan data.
Hindari bahasan personal.
Menggeser kritikan ke arah personal, itu menghilangkan inti dari video balasan.
Tulisan Anies pagi ini
Dikeluarkan setelah Seskab ngasih pernyataan soal kritik dari Dino tadi malam.
Seskab ngehighlight rombongan era Dino dan jabatan Wamenlu Dino yang hanya 3 bulan.
Ini jelas menurut gw pesan ke Seskab sebagai pejabat publik untuk berhati-hati dalam berbicara.
Dan fokus ke substansi.
Tidak perlu nunjuk2 karir orang.
"Dino Patti Djalal, bukan karbitan jadi diplomat, bukan pula karbitan jadi pejabat."
Tampak sekali, ada yang disindir dari pernyataan ini.
Terlepas ini AI apa enggak, memang hrusnya seperti itu harusnya politik yg sehat. Fight kalo lagi masa pemilu, tapi kalo ketemu pasca pemilu kayak ga terjadi apa-apa. Jangan kayak seseorang yg pas dibilang 11/100, tapi tantrumnya bertahun-tahun.
ini pidatonya bagus banget serius. mimin coba bantu rangkumin isi pidato yang 11 menit yg isinya daging semua ini
>Anies buka pidatonya dengan nostalgia kecil. Dia cerita UGM jadi tempat emosional buat dia karena area GSP dulu lapangan bola tempat dia main waktu kecil. buat dia hadir di wisuda UGM bukan cuma acara formalitas aja tapi semacam pulang ke tempat yg punya banyak memori.
>Lanjut dia, wisuda memang jadi hari yg luar biasa untuk banyak org, tapi besoknya semua bakal balik ke realita. menurut dia ujian hidup yg sebenarnya bukan terjadi di momen spesial kayak wisuda tapi justru di hari-hari normal yg dijalanin terus-menerus.
Guys, DPR baru saja mengusulkan sesuatu yang menurut gue paling sempurna menggambarkan betapa jauhnya jarak antara para wakil rakyat dengan kenyataan rakyat yang mereka wakili.
Di tengah rupiah Rp17.700.
Di tengah badai PHK yang mengintai.
Di tengah guru honorer yang digaji Rp1,5 juta per bulan.
Di tengah anggaran pendidikan
yang dipotong 44% untuk MBG.
Anggota DPR dari Fraksi Gerindra mengusulkan:
Alokasi APBN 2027 untuk membangun 1.000 layar bioskop di desa.
Gue perlu berhenti sejenak dan baca ulang itu:
Seribu Layar Bioskop Di desa.
Dari APBN.
Dari uang pajak rakyat.
Di 2027.
Dan ini yang paling menggelikan:
Alasannya mulia.
Untuk mendukung rumah produksi kecil di daerah.
Untuk menampilkan potensi dan budaya lokal.
Untuk memberi akses sinema kepada rakyat desa.
Tapi ada satu pertanyaan yang tidak pernah dijawab dalam rapat itu:
Rakyat desa yang gajinya di bawah UMR dengan harga bahan pokok yang terus naik mau beli tiket bioskop pakai uang apa?
Dan ini datanya yang harus dihadapkan langsung:
88% kepala rumah tangga Indonesia tidak punya pendidikan S1.
IQ rata-rata Indonesia 78,9 hampir juru kunci dunia.
Skor PISA Indonesia peringkat 69 dari 81 negara.
50% pegawai Indonesia pernah mengalami stunting waktu kecil yang artinya perkembangan otak mereka terganggu sejak masa paling kritis.
Guru honorer yang seharusnya menjadi satu-satunya harapan untuk memutus rantai kebodohan struktural ini — digaji Rp1,5-2,8 juta per bulan.
Di bawah UMP. Di bawah standar hidup layak.
Dan anggaran pendidikan yang seharusnya mengurus semua ini dipotong 44% untuk program makan siang.
Tapi DPR punya solusi:
Bukan 1.000 sekolah baru di daerah terpencil yang belum punya akses pendidikan layak.
Bukan rekrut 100.000 guru berkualitas dengan gaji Rp40 juta per bulan yang total biayanya hanya Rp50 triliun atau 7% dari anggaran pendidikan yang ada.
Bukan perpustakaan desa.
Bukan laboratorium sains.
Bukan akses internet untuk sekolah-sekolah yang masih mengajar dengan papan tulis kapur.
Tapi bioskop.
Dan ini logika yang paling sederhana:
Dr. Tirta sudah bilang:
rakyat yang pintar adalah ancaman bagi penguasa yang tidak kompeten.
Karena rakyat yang pintar akan mempertanyakan kebijakan yang tidak ada gunanya.
Ahok sudah bilang:
kebodohan struktural bukan kebetulan. Ini by design. Tidak ada pemerintah otoriter yang ingin punya warga yang benar-benar cerdas.
