Perisis kayak di film ini
Ini juga yang ngingetin ku sama outcome bias. Orang cenderung menilai usaha dari hasil akhirnya, daripada prosesnya. Akhirnya "nganggur" dianggap bukti kurang usaha, padahal dua orang bisa ngeluarin usaha dengan bobot sama tapi outputnya beda karena faktor "tambahan" lainnya
PERNAHH, bahkan beberapa kali.
padahal sampai sekarang aku juga belum dapat kerja dan job market lagi seburuk ini. awal-awal aku selalu ikut seleksi apa pun karena niatnya sekalian belajar, latihan interview, dan membiasakan diri.
tapi makin ke sini aku mulai berani cut kalau udah lihat RED FLAG. daripada buang waktu, tenaga, dan mental. satu loker aja sekarang bisa 5–7 tahapan😔
beberapa alasan aku gak lanjut:
- tahan ijazah
- review perusahaan di gmaps jelek
- lokasi kurang cocok (terlalu jauh atau rawan)
- testimoni karyawan. pernah nemu MT/ODP yang masa probation gak digaji, gaji gak layak, gaji telat, sistem MT buruk, bahkan libur nasional gak boleh libur
- DENDA. ini yang paling aku pertimbangin. sekarang nominalnya udah gak main-main. perusahaan swasta aja around 150jt, anak bisnisnya 75 juta, bumn 200 juta (cmiiw, ini range MT yang pernah aku ikuti). kalau ternyata gak cocok karena faktor internal atau eksternal, rasanya kayak TERJEBAK!!!
- terakhir, capek aja. pernah seminggu ada 5 interview, jadi kalau prosesnya terlalu panjang dan dari awal udah gak sreg, sekarang aku pilih cut…
mungkin aku emang pemilih. tapi buatku, salah pilih perusahaan bisa lebih mahal daripada nunggu sedikit lebih lama…🥲
Terima kasih telah melamar dan menunjukkan ketertarikan terhadap posisi ini. Setelah kami pertimbangkan, saat ini kami belum bisa melanjutkan proses ke tahap berikutnya. Kami menghargai waktu dan usaha yang Anda luangkan, dan semoga sukses dalam pencarian pekerjaan Anda ke depan.
orang cuma lihat hasilnya: “belum kerja.”
nggak ada yang lihat berapa banyak lowongan yang udah di-apply, berapa kali ditolak, di-ghosting HR, atau harus mulai lagi dari nol. jadi kalau nggak tahu prosesnya, tolong jangan gampang bilang aku nggak ada usaha. 😂🥹🩷
guysss wts sepatu new balance 9060, ukuran 37. normalnya masih 2,6jt, aku jual 1,4jt ajaa karna dapet voucher zalora (nego by dm). beli salah ukuran, kekecilan. ongkir aku yg tanggung gapapaaa asal masih sekitar jatim dan jabodetabek🥹🥹
#wts
Beberapa tahun terakhir, aku pakai CV yang mengacu ke panduan Harvard Career Services.
Bagian Experience di CV juga aku adaptasi ke LinkedIn, sehingga beberapa kali aku di-reach out HR via LinkedIn.
Disclaimer: Apakah itu semata-mata karena format CV? Belum tentu. Proses rekrutmen dipengaruhi banyak faktor seperti pengalaman, profil LinkedIn, industri, networking, timing, kebutuhan perusahaan, dll.
Di thread ini aku bahas:
- Template CV Harvard
- Cara menyusun section pengalaman
- Kapan harus pakai angka (dan kalau ga punya angka gimana)
- Kenapa LinkedIn-ku sengaja mirip dengan CV
- Prompt AI yang kupakai untuk review resume
Gue takut banget masuk ke fase "bawaannya pengen tidur terus" lagi. Biasanya ini jadi tanda awal kalau gue lagi mulai lost, ngerasa kosong, dan pengen ngejauh dari semua orang. Gue nggak mau masuk ke fase itu lagi, please. Gue nggak mau kehilangan diri gue sendiri untuk kedua kalinya. 😔
Semoga kita semua selalu kuat dan bisa menang ngelawan semua hal yang selama ini cuma dipendem sendiri, yang nggak pernah kita ceritain ke siapa pun. Sending big hugs buat kalian semua
💙 Untuk orang tua ku, maaf yah sudah ngabisin uang banyak buat pendidikan ku sampai s1. tapi aku gagal dapat pekerjaan sejak lulus sampe sekarang. mau bilang langsung aku gak berani ehe 🥹
apply loker → isi data panjang 😭
online test → belajar lagi 😭
FGD/LGD → muter otak 😭
interview → riset & latihan 😭
MCU → puasa, jarum, buka pakaian 😭
dan itu semua berlaku untuk SEMUA loker… sekarang bayangin kalau apply-nya ratusan…
JYUJYUR HAYATI LELAH🙂🙂🙂
*tapi akan tetap kulanjutkan apply-apply brutal itu…