Mvs Si gendut jahat itu(lotso), minta bantuan dan lalu meninggalkan orang2 yg menaikkan derajatnya. Yg tertinggal hanya rakyat yg bergandengan tangan saling menguatkan.
Kopdes akan gagal, tau kenapa?
Pemerintah kirain bisnis retail itu asal ada lahan, bangun toko, isi barang, lalu jualan. Kalau pejabat cuma punya kemampuan beli dan ngemeng, mereka beli franchise Alfamart atau Indomaret yang kelihatan memang cuma itu. Punya ruko, dekor-dekor, jualan. Apa sih susahnya?
Padahal bangun toko itu bagian yg paling gampang.
Yang susah itu memastikan barang yang dicari pelanggan selalu ada, harganya bersaing, stoknya nggak busuk di gudang, distribusinya lancar, dan semua itu bisa jalan setiap hari di ribuan lokasi berbeda. Itulah bagian yang selama ini dikerjakan oleh franchisor dan jaringan operasionalnya.
Nah, Kopdes mau masuk ke permainan yang sama tanpa punya persiapan ke semua itu. Kalau beli barang dari agen, harga kalah. Kalau distribusinya nggak efisien, biaya naik. Kalau hasil tani warga dibeli tanpa perencanaan yang bagus, gudang bisa penuh barang yang nggak laku. Belum lagi kalau pengelolanya nggak punya pengalaman retail, stok bisa berantakan dan uang nyangkut di mana-mana.
Yg bikin makin stress, pelatihan yang ditonjolkan justru model militer. Lah, ini kan mau bikin jaringan retail, bukan tim mawar.
Gw nggak pernah lihat Indomaret melatih kepala toko push-up.
Gw nggak pernah lihat Alfamart meningkatkan inventory turnover dengan baris-berbaris.
Gw juga nggak pernah dengar Distribution Center bisa lebih efisien karena pengelolanya jago muter-muterin senapan.
Masalah retail itu forecasting, procurement, inventory management, shrinkage, distribusi, merchandising, cashflow, dan masih banyak lagi. Kalau barang yang dicari nggak ada, pelanggan tetap pergi. Mau sikap sempurna, langkah tegap, atau push-up 100 kali juga tetap pergi.
Pelanggan datang nyari minyak goreng.
"Maaf Bu, stok habis. Tapi saya siap push-up 100 kali."
Makanya menurut gw tantangan terbesar Kopdes bukan membangun tokonya. Membangun toko itu bagian yg gampang (ya meskipun bagian pemilihan lokasi di tengah hutan agak out of the box ya). Dekor-dekor kosmetik gw rasa pemerintah kita udah paling ahlinya. Tantangan sebenarnya adalah membangun system yang membuat toko itu bisa jalan.
Tanpa model operasi yg kuat, kopdes memang bisa berdiri tokonya, tapi bakal jadi bisnis kocak yg bakar duit terus.
Ujungnya apa? Pemborosan anggaran dan jadi lahan basah untuk korupsi.
@tianeuri Pun kalau akhirnya bisa survive ini semua, ntar setelah lulus kuliah jadi orang yg super perfeksionis, kalo gagal bakal super stress karena ga terbiasa gagal/ ga terbiasa gapunya pencapaian, izinn🙏🏼
Kumpulan Logika Pemerintah +62 :
1. Jembatan roboh
Logika yang salah : Bangun jembatan biar gak perlu berenang buat ke sekolah ❌
Logika yang benar : Dikasih kenyang perutnya biar kuat berenang ✅
2. Mobil mogok
Solusi seharusnya : bawa pake towing, benerin di bengkel.
Solusi kocak : penumpang dikasih makan biar kuat dorong mobilnya.
3. Rumah bocor
Seharusnya: renovasi supaya ga bocor
Yang dilakukan: beli jas hujan biar penghuni rumah ga basah
4. Bangunan sekolah runtuh
Logika yang salah : Kasih anggaran untuk bangun sekolah yg ga layak ❌
Logika yang benar : Kasih makan anak murid biar mereka yang bangun sekolahnya ✅
Apalagi guys?
Sering banget liat konten "relawan" mbg sedih dan nangis sama nasibnya. Jadi pengen adu nasib juga ih. Itu guru honorer, nakes upahnya malah kecil. Ada juga kantin2 yg tutup gara2 mbg, kmrn ada yg keracunan ga ada tuh pada minta maaf😹
Aku tuh dah sering dapet paket penyok yang hampir merusak segel kardusnya, tapi karena ini paket pake polymailer jadi keliatan bangett kalo emang sengaja disobek huftttt
Menurut aku si pegawai spx harus stop mental maling. Udahlah paket ga ditulis deskripsi isi nya apa malah dibuka dan nyampe ke aku kondisi gak bersegel. Lagian kepo amat si ya Allahhhh ya Tuhanku
ketika guru-guru dinaikkan gajinya hingga 300% tapi cuma beberapa detik🥹
“karena itu pemerintah saya telah menaikkan gaji-gaji guru. ada yang sampai hampir 300% naiknya penghasilan guru-guru. EEEEE HAKIM-HAKIM KITA.”