Mahfud MD sudah bilang:
demokrasi tidak akan berhasil sebelum pendapatan per kapita mencapai 5.500 dolar.
Rakyat yang masih miskin dan tidak berpendidikan pasti menjual suaranya.
Dan sekarang alih-alih memperbaiki pendidikan yang bisa mengubah semua itu DPR mengusulkan membangun bioskop.
Rakyat yang tidak pintar tapi punya bioskop jauh lebih mudah dihibur.
Jauh lebih mudah dialihkan perhatiannya.
Jauh lebih mudah diberi sesuatu yang kelihatan seperti pemberian tanpa benar-benar mengubah kondisinya.
Dan ini yang paling menohok:
Orang desa yang gajinya Rp2-3 juta per bulan yang harga kedelai dan telurnya sudah naik karena rupiah melemah yang anaknya sekolah dengan guru yang mau resign karena gajinya tidak cukup untuk makan
Tidak butuh bioskop.
Mereka butuh guru yang digaji layak supaya anaknya tidak tumbuh dengan IQ 78.
Mereka butuh sekolah yang layak supaya anaknya bisa bersaing.
Mereka butuh sistem pendidikan yang mengajarkan berpikir kritis bukan menghafal untuk ujian.
Karena bioskop tidak mengubah nasib.
Bioskop hanya menghibur orang yang nasibnya tidak berubah.
Dan angkanya bicara sendiri:
1.000 layar bioskop dengan asumsi biaya pembangunan, peralatan, dan operasional bisa menghabiskan ratusan miliar bahkan triliunan rupiah dari APBN.
Uang yang sama bisa dipakai untuk:
menggaji 25.000 guru berkualitas selama satu tahun penuh. Atau membangun ratusan perpustakaan desa dengan koleksi buku yang memadai.
Atau memberikan beasiswa bagi ribuan anak desa yang putus sekolah karena tidak mampu.
Tapi yang diusulkan adalah bioskop.
DPR bukan Dewan Perwakilan Rakyat.
DPR adalah Dewan Penghibur Rakyat.
Rakyat tidak dirancang untuk pintar karena rakyat yang pintar tidak bisa dihibur dengan bioskop.
Rakyat yang pintar akan tanya:
kenapa anggaran pendidikan dipotong tapi ada uang untuk bioskop desa?
Kenapa guru digaji Rp1,5 juta tapi ada dana untuk layar sinema?
Kenapa stunting masih 21% tapi kita bahas distribusi film nasional?
Dan pertanyaan-pertanyaan itu jauh lebih berbahaya bagi mereka yang duduk di kursi DPR daripada rakyat yang diam di depan layar bioskop desa sambil lupa bahwa hidupnya tidak berubah.
Pak anies menang pilkada tapi dapet cap politik identitas sampe sekarang.
Padahal yg maju paling depan nuntut Ahok juga prabowo wkwk
sini gw jelasin satu satu:
1. Sejak 2012 ahok udah sering singgung masalah politik identitas (anies masih rektor), puncaknya ya pas penistaan agama 'al maidah'
2. Yang menunggangi demo, prabowo sama jokowi
3. Yang ikut laporin itu habiburrahman dari gerindra.
4. Yang memberatkan di persidangan, kesaksian dari ma'ruf amin yg kemudian diangkat jadi wapres (politik identitas??)
5. Cuma karna Anies lawannya dan menang, celakanya dia yg harus menanggung semua tuduh2an itu sampe sekarang wkwkwk
DPR: kenapa rupiah melemah walaupun semua instrumen BI sudah dikerahkan?
BI: masalahnya di fiskal
DPR: Gubernur BI mundur saja
Pecah kepala wa dengernya...
bANGKEEE SEDIH BGT ANIES MASUK DEWAN PENASEHAT KOTA RIYADH😭 fuckk indooonnn!! literally our biggest what if
bsbsnya negara lain lebih appreciate blio dibanding negara sendiri😭 and now we’re stuck with the DONGO WOWO as our president
forever fuck uu 58%
dampak pilih persiden anti kritik, ketika ada isu, disepelein bukannya dikaji. that's why don't choose military person, their environment is so sick with seniority
Bukti kuat bahwa negara gak kerja, gak hadir, salah pilih prioritas, bebal, culas, pongah, dan empatinya jatoh.
Kapan terakhir kali kamu liat presiden unggah konten perihal Aceh? Saat sholat ied? Saat diskusi harga sumur bor 150jt dan dianggapnya murah? Atau saat ia berkelakar di atas podium bahwa saat pemilu ia tak memenangkan suara di Sumatera, tetapi mengklaim ia dan pemerintahannya tetap 'mati-matian' untuk proses pemulihan bencana? Kapan?
Inilah Aceh saat ini, masih seperti ini.
Semoga lekas pulih, Aceh. 🥀