@profesor_saham Pendapatan negara aja udah patungan warga, masa kopdes juga harus patungan warga. Ntar giliran keliatan berhasil diklaim pemerentah dengan narasi: Pemerintah telah berhasil menjalankan program kopdes bla bla bla
@txtdrimedia Kok jadi kayak masyarakat yang kritik ini jahat sekali karena mengkritik program yang (seolah-olah) sedang mengatasi kelaparan ekstrem. Kalau semuanya berjalan sebagaimana mestinya, masyarakat pasti apresiasi kok. Dikritik itu evaluasi ya, bukan ngambek terus malah nantangin.
@txtdrimedia Padahal penerima MBG sekarang ini adalah anak-anak yang sehari2nya di rumah ya makan, sebelum ke sekolah ya sarapan dulu. Sebelum ada MBG ya mereka sudah makan pagi siang sore. Yang sebenernya masyarakat kritik itu target programnya yang tidak efisien, tidak tepat sasaran
Kalo ada konten demo lewat diberanda kalian langsung like dan posting ulang!
Jika itupun kalo Kalian peduli dengan kecemasan negara saat ini, dengan melakukan itu secara tidak langsung kita membantu perjuangan temen" yg disana melalui sosial media, karena media terbungkam!
@Navpem Berhasil tidaknya sebuah program itu yang dilihat outputnya, bukan programnya. Misal kopdes, bukan banyak-banyakan bangun kopdes terus dianggap berhasil tapi kebermanfaatan kopdes ini untuk masyarakat. Dan ini paling tidak setahun setelah berdiri baru keliatan manfaatnya -cont
18 tahun. Itu tuntutan jaksa buat seseorang yang udah ngabisin waktu bertahun-tahun mencoba memajukan negara ini. Terlepas dari kamu setuju atau gak sama pandangan politiknya, coba deh renungin baik-baik angka itu.
Ini bukan kejadian yang pertama kali. Indonesia itu punya pola yang diam-diam menghancurkan: orang-orang pinter, kompeten, dan punya niat tulus masuk ke pemerintahan, tapi ujung-ujungnya malah dihancurin sama sistem. Gak selalu karena mereka bersalah, tapi seringnya cuma karena kehadiran mereka "dianggap mengganggu".
Tapi anehnya, kita terus-terusan nyuruh anak-anak muda terbaik kita: "Masuk dong ke pemerintahan. Mengabdi dong buat negara. Bawa perubahan."
Siapa juga yang mau kalau mereka ngelihat langsung kejadian kayak gini di depan mata?
Siapa pun dalang di balik semua ini, mereka sama sekali gak lagi ngelindungin Indonesia. Mereka justru lagi ngajarin satu generasi orang-orang berbakat kalau jalan paling aman itu ya mending diam aja. Atau sekalian pergi ke luar negeri.
Buat yang suka nyinyir, "Ya udah, pergi aja sana!", tolong berhenti nutupin ego kalian dari kenyataan. Banyak kok orang Indonesia yang super cerdas dan bener-bener cinta sama negara ini. Mereka tetap stay di sini. Mereka ngebangun sesuatu. Mereka nyari cara lain buat berkontribusi di luar pemerintahan, karena masuk ke dalam sistemnya itu terlalu bahaya.
Tapi ini realita yang lebih pahit: sehebat apa pun startup, kreator, atau inovator kita di kancah dunia, KALAU pemerintahnya tetap korup dan gila kuasa, KALAU aturannya gak ngelindungin rakyat atau gak ngasih ruang buat industri berkembang dengan sehat, terus kita sebagai masyarakat bisa berharap apa?
Ini momen yang sedih banget buat Indonesia. Bukan cuma karena ada satu orang yang lagi diadili, tapi karena pesan yang ditangkap sama semua orang pintar dan idealis yang lagi ngelihatin kasus ini: bahwa negara ini sepertinya belum siap buat ngelindungin orang-orang yang berani membawa perubahan.
@LambeSahamjja Aku pernah ke suatu negara, terus diceritain sama protokoler KBRI kalau ada kunjungan presiden (khususnya presiden sekarang) urusannya ribet banget, ribettt yang pake bangettttt, raidersnya banyak dan aneh, dan protokolernya terlalu berlebihan
dr @tirta_cipeng : “usaha dulu atau tawakkal dulu?”
aldi taher : “tawakkal dulu, baru dagang”
dr tirta : “rugi tetep bersyukur, untung tetep…?”
aldi : “rugi itu di neraka bang. jadi kalo org usaha/dagang, tiba tiba dia rugi, itu bukan rugi. tapi emg rezekinya segitu. syukuri”
dr tirta : 👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻
padahal udah sering denger ceramah ustadz soal rezeki
tapi entah kenapa, kata kata aldi taher yg kali ini ngena bgt ke hati gue dan berhasil bener bener ngubah perspektif gue soal rezeki wkwkwk 😹